Spesies Mamalia Bertanduk yang Menghuni Pegunungan
Banyak spesies mamalia bertanduk dapat ditemukan di berbagai habitat, mulai dari hutan, savana, kebun, padang rumput, hingga pegunungan. Salah satu contohnya adalah Tragelaphus buxtoni atau nyala gunung. Hewan ini tinggal di daerah pegunungan dan memiliki kemampuan untuk melompati bebatuan dengan mudah. Ukurannya cukup besar, dan tanduknya menjulang tinggi.
Sayangnya, populasi nyala gunung semakin menurun dan hewan ini termasuk dalam kategori terancam. Nyala gunung merupakan hewan yang takut pada manusia, sehingga jarang ditemui. Karena sifatnya yang pemalu, banyak orang tidak tahu tentang keberadaan, kehidupan, dan kebiasaan nyala gunung. Padahal, nyala gunung adalah hewan eksotis yang memiliki banyak fakta menarik. Berikut beberapa fakta unik tentang nyala gunung:
Punya Dimorfisme Seksual yang Mencolok
Dimorfisme seksual merujuk pada perbedaan penampilan antara individu jantan dan betina. Seperti mamalia bertanduk lainnya, nyala gunung juga memiliki dimorfisme seksual yang jelas. Individu jantan memiliki tanduk yang besar, panjang, dan menjulang ke atas. Sementara itu, individu betina tidak memiliki tanduk. Jantan lebih besar, dengan panjang sekitar 2,4-2,6 meter dan bobot mencapai 180-300 kilogram. Betina memiliki ukuran lebih kecil, yaitu sekitar 1,9-2 meter dengan bobot 150-200 kilogram.
Menghindari Manusia

Nyala gunung adalah hewan yang sangat pemalu dan sulit ditemui. Ia takut pada manusia dan akan langsung kabur jika mendeteksi kehadiran manusia. Oleh karena itu, nyala gunung lebih aktif pada malam hari. Di malam hari, ia berkelana di pinggiran hutan, padang rumput, dan area berkayu. Saat suhu ekstrem, ia akan bersembunyi di hutan dan area berkayu yang tertutup agar tidak kepanasan atau kedinginan. Seperti mamalia bertanduk lainnya, nyala gunung hidup berkelompok, biasanya terdiri dari 4-3 individu. Setiap kelompok saling menjaga dan mencari makan bersama.
Wilayah Jelajahnya Luas

Menurut artikel di jurnal Oryx, wilayah jelajah nyala gunung bisa mencapai 15-20 kilometer persegi, terutama pada musim panas. Individu jantan tidak teritorial dan jarang bertarung dengan sesamanya. Mereka memperbolehkan individu jantan lain untuk mencari makan di area yang sama. Nyala gunung juga cenderung pendiam dan tidak sering mengeluarkan suara. Namun, terkadang ia akan mengeluarkan suara rendah jika mendeteksi kehadiran predator.
Hanya Menghuni Satu Daerah Terpencil

Dulu, nyala gunung dapat ditemukan di berbagai wilayah Ethiopia selatan. Namun, sekarang penyebarannya sudah menyempit secara drastis. Hewan ini hanya dapat ditemukan di dua daerah, yaitu Pegunungan Arussi dan Bale. Kedua daerah ini terletak di Provinsi Oromia, Ethiopia selatan. Area potensial yang bisa dihuni oleh nyala gunung sekitar 5.200 kilometer persegi. Sayangnya, kerusakan habitat dan aktivitas manusia membuat habitatnya semakin sempit. Hal ini menyebabkan nyala gunung masuk dalam kategori “terancam” (endangered).
Mulai Kawin pada Usia 2 Tahun

Menurut sumber iNaturalist, nyala gunung sudah bisa kawin saat berusia 2 tahun. Hewan ini memiliki kebiasaan polygyny, artinya satu jantan bisa kawin dengan banyak betina. Perkawinan bisa terjadi sepanjang tahun, dengan puncaknya pada bulan Desember. Saat kawin, individu dewasa akan membentuk kelompok. Setelah kawin, nyala gunung akan hamil selama delapan hingga sembilan bulan, mirip dengan manusia. Ia menjadi induk yang baik dan akan menjaga anak-anaknya selama dua tahun. Anak-anak ini akan hidup mandiri setelah berusia dua tahun dan siap kawin. Nyala gunung dapat hidup hingga usia 20 tahun.
Itulah beberapa fakta unik tentang nyala gunung, hewan bertanduk endemik Ethiopia yang populasinya terus terancam. Berbagai upaya konservasi harus dilakukan untuk melindungi eksistensi hewan ini. Pemerintah, yayasan konservasi, dan masyarakat harus bekerja sama untuk memastikan upaya konservasi berhasil.





