169 Tewas dalam Serangan di Sudan Selatan

Aa1xogqo
Aa1xogqo

Serangan Brutal di Wilayah Administratif Ruweng, Sudan Selatan

Sebuah serangan yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka terjadi di sebuah kota di Wilayah Administratif Ruweng, Sudan Selatan. Menurut informasi yang diperoleh, sedikitnya 169 orang tewas dan 50 lainnya mengalami luka-luka akibat aksi kelompok bersenjata. Menteri Informasi wilayah tersebut, James Monyluak Mijok, menyampaikan bahwa puluhan pemuda tak dikenal dari Kabupaten Mayom, negara bagian Unity, menyerbu Kabupaten Abiemnhom pada dini hari hari Minggu (1/3/2026). Mereka juga membakar pasar dan rumah-rumah warga. Di antara korban tewas terdapat 82 anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia.

“Saya dengan sedih ingin memberitahukan bahwa di antara mereka yang tewas terdapat komisioner kabupaten dan direktur eksekutif,” ujar Mijok, sambil menambahkan bahwa jumlah korban kemungkinan akan bertambah.

Bentrokan Berlangsung Selama 3 hingga 4 Jam

Bentrokan berlangsung selama 3-4 jam sebelum tentara berhasil memukul mundur para penyerang dari wilayah tersebut. Otoritas Abiemnhom kini telah kembali memegang kendali penuh. Pemerintah Wilayah Administratif Ruweng (GRAA) mengutuk keras tindakan biadab dan kebijakan pemusnahan ini. Pembantaian terhadap manusia ini setara dengan genosida dan tidak dapat ditoleransi.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mijok kepada Anadolu, seraya mendesak pemerintah Negara Bagian Unity untuk menindak tegas para pelaku. Sementara itu, Elizabeth Achol, menteri kesehatan di Ruweng utara, mengatakan sebanyak 169 korban tewas telah dimakamkan secara massal pada Senin (2/3/2026).

26 Staf MSF Hilang Akibat Meningkatnya Kekerasan di Jonglei

Pada Minggu, Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Sudan Selatan (UNMISS) menyampaikan kekhawatirannya atas meningkatnya kekerasan di Abiemnhom dalam 48 jam terakhir. “Pagi ini, pemuda bersenjata tak dikenal menyerang kantor pusat Kabupaten Abiemnom dan melukai sekitar 23 orang. Menanggapi memburuknya situasi keamanan, pasukan penjaga perdamaian untuk sementara menampung lebih dari 1.000 warga sipil di dalam pangkalan UNMISS di wilayah tersebut serta memberikan perawatan medis darurat kepada para korban luka,” demikian pernyataan UNMISS.

Dilansir dari Al Jazeera, Dokter Lintas Batas (MSF), pada Senin, juga melaporkan bahwa 26 stafnya hilang setelah meningkatnya kekerasan di negara bagian Jonglei dalam beberapa pekan terakhir. “Sebanyak 26 dari 291 rekan MSF yang bekerja di Lankien dan Pieri masih belum diketahui keberadaannya setelah kekerasan baru-baru ini, dan kami kehilangan kontak dengan mereka di tengah situasi keamanan yang terus berlanjut,” kata MSF dalam sebuah pernyataan. Kelompok bantuan medis itu telah menangguhkan layanan di Lankien dan Pieri. Kedua wilayah tersebut berada di Jonglei, yang telah dilanda bentrokan besar-besaran antara pasukan pemerintah dan oposisi sejak Desember 2025.

Sudan Selatan Dibayangi Perang Saudara, Kemiskinan, dan Korupsi

Sudan Selatan, negara termuda di dunia, telah dilanda perang saudara, kemiskinan, dan korupsi besar-besaran sejak berdiri pada 2011. Ketidakstabilan semakin mendalam sejak mantan Wakil Presiden Pertama Riek Machar ditangkap tahun lalu. Pada 2018, Presiden Salva Kiir menandatangani perjanjian damai dengan Machar untuk mengakhiri 5 tahun perang saudara yang telah menewaskan sekitar 400 ribu orang. Namun, implementasi kesepakatan tersebut berjalan lambat, dan pihak-pihak yang berseberangan kerap terlibat bentrokan akibat perbedaan pandangan mengenai pembagian kekuasaan.

Pos terkait