Dampak Perang Israel-Amerika Serikat vs Iran terhadap Ekonomi Indonesia
Perang antara Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran telah memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk di Indonesia. Tensi yang meningkat di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada negara-negara tetangga, tetapi juga menimbulkan risiko domino bagi perekonomian Indonesia. Berikut adalah lima dampak utama perang tersebut terhadap Indonesia:
1. Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Energi
Perang di kawasan Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah secara signifikan. Direktur Celios, Nailul Huda, mengatakan bahwa harga minyak Brent telah mencapai US$ 73 per barel dari sebelumnya US$ 65 per barel di awal Februari. Jika situasi terus memburuk, harga minyak bisa menyentuh US$ 120 per barel seperti ketika Rusia menyerang Ukraina.
Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dunia, akan mengurangi pasokan minyak global hingga 20 persen. Hal ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah yang tidak terkendali.
2. Gangguan Jalur Perdagangan dan Distribusi Ekspor-Impor
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dan barang global. Penutupan jalur ini dapat menghambat arus kapal dagang, sehingga kelancaran distribusi barang impor dan ekspor Indonesia berpotensi terganggu.
Selain itu, potensi gangguan di Bab el-Mandab akibat keterlibatan kelompok Houthi juga membuka risiko tersendatnya arus perdagangan melalui Terusan Suez dan Mesir. Kapal-kapal terpaksa memutar lewat Afrika, yang memicu kenaikan ongkos logistik dan harga barang.
3. Ancaman Pembengkakan Subsidi Energi dan Beban Fiskal
Lonjakan harga minyak akan membebani anggaran subsidi BBM pemerintah. Nailul Huda mengingatkan bahwa jika tidak ada realokasi anggaran, anggaran subsidi energi bisa jebol. Pemerintah juga kesulitan mengandalkan penerimaan negara di tengah ketidakpastian global.
Opsi penambahan utang dinilai tidak mudah, mengingat lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan S&P sebelumnya menyoroti kualitas pengelolaan fiskal Indonesia.
4. Kenaikan Biaya Logistik dan Premi Asuransi
Kenaikan harga energi akan mendorong biaya freight dan premi asuransi, yang berdampak pada pelaku usaha berorientasi ekspor maupun yang bergantung pada bahan baku impor. Harga impor akan naik dan bisa menyebabkan imported inflation.
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menyebut kenaikan harga minyak akibat gangguan Selat Hormuz akan memengaruhi harga solar domestik, komponen utama biaya operasional transportasi darat.
5. Efek Domino pada Kenaikan Harga Bahan Pokok
Setijadi menjelaskan bahwa dengan porsi BBM mencapai 40 persen dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar akan langsung diterjemahkan ke ongkos angkut. Misalnya, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5 persen sampai 4 persen.
Dengan struktur biaya logistik nasional yang sekitar 14 persen dari harga produk, kenaikan ongkos angkut di atas 10 persen bisa mendorong harga barang mendekati 0,8 persen, terutama pada komoditas pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi bermargin tipis.
Sikap Indonesia dalam Menghadapi Krisis
Sebelumnya, Presiden RI, Prabowo Subianto, menyatakan siap terbang ke Teheran untuk menjadi juru damai antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri, Indonesia mengajukan diri sebagai fasilitator dialog para pihak yang berkonflik.
“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi,” tulis Kementerian Luar Negeri RI dalam pernyataannya.
Indonesia menyesalkan kegagalan perundingan AS dengan Iran yang menyebabkan konflik bersenjata kembali meletus. Kementerian Luar Negeri pun menyerukan agar semua pihak yang terlibat menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi.





