Kisah yang Menyentuh dan Kritik Sosial dalam Drakor The Art of Sarah
Dari awal penayangannya, drakor The Art of Sarah langsung menarik perhatian publik. Ceritanya dimulai dari dugaan kematian Sarah Kim (Shin Hae Sun), yang kemudian mengundang detektif Park Mu Gyeong (Lee Joon Hyuk) untuk menyelidiki kasus ini. Namun, apa yang ditemukan oleh sang detektif justru membuatnya terkejut.
Drakor thriller orisinal Netflix ini mendapat pujian karena alur cerita yang penuh dengan plot twist yang sulit ditebak. Selain itu, drakor ini juga menyentuh berbagai isu sosial yang sangat relevan dengan kehidupan nyata. Berikut adalah lima hal yang menjadi kritik sosial dalam The Art of Sarah:
1. Diskriminasi Berdasarkan Latar Belakang dan Status Sosial
Isu diskriminasi berdasarkan status sosial cukup disinggung dalam drakor ini. Contohnya, kisah Mok Ga Hui yang bekerja sebagai staf di butik barang mewah di mall elit. Pekerja di sana dilarang menggunakan toilet yang sama dengan pengunjung. Hal ini membuat mereka sering menahan diri karena letak kamar mandi pegawai jauh dari tempat kerja.
Perbedaan perlakuan juga terlihat dari adegan Park Mu Gyeong yang dilarang masuk ke ruang konferensi pengusaha meski menunjukkan ID polisi. Namun, juniornya justru diperbolehkan masuk karena ia anak dari konglomerat dan pebisnis ternama.
2. Mark Up Harga Produk yang Jauh Lebih Tinggi dari Biaya Produksi

Kritik sosial lain berkaitan dengan mark up harga produk yang dilakukan oleh pengusaha. Sarah Kim melabeli tas Boudoir dengan harga puluhan hingga ratusan juta, padahal biaya produksinya jauh lebih rendah. Hal ini menjadi salah satu alasan Kim Mi Jeong (Lee E Dam) untuk merebut identitas Sarah Kim karena ia merasa bahwa gadis-gadis seperti dirinya adalah yang menciptakan tas tersebut.
Berkaitan dengan harga fantastis ini, Sarah Kim beralasan bahwa tas Boudoir adalah produk mewah yang memanfaatkan taktik marketing curang. Ia berbohong tentang asal merek tas ini dan sengaja membatasi pembelian hanya untuk kelas atas, sehingga tercipta kelangkaan yang mendorong rasa penasaran serta kompetisi orang-orang untuk membelinya.
3. Celah Hukum Terkait Label Impor dan Pelanggaran Hak Merek

Untuk membuat kesan bahwa Boudoir adalah tas mewah, Sarah Kim mengakali celah sistem dan aturan agar produk ini mendapat sertifikat impor. Meskipun tas dan pegangannya sepenuhnya dibuat di Korea Selatan, ia mengirimnya terlebih dahulu ke Inggris. Kemudian, pihak di sana akan menyatukan kedua bagian ini menjadi satu tas utuh. Dengan demikian, Boudoir diakui sebagai produk impor.
4. Kesulitan Menjadi Kaya Jika Tidak Terlahir Kaya

Salah satu hal yang disoroti dalam drakor ini adalah ketimpangan ekonomi. Sebelum menjadi Sarah Kim, Mok Ga Hui berusaha mengubah perekonomiannya dengan bekerja keras. Namun, berbagai kemalangan justru datang dan membuat hidupnya semakin sulit.
Ia baru bisa merasakan kekayaan dan hidup nyaman yang stabil saat menikah kontrak dengan lelaki kaya. Ini menunjukkan bahwa kerja keras saja tak selalu membuat orang jadi kaya. Mengingat ada beragam batasan akibat situasi ekonomi, orang kaya lebih mungkin tetap kaya daripada orang miskin yang menjadi kaya meski mereka bekerja dengan tekun dan jujur.
5. Ilusi Barang Mewah

Ilusi barang mewah menjadi kritik sosial yang cukup disoroti dalam The Art of Sarah. Tas mewah dijadikan sebagai simbol status, pencitraan, dan alat untuk mendapatkan validasi. Hal ini yang menjadi alasan Boudoir begitu dicari setelah Sarah Kim memasarkannya sebagai tas yang hanya dipakai anggota keluarga kerajaan, bangsawan, dan kelas atas di Inggris.
Selain itu, produk branded kerap dipandang memiliki kualitas yang terjamin dan tidak kaleng-kaleng. Namun, ada banyak faktor yang mempengaruhi kualitas sebuah produk. Karena itu, bukan berarti barang mahal dari merek ternama punya kualitas yang baik. Ilusi ini tampak dari tas Boudoir yang dianggap berkelas padahal aslinya palsu. Meski bahannya dari kulit asli, hiasannya yang serupa kristal aslinya cuma produk murah.
The Art of Sarah tidak hanya menyajikan kisah penuh teka-teki mengenai sosok Sarah Kim. Drakor ini juga menyoroti berbagai kritik sosial yang juga cukup relevan di dunia nyata. Khususnya, mengenai ketimpangan sosial ekonomi antara si kaya dan orang miskin.





