Berita Populer: Sosok Baru, Jejak Sejarah, dan Kisah Inspiratif
Berita populer minggu ini menghadirkan tiga kisah menarik yang mencerminkan dinamika kehidupan masyarakat Gorontalo. Mulai dari sosok Ramlan Amrain yang resmi menjabat sebagai Lurah Tenilo, hingga masjid tertua di Gorontalo, dan kisah seorang kakek yang tetap produktif menjual gulali tradisional.
1. Ramlan Amrain, Lurah Tenilo yang Baru Dilantik
Ramlan Amrain resmi menjabat sebagai Lurah Tenilo, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Ia dilantik oleh Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, di Aula BKPSDM Kabupaten Gorontalo, Jumat (27/2/2026).
Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, sebuah sekolah kedinasan bergengsi di bawah naungan Kementerian Sosial RI, Ramlan Amrain memiliki latar belakang pendidikan yang kuat. Ia menyebut dirinya “adik leting” dari mantan Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie.
Perjalanan hidup Ramlan menuju kursi birokrasi tidak instan. Lahir di Gorontalo pada 7 Juni 1981, ia menghabiskan masa kecilnya di Isimu dan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. Meskipun awalnya ingin menjadi anggota TNI, Ramlan memilih jalur administrasi pemerintahan.
2. Masjid Sabilulhuda ‘Boki Owutango’, Jejak Islam yang Tua

Masjid Besar Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ berdiri di persimpangan Jalan Raja Eyato, Jalan Samudera Pasai, dan Jalan Kutai, Kelurahan Tamalate, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo.
Bangunan masjid ini tampak kokoh dengan sentuhan arsitektur klasik yang masih dipertahankan. Namun, di balik kesan megahnya, tersimpan kisah panjang tentang awal masuknya Islam di Gorontalo.
Menurut Ketua Takmirul Masjid Besar Sabilulhuda ‘Boki Owutango’, Rustam Yahya, masjid ini didirikan pada 1525 Masehi atau 946 Hijriah. Penetapan tahun tersebut bukan sekadar cerita turun-temurun. Saat renovasi masjid, ditemukan petunjuk penting.
Ketika pekerja membongkar bagian atas atap, ditemukan semacam payung kayu. Payung kayu tersebut disebut sebagai satu-satunya yang ada di Gorontalo. Pada ukiran kayu itu tertera tahun pembangunan masjid.
3. Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun yang Tetap Produktif

Ibrahim Pakaya, kakek berusia 71 tahun, duduk dengan tenang di balik gerobak hijaunya saat matahari mulai condong ke barat di kawasan Kalimadu, Kota Tengah, Kota Gorontalo.
Pria yang akrab disapa Opa Bura ini sedang menarik adonan gula merah muda yang perlahan mengeras di tangannya. Di tengah kepungan jajanan modern, Opa Bura tetap setia menjajarkan gulali tradisional demi menjaga kemandirian di usia senja.
Gulali adalah sebutan untuk jajanan tradisional khas Indonesia yang bahan utamanya terbuat dari gula (biasanya gula pasir atau gula merah) yang dilelehkan hingga mengental dan elastis. Jajanan ini sangat populer di kalangan anak-anak, terutama karena bentuknya yang unik dan warnanya yang mencolok.
Sejak tahun 2012, Opa Bura menekuni profesi sebagai penjual gulali. Meskipun kedua anaknya telah berkeluarga dan mapan, warga Kelurahan Molosifat U ini menolak untuk sekadar berdiam diri di rumah.





