20 Ribu Produk Herbal dan Kosmetik Beredar, Hanya Puluhan yang Dikaji Ilmiah

20230702104940
20230702104940

Kepala BPOM: Hanya Sedikit Produk Herbal yang Melalui Uji Ilmiah

Dari sekitar 20.000 produk herbal yang beredar di Indonesia, hanya sedikit yang telah melalui tahapan riset hingga uji klinis atau memiliki status obat herbal terstandar. Hal ini menjadi perhatian serius dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar.

Pada kegiatan Nosé Innovation Day di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (23/2/2026), Taruna menekankan pentingnya meningkatkan riset ilmiah pada produk herbal dan kosmetik berbasis tanaman lokal. Menurutnya, jumlah produk yang memenuhi standar ilmiah masih sangat rendah.

“Dari lebih 20.000 produk herbal yang telah mengantongi izin edar, hanya sekitar 71 hingga 91 produk yang telah melalui tahapan riset hingga uji klinis atau berstatus obat herbal terstandar,” jelas Taruna. Ia menambahkan bahwa angka tersebut masih kurang dari 1 persen, yang artinya belum cukup untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat produk secara ilmiah.

Pentingnya Uji Klinis dan Regulasi Modern

Meskipun beberapa produk seperti jamu telah digunakan turun-temurun, keamanan dan mutu tetap perlu dibuktikan melalui standar regulasi modern dan penelitian ilmiah. Proses pengujian keamanan biasanya dilakukan melalui uji toksisitas akut dan kronis pada tahap pra klinis, sebelum dilanjutkan ke tahap klinis pada manusia. Tujuannya adalah memastikan bahwa produk aman, bermutu, serta memiliki khasiat yang terukur secara ilmiah.

Taruna juga menyambut baik inisiatif penguatan fasilitas riset dan kolaborasi lintas sektor, termasuk pendirian pusat inovasi oleh pelaku industri. Ia menilai hal ini dapat mempercepat proses pengembangan produk berbasis penelitian.

Penguatan Ekosistem Inovasi Nasional

Dengan peningkatan jumlah produk yang berbasis riset, industri herbal dan kosmetik nasional dapat memperkuat kredibilitas dan daya saing di tingkat global. “Akhirnya industri kosmetik dan herbal Indonesia semakin kuat dari sisi regulasi, mutu, dan kepercayaan publik,” ujar Taruna.

Dalam kesempatan yang sama, Taruna meresmikan Nosé Innovation Center sebagai pusat kolaborasi riset lintas sektor. Rangkaian kegiatan juga mencakup pameran hasil riset ekstrak tanaman lokal yang dikembangkan bersama universitas dan mitra industri, serta pengenalan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Peran Universitas dalam Pengembangan Produk Lokal

Vice-CEO PT Nosé Herbal Indo, Sri Rahayu Widya Ningrum, menyatakan bahwa forum tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem inovasi nasional dan mendorong pengembangan produk berbasis bahan lokal yang memenuhi standar mutu dan regulasi.

Dari sisi universitas, akademisi dari Universitas Mulawarman, Prof Enos Tangke Arung, mengungkapkan harapan agar hasil riset kampus tidak berhenti sebatas publikasi ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan nyata melalui kerja sama dengan dunia industri.

Menurutnya, pemerintah berperan penting dalam mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan perusahaan. “Riset kampus jangan hanya berujung pada jurnal, artikel, atau majalah. Harus bisa diimplementasikan melalui perusahaan dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.




Pos terkait