5 Fakta Menarik Antakya, Kota Bersejarah Kristen

Aa1wpfhm
Aa1wpfhm

Sejarah dan Keunikan Kota Antakya di Turki

Turki adalah negara yang terletak di persimpangan dua benua besar, yaitu Asia dan Eropa. Letak geografisnya membuat Turki menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa, seperti Yunani, Romawi, dan Arab. Selain Istanbul sebagai ibukota Romawi Timur, ada kota bersejarah lainnya di Turki yang juga sangat menarik yaitu Antakya.

Antakya terletak di bagian selatan Turki dan dekat dengan perbatasan Suriah. Kota ini merupakan ibukota Provinsi Hatay. Dulu dikenal sebagai Antioch, Antakya menjadi salah satu tujuan wisata populer karena kekayaan budaya, sejarah, serta keindahan pantai dan pemandangan pegunungan. Artikel ini akan mengulas beberapa fakta sejarah Antakya sebagai sebuah kota yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun.

1. Awal Mula Pemukiman Bangsa Yunani

Pada masa pemerintahan Alexander the Great, setelah ia meninggal pada 323 SM, para jenderal dan kerabatnya saling memperebutkan wilayah yang dikuasainya. Salah satu jenderal yang terlibat dalam perebutan kekuasaan ini adalah Seleucus I Nicator. Setelah serangkaian konflik, Seleucus I mendirikan Kerajaan Seleukia pada 306 SM dengan ibukota di Seleukia di tepian Sungai Tigris. Namun, pada 300 SM, ia memindahkan ibukota ke Antakya, yang terletak di tepian Sungai Orontes.

Penamaan Antakya atau Antioch diambil dari nama ayah Seleucus I, yaitu Antiochus. Pemindahan ibukota ini dilakukan sebagai strategi untuk mendapatkan tambahan pasukan dari bangsa Yunani. Lokasi Antakya yang berhadapan langsung dengan Laut Mediterania membuatnya lebih dekat bagi bangsa asli Yunani dibandingkan kawasan Seleukia di Babylonia.

2. Masa Kejayaan di Bawah Kekaisaran Romawi

Selama lebih dari dua abad, Antakya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Seleukia. Kota ini menjadi titik terakhir jalur perdagangan barang dari seluruh wilayah Asia sebelum menyeberangi Laut Mediterania. Karena lokasinya yang strategis, Republik Romawi mengambil alih Antakya dari Kerajaan Seleukia pada 64 SM.

Di bawah kepemimpinan Pompey the Great, Antakya menjadi ibukota dari Provinsi Syria-Romawi. Meskipun Republik Romawi runtuh dan digantikan oleh Kekaisaran Romawi, Antakya tetap menjadi kota penting dan bahkan menjadi kota romawi termaju setelah Roma dan Alexandria. Kemajuan Antakya dapat terlihat dari pembangunan aneka kuil megah, kolam pemandian, bendungan, dan amfiteater.

3. Gempa Bumi yang Mengguncang Antakya

Meskipun menjadi salah satu kota romawi termaju, Antakya tidak bisa menandingi kemajuan Roma dan Alexandria. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis yang rentan gempa bumi. Antakya terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Arab, Afrika, dan Anatolia.

Sejarah mencatat bahwa gempa bumi pertama terjadi pada 115 M, saat pemerintahan Kaisar Trajan. Pada 526 M, Antakya kembali diguncang gempa bumi besar yang menghancurkan pelabuhan dan berbagai bangunan publik. Beberapa kejadian gempa bumi juga terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius, Caligula, Hadrian, dan Diocletian.

4. Asal Usul Istilah “Christian”

Antakya merupakan tempat penting dalam sejarah awal agama Kristen. Konon, kota ini menjadi tujuan eksodus para pengikut Yesus dari Yerusalem. Sejarah menyebut Santo Petrus sebagai tokoh penting dalam penyebaran awal agama Kristen di Antakya.

Meski tidak ada tahun pasti tentang kedatangan Santo Petrus di Antakya, agama Kristen diperkirakan sudah ada di sana antara tahun 29-40 M. Istilah “Christian” pertama kali muncul di kota ini. Kata ini berasal dari campuran budaya bangsa Yunani dan Romawi yang telah lama tinggal di Antakya. “Christos” adalah istilah Yunani untuk gelar messiah atau juru selamat milik Yesus, sedangkan akhiran “-ian” berasal dari “-ianus” yang berarti pengikut dalam bahasa Latin dan Yunani.

5. Saint Peter Church sebagai Saksi Perjuangan Agama Kristen

Meski menjadi tujuan awal penyebaran agama Kristen, perjuangan Santo Petrus di Antakya tidak mudah. Kota ini didominasi oleh kaum pagan dari bangsa Yunani dan Romawi. Kristen, sebagai agama monoteistik, tidak mudah diterima oleh penduduk setempat.

Karena ancaman, Santo Petrus dan para pengikutnya harus beribadah secara sembunyi-sembunyi. Mereka menjadikan gua di Antakya sebagai tempat perkumpulan rahasia. Saint Peter Church di Antakya dikenal sebagai salah satu gereja tertua dalam sejarah Kekristenan.

Gempa bumi besar kembali terjadi di Antakya pada tahun 2023 dengan kekuatan 7,8 SR. Gempa tersebut meluluhlantakkan banyak bangunan, termasuk situs-situs bersejarah. Menurut data dari Middle East Eye, lebih dari 200 ribu penduduk Antakya masih tinggal di rumah kontainer sambil menunggu proses pembangunan kota pasca-gempa.

Pos terkait