8 Film Iran Paling Kritis, Sutradaranya Dipenjara

Aa1xjdbp 1
Aa1xjdbp 1

Film Iran: Jendela Kritik Sosial Politik yang Tak Bisa Dihentikan

Film-film dari Iran tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk menyampaikan kritik terhadap sistem pemerintahan dan isu-isu sosial yang muncul di tengah masyarakat. Meski sering menghadapi pembatasan dan sensor, para sineas Iran terus berusaha memperlihatkan realitas yang tersembunyi melalui karya-karyanya.

Berikut ini beberapa film Iran yang dinilai sangat kritis dan mampu memberikan wawasan mendalam tentang dinamika politik dan sosial di negara tersebut:

1. Crimson Gold (2003)



Crimson Gold adalah salah satu film legendaris yang digarap oleh sutradara ternama Jafar Panahi. Film ini menceritakan keputusan-keputusan yang dibuat oleh seorang perampok bank amatir bernama Hussein. Ketika perampokan tidak berjalan sesuai harapan, Panahi kemudian memutar adegan flashback sebelum Hussein melakukan kejahatan.

Hussein, yang berasal dari keluarga tak berada, dijadikan Panahi sebagai alat untuk mengekspos isu-isu seperti stigma gender dan kemiskinan. Film ini sempat dilarang tayang di Iran karena Panahi menolak memotong adegan akhirnya yang dianggap tidak lulus sensor oleh otoritas setempat.

2. Offside (2006)



Masih dari Jafar Panahi, Offside menceritakan perjuangan sekelompok perempuan muda yang ingin menonton tim nasional sepak bola Iran berlaga di kualifikasi Piala Dunia 2006. Pada masa itu, Iran masih memberlakukan larangan bagi perempuan untuk menonton pertandingan sepak bola langsung di stadion. Ini membuat para suporter perempuan terpaksa berdandan ala pria agar bisa masuk stadion.

Isu restriksi ini masih menjadi perdebatan sengit di Iran hingga saat ini. Beberapa penggawa Tim Melli bahkan ikut mengekspresikan kekecewaannya pada kebijakan tersebut.

3. A Man of Integrity (2017)



Mohammad Rasoulof, seorang sineas yang rajin mengangkat tema-tema sosial politik, menciptakan film A Man of Integrity. Film ini memberikan gambaran tentang si berkuasa dan si pesakitan. Lakonnya seorang pengelola tambak sederhana bernama Reza yang harus bertahan hidup di tengah sistem yang tidak adil. Demi mempertahankan usahanya, Reza harus melakukan cara-cara curang seperti menyuap. Di sisi lain, ia bertetangga dengan sosok pebisnis kaya raya yang hendak melakukan praktik monopoli di wilayah tempat tinggal Reza.

4. 3 Faces (2018)



Aktivisme Jafar Panahi sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi pada 2010. Meski dibebaskan, ia sebenarnya dilarang berkarya lagi. Namun, Panahi tidak kehilangan akal. Ia menyelundupkan film-film garapannya ke luar negeri untuk diputar di berbagai festival. Salah satunya adalah 3 Faces, yang lagi-lagi mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dibuat berdasarkan perspektif patriarki.

Panahi membuat filmnya dalam format semi-dokumenter, mengisahkan perjalanan dirinya sendiri dan seorang aktris menemui sosok gadis muda yang mengancam akan mengakhiri hidupnya karena tidak diizinkan keluarganya mengejar mimpinya menjadi pemeran.

5. There Is No Evil (2020)



Pada 2020, Mohammad Rasoulof merilis film berjudul There Is No Evil. Kali ini, isu yang ia angkat adalah kritik pada praktik hukuman mati yang dalam perspektifnya penuh kekurangan. Bukan dari sudut pandang para terpidana, Rasoulof justru mengambil sudut pandang orang-orang yang terdampak secara tidak langsung dari hukuman mati tersebut. Misalnya saja sipir penjara, para wamil yang ditugaskan jadi eksekutor, hingga keluarga terpidana. Ketiga cerita pendeknya sukses membuat penonton terdorong melakukan refleksi.

6. Hit the Road (2021)



Mengekor karier ayahnya, Panah Panahi akhirnya merilis film debutnya yang berjudul Hit The Road pada 2021. Bakal mengingatkanmu pada Little Miss Sunshine, sinema Iran ini mengikuti perjalanan darat sebuah keluarga yang sayangnya tidak akan kamu ketahui tujuannya sampai akhir film.

Meski terlihat hangat dan khas film keluarga, Panahi sebenarnya menyelipkan kritik pada satu kebijakan pemerintah Iran yang masih jadi perdebatan. Apa itu? Tonton filmnya sendiri, deh!

7. Holy Spider (2022)



Jika kamu penggemar thriller, tetapi juga ingin film yang mengandung pesan sosial politik, Holy Spider adalah pilihan tepat. Sinema yang dikemas dengan gaya muram ini sejak awal sudah bisa bikin penonton merinding dengan kengeriannya. Lewat Holy Spider, sang sutradara Ali Abbasi mencoba memotret misogini di Iran lewat perspektif seorang jurnalis perempuan yang menginvestigasi sebuah kasus pembunuhan. Meski lakonnya fiktif, kasus pembunuhannya merupakan kejadian nyata di Kota Mashhad yang dilakukan seorang pria paruh baya pada belasan pekerja seks komersial.

Bukannya merasa bersalah, sang pelaku mengaku melakukannya demi jihad karena menganggap korban-korbannya adalah pendosa berat. Kejadian ini terjadi pada tahun 2000-an.

8. It Was Just an Accident (2025)



Film yang satu ini tidak hanya membawa Jafar Panahi memenangkan beragam penghargaan global, tetapi juga membuatnya dipenjara oleh pemerintah Iran. Ini bukan pertama kalinya sang sineas dihukum karena kritis lewat karya-karyanya. It Was Just an Accident pun bagaikan refleksi hidup Jafar yang pernah ditahan oleh negaranya sendiri.

Kisahnya mengikuti kesialan yang dialami seorang pria usai menabrak seekor anjing di jalan. Ia diculik oleh seseorang bernama Vahid, yang percaya bahwa dirinya adalah sosok yang menyiksanya di dalam penjara. Seperti apa kelanjutan perjalanan yang diwarnai thriller itu?

Film-film Iran di atas sering kali kesulitan mendapatkan slot tayang di negeri sendiri karena muatan kritik sosial politiknya. Kebanyakan premier di festival film internasional, kemudian dibeli hak distribusinya oleh layanan streaming daring. Beberapa tersedia secara legal di platform lokal dan impor yang tersedia di region Indonesia, kok! Silakan diburu!

Pos terkait