2–4 Maret 2026, Bendera Setengah Tiang Berkibar untuk Mengenang Try Sutrisno

20110810020451bendera090811 1
20110810020451bendera090811 1

Pemerintah Menginstruksikan Pengibaran Bendera Merah Putih Setengah Tiang

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan instruksi untuk mengibarkan Bendera Merah Putih setengah tiang selama tiga hari berturut-turut, mulai tanggal 2 hingga 4 Maret 2026. Instruksi ini dikeluarkan sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Try Sutrisno meninggal pada Senin (2/3/2026) pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Ia berusia 90 tahun saat wafat. Instruksi tersebut disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi melalui Surat Nomor: B-02/M/S/TU.00.00/03/2026 yang ditujukan kepada para pimpinan lembaga negara, Gubernur Bank Indonesia, Menteri Kabinet Merah Putih, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, serta berbagai instansi pemerintah lainnya.

“Dimohon untuk mengibarkan Bendera Negara setengah tiang di seluruh pelosok tanah air selama tiga hari berturut-turut terhitung mulai tanggal 2 s.d. 4 Maret 2026,” tulis Prasetyo dalam surat yang ditandatangani pada 2 Maret 2026.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan periode 2 sampai dengan 4 Maret 2026 sebagai Hari Berkabung Nasional. Dalam surat tersebut, Menteri Sekretaris Negara menyatakan bahwa masa tersebut menjadi waktu berkabung nasional.

Profil Wakil Presiden ke-6 RI

Kabar kepergian Try Sutrisno menyebar cepat dan mengejutkan banyak pihak. Mantan Wakil Presiden RI tersebut meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa yang pernah ia layani sepanjang hidupnya baik sebagai prajurit di medan militer maupun sebagai pejabat tinggi negara.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi mengenai riwayat penyakit yang diderita almarhum. Namun kabar duka tersebut telah dikonfirmasi oleh pihak kredibel. Mantan Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Albertus Budi Sulistya, membenarkan informasi wafatnya Try Sutrisno saat dihubungi awak media.

“Wapres Ke-6 RI Jenderal TNI Purn Try Sutrisno wafat Senin, 2 Maret 2026 pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Pernyataan tersebut menjadi penegasan resmi atas berpulangnya salah satu figur sentral dalam sejarah kepemimpinan nasional seorang jenderal yang pernah memegang tongkat komando sebagai Panglima ABRI dan kemudian mendampingi Presiden Soeharto di kursi wakil presiden.

Jejak Panjang Seorang Prajurit dan Negarawan

Sebagai Jenderal TNI (Purn), Try Sutrisno dikenal luas sebagai figur disiplin, tegas, dan loyal terhadap konstitusi. Karier militernya mencapai puncak saat ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, mendampingi Presiden di masa transisi penting bangsa.

Kepergian Try Sutrisno bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga warisan nilai kepemimpinan, pengabdian, dan kesetiaan pada negara yang akan terus dikenang oleh generasi penerus.

Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 15 November 1935. Ayahnya, Subandi adalah seorang sopir ambulans, sedangkan ibunya, Mardiyah adalah seorang ibu rumah tangga. Ia menamatkan pendidikan dasar dan menengahnya di Surabaya. Setelah tamat dari SMP 2 Surabaya, ia kemudian melanjutkan ke SMA 2 Surabaya.

Riwayat Karier

  • Ajudan Presiden Suharto (1974)
  • Kepala Staf KODAM XVI/Udayana (1978)
  • Panglima KODAM IV/Sriwijaya (1979)
  • Panglima KODAM V/Jaya (1982)
  • Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (1985)
  • Kepala Staf Angkatan Darat (1986)
  • Panglima ABRI (1988)
  • Wakil Presiden (1993-1998)

Pengalaman militer pertama Try Sutrisno adalah ketika ia ditugaskan dalam peperangan melawan pemberontak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1957. PRRI sendiri merupakan sebuah kelompok sparatis yang berbasis di Sumatera, dimana mereka ingin membentuk pemerintahan alternatif di luar pemerintahan Soekarno.

Ia kemudian dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat pada tahun 1972. Kemudian pada 1974, ia terpilih menjadi ajudan Presiden Suharto. Sejak saat itulah kariernya di militer terus meroket.

Pada 1978, Try diangkat sebagai Kepala Staf KODAM XVI/Udayana. Setahun beselang, Try kemudian menjadi Panglima KODAM IV/Sriwijaya. Sebagai Pangdam, Try Sutriso aktif menekan tingkat kejahatan serta menghentikan penyelundupan timah. Ia juga aktif di kampanye lingkungan untuk mengembalikan Gajah Sumatera ke habitat asli mereka.

Pada 1982, Try kemudian dipindahkan ke Jakarta, ia diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya. Masa-masa ketika ia menjadi Pangdam V/Jaya menjadi salah satu masa kelam dalam hidupnya. Try Sutrisno bersama Panglima ABRI saat itu, Benny Moerdani adalah tokoh utama dalam tragedi Tanjung Priok 1984.

Sampai saat ini belum ada data pasti terkait jumlah korban dalam tragedi tersebut. Pemerintah mengklaim ada 28 orang yang tewas dalam kerusuhan tersebut, namun dari pihak korban tetap bersikeras bahwa jumlah korban yang tewas ada 700 orang.

Kendati demikian, kariernya terus berkembang. Pada 1985, ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Hanya berselang setahun, pada 1986, ia diangkat sebagai KSAD. Try menjabat sebagai KSAD selama dua tahun.

Setelah lengser, pada 1988 ia kemudian diangkat menjadi Panglima ABRI. Jabatan ini merupakan puncak kariernya di militer. Masa jabatannya sebagai Panglima ABRI berakhir pada 1993.

Kendati demikian, bukan berarti kariernya berhenti sepenuhnya. Di tahun yang sama, pada 1993 ia justru diangkat menjadi wakil presiden mendampingi Soeharto. Sebagai wakil presiden yang ke-6, Tri mendampingi Suharto sampai 1998 sebelum posisinya digantikan oleh B. J. Habibie menjelang reformasi.

Setelah jabatannya sebagai wakil presiden selesai, Try tidak serta merta melepaskan perhatiannya terhadap keadaan bangsa. Ia tetap aktif menyoroti kinerja pemerintahan.


Pos terkait