
Ratusan kapal tanker minyak dan gas terjebak di kawasan Teluk dan sekitar Selat Hormuz setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Sebanyak 150 kapal tanker minyak mentah dan produk turunannya berhenti di perairan terbuka Teluk, sementara sekitar 100 kapal lainnya menunggu di dekat pesisir Uni Emirat Arab dan Oman, di luar Selat Hormuz. Peristiwa ini terjadi setelah serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian diikuti oleh pengumuman Teheran tentang penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Beberapa perusahaan pelayaran besar langsung menghentikan operasinya di kawasan tersebut. Perusahaan Jepang seperti Nippon Yusen, Mitsui O.S.K. Lines, dan Kawasaki Kisen Kaisha memberi instruksi kepada kapal-kapal mereka untuk tidak melewati Selat Hormuz dan tetap berada di perairan aman. Mereka menegaskan bahwa keselamatan awak, kapal, dan muatan adalah prioritas utama. Perusahaan-perusahaan itu juga menyatakan tidak akan mengirim kapal tambahan ke kawasan hingga situasi stabil.
“Kami menahan diri untuk tidak berlayar melalui Selat Hormuz, dan kapal-kapal kami telah diinstruksikan untuk tetap berada di perairan yang aman,” kata seorang juru bicara Nippon Yusen.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit yang memisahkan Iran dan Oman, sekaligus menjadi salah satu jalur distribusi minyak tersibuk di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut, selain volume besar gas alam cair (LNG). Menurut data Badan Informasi Energi Amerika Serikat pada 2024, sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari tercatat melintasi jalur ini.
Kepadatan Kapal
Sumber-sumber perdagangan menyebut sejumlah perusahaan minyak, pemilik tanker, dan perusahaan dagang besar telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG melalui Selat Hormuz. Citra satelit dari sistem pelacakan kapal menunjukkan penumpukan tanker di dekat pelabuhan utama seperti Fujairah di Uni Emirat Arab, tanpa pergerakan menuju selat.
Pejabat dari misi keamanan maritim Uni Eropa Aspides mengatakan kepada Reuters bahwa banyak kapal menerima siaran radio dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz. “Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz,” katanya.
Kapal Diminta Berhenti Hati-hati
Meski demikian, Angkatan Laut Inggris menyebut perintah Iran tersebut tidak mengikat secara hukum, namun tetap menyarankan kapal-kapal melintas dengan sangat hati-hati. Asosiasi pemilik kapal tanker internasional (Intertanko) juga mengungkap bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat telah memperingatkan risiko pelayaran di kawasan operasi yang mencakup Teluk, Teluk Oman, Laut Arab bagian utara, dan Selat Hormuz. Yunani melalui kementerian perkapalannya turut mengimbau kapal-kapal untuk menghindari kawasan tersebut.
Sejumlah perusahaan pelayaran global ikut mengambil langkah antisipatif. Perusahaan Jerman Hapag-Lloyd menangguhkan seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Raksasa pelayaran Denmark Maersk menyatakan tengah berkoordinasi dengan mitra keamanan terkait operasi di Laut Merah dan Teluk Aden, meskipun penerimaan kargo di Timur Tengah masih berjalan. Sementara perusahaan Prancis CMA CGM mengarahkan kapal-kapalnya menuju lokasi aman.
Di sektor LNG, analis Kpler Laura Page menyebut setidaknya 14 kapal LNG tanpa muatan telah memperlambat kecepatan, mengubah rute, atau berhenti di sekitar selat. Ia memperkirakan jumlah tersebut kemungkinan akan meningkat dalam beberapa hari ke depan.





