
Di tengah kepadatan kendaraan yang berhenti sejenak di lampu merah Simpang Dago, Kota Bandung, sosok Abah Muhtar (70) muncul dengan cara yang tak biasa. Ia membawa boneka yang wajahnya dibuat menyerupai dirinya sendiri. Boneka itu bukan sekadar alat mencari nafkah. Bagi Abah Muhtar, boneka adalah identitas, kreativitas, dan juga teman setia dalam perjalanan hidupnya.
“Ini saya bikin sendiri di kontrakan,” ujarnya sambil menunjuk boneka yang menempel pada mainan motor buatannya. “Wajahnya juga dibuat mirip sama wajah saya.”
Selama lima tahun terakhir ini, Abah Muhtar mencari rezeki di simpang Dago. “Pakai boneka, jadi lebih kreatif,” katanya.

Ia bekerja sendiri tanpa bergabung dengan komunitas pengamen mana pun. Setiap hari, penghasilannya bergantung pada cuaca dan keramaian jalan. Saat ramai, ia bisa membawa pulang hingga Rp 150 ribu. Namun, ketika hujan turun dan jalanan lengang, Rp 50 ribu pun sudah ia syukuri.
Boneka buatannya menghabiskan biaya sekitar Rp 200 ribu. Satu set pakaian boneka sekitar Rp 100 ribu. Motor yang menjadi panggung berjalan itu dibuatnya dengan modal Rp 1,2 juta, hasil dari tabungannya.
Awalnya ia hanya mengamen dengan boneka. Sedikit demi sedikit, ia menabung hingga mampu merakit motor mainan sebagai penopang pertunjukan kecilnya. Kini, meski beberapa bagian sudah mulai rusak, ia tetap setia merawat hasil karyanya sendiri.
“Saya emang suka bikin yang kayak gini di kontrakan,” tuturnya.

Rutinitasnya sederhana. Menjelang siang, ia mulai berangkat menuju Simpang Dago. Di antara deru klakson dan panas aspal, Abah Muhtar membawa boneka kecil yang menyerupai wajahnya. Dia berkeliling dari satu lampu merah ke lampu merah lain hingga sore hari, menyapa pengendara dengan boneka yang seolah hidup di tengah kemacetan kota.
Perjalanan Kreatif Abah Muhtar
Abah Muhtar tidak hanya menjual boneka sebagai alat mencari nafkah, tetapi juga sebagai ekspresi diri dan kreativitasnya. Setiap hari, ia membangun hubungan dengan para pengendara melalui pertunjukan kecil yang disajikan dengan boneka. Tidak ada batasan usia atau latar belakang untuk menikmati pertunjukan ini.
Beberapa hal yang membuat perjalanan Abah Muhtar begitu istimewa:
- Kreativitas yang tak terbatas: Dengan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana, ia mampu menciptakan boneka yang sangat menarik dan unik. Wajah boneka yang mirip dengannya menambah kesan personal dan mendekatkan dirinya dengan para pengendara.
- Ketekunan dan dedikasi: Meskipun kondisi motor dan bonekanya mulai rusak, ia tetap merawat hasil karyanya sendiri. Ini menunjukkan betapa pentingnya karya tersebut bagi hidupnya.
- Keberanian untuk berbeda: Abah Muhtar tidak bergabung dengan komunitas pengamen lainnya. Ia memilih untuk berdiri sendiri dan menjalani bisnisnya dengan cara yang unik dan khas.
Pekerjaan Harian yang Tak Mudah
Setiap hari, Abah Muhtar menghadapi tantangan yang berbeda. Penghasilannya sangat bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat keramaian jalan. Jika jalanan ramai, ia bisa menerima uang hingga Rp 150 ribu. Namun, jika hujan atau jalan sepi, ia hanya bisa berharap mendapatkan Rp 50 ribu.
Meskipun demikian, ia tetap bersyukur dan menjalani pekerjaan ini dengan tulus. Ia menganggap boneka sebagai bagian dari dirinya sendiri, dan setiap kali memainkannya, ia merasa hidupnya lebih bermakna.
Investasi pada Kreativitas
Biaya pembuatan boneka dan motor mainan cukup besar, yaitu sekitar Rp 200 ribu untuk satu boneka dan Rp 1,2 juta untuk motor. Namun, Abah Muhtar tidak pernah menyesal dengan investasi ini. Ia percaya bahwa kreativitas dan usaha keras akan selalu memberi hasil yang baik.
Dengan waktu yang cukup lama, ia telah menabung dan mengumpulkan dana untuk membangun motor mainan yang menjadi panggung utamanya. Meskipun sebagian dari motor itu sudah mulai rusak, ia tetap merawatnya dengan penuh cinta dan perhatian.
Kesimpulan
Abah Muhtar adalah contoh nyata dari ketekunan, kreativitas, dan semangat hidup. Dengan hanya menggunakan boneka dan motor mainan, ia mampu menciptakan momen yang menyentuh hati banyak orang. Ia tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga memberikan senyuman dan kebahagiaan kepada para pengendara di tengah kesibukan kota Bandung.





