CIREBON – Sebanyak 82.131 warga Kabupaten Cirebon masih berstatus pengangguran terbuka hingga awal Maret 2026. Angka ini menjadi perhatian khusus menjelang Hari Raya Idul Fitri, mengingat meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga dan perputaran ekonomi musiman.
Kepala BPS Kabupaten Cirebon Januawarto Wibowo menjelaskan bahwa angka tersebut berasal dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025. Ia menyampaikan bahwa jumlah pengangguran terbuka mencapai 82.131 orang dari total angkatan kerja sebanyak 1.278.803 orang. Hal ini menghasilkan tingkat pengangguran terbuka sekitar 6,4%.
Menurut Januawarto, tingkat pengangguran terbuka (TPT) dihitung berdasarkan persentase penganggur terhadap total angkatan kerja. Secara umum, struktur ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon masih menunjukkan dominasi penduduk yang bekerja.
Dari total penduduk usia 15 tahun ke atas sebanyak 1.845.979 orang, sebanyak 1.196.672 orang tercatat bekerja. Sementara 567.176 orang lainnya tergolong bukan angkatan kerja, yang terdiri atas pelajar, ibu rumah tangga, dan kelompok lainnya.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, pengangguran laki-laki tercatat sebanyak 58.985 orang, sedangkan perempuan sebanyak 23.146 orang. Tingkat pengangguran laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan, seiring dengan partisipasi kerja laki-laki yang juga lebih besar.
Data BPS menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja laki-laki mencapai 775.794 orang, sementara perempuan sebanyak 503.009 orang. Artinya, tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki jauh lebih tinggi dibanding perempuan.
Januawarto menjelaskan bahwa dinamika ketenagakerjaan menjelang Idul Fitri biasanya diwarnai peningkatan aktivitas sektor perdagangan, jasa, dan transportasi. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menyerap tenaga kerja secara permanen.
“Momentum Ramadan dan Idul Fitri memang meningkatkan aktivitas ekonomi, terutama sektor informal dan perdagangan musiman. Namun, data Sakernas merekam kondisi struktural pasar kerja pada periode survei,” ujarnya.
Secara keseluruhan, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Kabupaten Cirebon mencapai sekitar 69 persen. Angka ini menunjukkan bahwa hampir tujuh dari sepuluh penduduk usia produktif aktif secara ekonomi, baik bekerja maupun mencari kerja.
Meski demikian, jumlah pengangguran yang masih berada di atas 80 ribu orang menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian daerah. Apalagi menjelang Idul Fitri, ketika kebutuhan konsumsi rumah tangga cenderung meningkat, tekanan terhadap kelompok tanpa pendapatan tetap menjadi lebih terasa.
Selain itu, struktur bukan angkatan kerja juga menunjukkan dominasi perempuan yang mengurus rumah tangga. Dari 567.176 orang bukan angkatan kerja, sebanyak 339.820 perempuan tercatat mengurus rumah tangga. Kondisi ini mencerminkan masih besarnya potensi tenaga kerja perempuan yang belum masuk pasar kerja formal.
Januawarto menegaskan bahwa data BPS diharapkan menjadi rujukan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan dan pengembangan ekonomi lokal.
“Data ini penting sebagai dasar perencanaan. Tantangannya adalah bagaimana mendorong penciptaan lapangan kerja produktif dan meningkatkan kualitas tenaga kerja,” katanya.





