Perang di Timur Tengah Membuat 58.873 Jemaah Umrah Indonesia Terjebak
Perang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah menyebabkan berbagai dampak signifikan, termasuk pada nasib 58.873 jemaah umrah Indonesia yang kini terjebak di Arab Saudi. Situasi ini memicu kekhawatiran besar mengenai keselamatan dan kelancaran perjalanan para jemaah.
Komisi Nasional Haji (Komnas Haji) mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk menjamin keselamatan para jemaah. Hal ini dilakukan karena situasi kian memburuk setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel. Serangan ini memicu balasan dari Iran ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menegaskan bahwa eskalasi konflik ini menuntut respons nyata dari pemerintah. Ia menekankan pentingnya pengambilan kebijakan yang terukur dalam memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi jemaah. Dalam kondisi perang yang tidak pasti, pemerintah harus segera merancang langkah-langkah mitigasi yang efektif.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), puluhan ribu jemaah ini berisiko terjebak jika jalur udara internasional ditutup mendadak akibat keterlibatan negara-negara sekutu Eropa yang diprediksi akan bergabung menyerang Iran. Mustolih menekankan peran Kementerian Haji dan Umrah sebagai leading sector dalam mengambil inisiatif aktif.
Langkah Mitigasi dan Rencana Darurat
Komnas Haji juga mendesak pemerintah segera menyiapkan rencana darurat atau contingency plan. Menurut Mustolih, Kemenhaj perlu menyiapkan pusat informasi sebagai crisis center. Bahkan jika diperlukan, penyediaan tempat penampungan sementara bagi jemaah umrah hingga mempersiapkan penjemputan untuk memulangkan mereka ke tanah air.
Langkah-langkah ini dinilai sebagai bentuk perlindungan nyata dari pemerintah terhadap warga negaranya di tengah krisis internasional yang semakin tidak terkendali.
Isu Finansial dan Kesulitan Logistik
Masalah finansial menjadi perhatian serius, mengingat kemampuan setiap jemaah berbeda-beda. Banyak jemaah memiliki dana terbatas karena kondisi di lapangan tidak sesuai dengan rencana awal. Kelompok yang paling rentan adalah jemaah mandiri atau backpacker yang tidak melalui biro perjalanan resmi. Mereka diprediksi akan kesulitan mendapatkan akses perlindungan logistik dan informasi evakuasi dibandingkan jemaah yang berada di bawah naungan PPIU.
Permintaan Penundaan Keberangkatan
Mengingat situasi yang kian memburuk, Komnas Haji mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat yang sudah menjadwalkan keberangkatan. Calon jemaah sangat disarankan untuk menunda perjalanan hingga situasi benar-benar kondusif. Keselamatan nyawa harus ditempatkan di atas segala rencana ibadah di tengah ketidakpastian keamanan internasional saat ini.
Penutupan Penerbangan dan Penyesuaian Jadwal
Lion Air dan Etihad Airways menghentikan penerbangan ke wilayah Timur Tengah dari Bandara Kualanamu tanpa batas waktu yang jelas. Hal ini merupakan dampak dari kondisi yang belum kondusif akibat perang antara Amerika-Israel dengan Iran. Dari informasi yang dikumpulkan, hanya ada dua maskapai yang melayani penerbangan ke wilayah tersebut.
Manager Corsec Corcom PT Angkasa Pura Aviasi Bandara Kualanamu, Mohamad Hikmat, mengatakan bahwa Lion Air Grup dan Etihad Airways merupakan dua maskapai yang melayani penerbangan ke wilayah tersebut. Untuk Lion, tujuannya ke Jeddah, Arab Saudi, sedangkan Etihad menuju Abu Dhabi. Jadwal penerbangan dilakukan tiga kali dalam seminggu.
Ditambahkan bahwa pada hari Minggu (1/3/2026), maskapai Etihad sudah tidak lagi melakukan penerbangan dari Kualanamu. Namun, tidak sampai ada penumpang yang sampai ke bandara. Untuk jadwal penerbangan tergantung dengan situasi yang ada.
Notam yang dikeluarkan oleh pihak AirNav mencakup larangan terbang ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah seperti Tehran, Iran, Kabul, Tel Aviv, Oman, Bahrain, dan Kuwait serta negara lainnya. Namun, penerbangan ke negara-negara tersebut masih dalam keadaan normal dan lancar.
Penyesuaian Jadwal Penerbangan
Pantauan Tribun Medan dari pengumuman yang diposting di Instagram resmi Bandara Kualanamu @kualanamu.airport, Minggu (1/3/2026), menunjukkan adanya penyesuaian jadwal pada sejumlah penerbangan. Dalam pengumuman itu disebutkan bahwa terjadi penyesuaian jadwal pada beberapa penerbangan akibat penutupan ruang udara di beberapa wilayah.
Corporate Affairs Angkasa Pura Aviasi Bandara Kualanamu, Mohammad Hikmat, membenarkan adanya penyesuaian jadwal maskapai penerbangan dari Bandara Kualanamu menuju negara Timur Tengah. Operasional di Bandara Kualanamu berjalan normal, hanya beberapa maskapai yang harus melewati penyesuaian jadwal kembali.
Menurut Hikmat, penutupan jalur udara di Timur Tengah imbas dari perang antara Amerika Serikat dan Iran. Sampai saat ini, ada dua maskapai penerbangan yang dilakukan penyesuaian jadwal ulang, yaitu Etihad dengan rute Abu Dhabi dan penerbangan Umroh Lion Air yang menuju Timur Tengah.





