5 Ilmuwan Muslim di Bidang Kesehatan yang Harus Kamu Ketahui

Aa1wigyg
Aa1wigyg

Perkembangan Ilmu Kesehatan di Masa Emas Dunia Islam

Pada masa lalu sekitar 1000 tahun lalu, dunia Islam mengalami masa kejayaan yang sangat berpengaruh dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan dari kalangan Muslim yang memiliki kontribusi besar dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk agama, filsafat, psikologi, astronomi, matematika, geografi, musik, optik, kimia, fisika, rekayasa, teknologi, dan kesehatan. Artikel ini akan fokus pada sumbangan ilmuwan-ilmuwan Islam dalam bidang kesehatan yang telah memberikan dampak besar terhadap perkembangan medis modern.

Beberapa ilmuwan ternama seperti Ibnu Sina, yang dikenal sebagai bapak kedokteran dunia, adalah contoh nyata dari peran penting para ilmuwan Islam dalam memajukan ilmu kedokteran. Berikut adalah beberapa ilmuwan yang berkontribusi signifikan dalam bidang kesehatan:

1. Al Farabi



Meskipun Al Farabi bukan seorang dokter atau ahli kesehatan fisik, ia menggunakan musik sebagai alat terapi untuk kesehatan mental. Ia menulis risalah tentang ‘makna akal budi’ yang membahas penggunaan musik sebagai terapi. Terapi musik dapat menciptakan harmoni yang mampu menenangkan jiwa, mengatasi depresi, melankoli, dan gangguan psikologis lainnya.

Al Farabi juga memanfaatkan azan dengan irama tertentu, seperti Rast/Rehavi, yang mampu memberikan ketenangan, kebahagiaan, dan rasa empati. Konsep ini didasarkan pada karyanya, Kitab al-Musiqa al-Kabir.

2. Ibnu al Baytar



Kejayaan Islam mencakup wilayah Spanyol, sehingga banyak ilmuwan lahir di sana. Salah satunya adalah Ibnu al Baytar, seorang dokter, ahli botani, dan apoteker. Ia melakukan pengujian terhadap tanaman yang berpotensi menjadi obat.

Ibnu al Baytar melakukan perjalanan ke Afrika Utara hingga Turki untuk mencari tanaman yang bisa digunakan sebagai obat. Tahun 1224, ia bekerja untuk Sultan al-Kamil dan menjadi ahli herbal. Buku terbesarnya adalah “Kompendium Obat-obatan dan Makanan Sederhana”, yang berisi informasi tentang 1400 tanaman, makanan, dan obat-obatan. Selain itu, ia juga menulis “al Mughni fi al-Adwiya al-Mufrad”, sebuah ensiklopedia obat-obatan.

3. Abu Bakr al Razi



Abu Bakr al Razi adalah seorang filsuf, alkimia, dan dokter. Ia menulis lebih dari 200 buku dan makalah serta menemukan berbagai metode medis yang masih relevan hingga saat ini.

Salah satu karyanya, “al-Judari wa al-Hasbah”, menjelaskan bahwa cacar dan campak adalah dua penyakit yang berbeda. Ia juga merupakan dokter pertama yang memperhatikan bagaimana pupil mata bereaksi terhadap cahaya. Al Razi menetapkan standar alat praktek farmasi pada masanya, seperti lesung, labu, spatula, dan botol kecil. Ia dikenal sebagai bapak pediatri dan pelopor dalam bidang obstetri dan oftalmologi.

4. Ibnu al-Nafis



Ibnu al-Nafis adalah dokter pertama yang secara akurat menggambarkan bagaimana darah mengalir melalui sirkulasi paru-paru. Ia juga menemukan aliran sirkulasi lewat pembuluh kapiler. Ia melakukan pembedahan tubuh sebagai bukti nyata dari temuannya.

Ibnu al-Nafis menemukan bahwa jantung mendapatkan makanan dan oksigen dari arteri koroner. Ia juga mencatat bahwa sebagian darah disaring melalui selubung yang membawa darah dari jantung ke paru-paru, yaitu arteri pulmonalis.

5. Ibnu Sina



Ibnu Sina dikenal sebagai bapak kedokteran dunia karena karyanya, Al-Qanun dan The Cannon of Medicine, yang menjadi rujukan standar di universitas-universitas Eropa hingga akhir abad 17.

Ibnu Sina adalah pelopor cara mengobati dengan menyuntikkan ke bawah kulit dan penemu diagnosa yang disebabkan oleh parasit seperti cacing ancylostomal, cacing filaria, dan cacing lingkar. Ia juga adalah dokter pertama yang berani menghentikan pendarahan dengan mengikat atau moksibusi menggunakan api. Selain itu, Ibnu Sina juga ahli dalam mengatasi masalah kesehatan mental.

Ibnu Sina mampu menyembuhkan orang yang mengalami delusi dengan melakukan terapi kejutan dalam mode akting dengan memberikan makanan agar delusi mereda.

Dari sekian banyak temuan medis yang kita kenal sekarang, banyak di antaranya berasal dari pikiran jenius para ilmuwan kesehatan Islam sejak ribuan tahun lalu. Kontribusi mereka tetap menjadi dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran modern.

Pos terkait