Pemantauan Abi Vulkanik Gunung Marapi Pasca-Erupsi
Setelah erupsi yang terjadi pada Minggu (1/3/2026), abu vulkanik dari Gunung Marapi di Sumatera Barat (Sumbar) terus dipantau secara intensif oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan keamanan masyarakat dan aktivitas penerbangan di sekitar wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, abu vulkanik terdeteksi menyebar hingga ketinggian 15.000 feet dan bergerak ke arah Tenggara. Informasi ini diperoleh melalui pembaruan data VAAC Darwin pada 1 Maret 2026, yang mencatat pergerakan abu mulai pukul 15.53 WIB hingga 21.53 WIB.
Decky Irmawan, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, menjelaskan bahwa sebaran debu abu vulkanik teramati pada pukul 15.53 WIB dengan ketinggian mencapai 15.000 feet. Arah pergerakan abu ke timur dengan kecepatan angin sekitar 10 knot dan intensitasnya dilaporkan semakin melemah.
“Kami mengamati bahwa sebaran abu diperkirakan mengarah ke wilayah Kabupaten Tanah Datar dan sekitarnya. Meskipun demikian, kondisi di lapangan tetap dipengaruhi dinamika angin yang dapat berubah sewaktu-waktu,” ujarnya.
BMKG juga melakukan koordinasi dengan otoritas penerbangan guna memastikan keselamatan jalur udara, terutama di sekitar Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Hingga saat ini, belum ada dampak atau laporan terkait abu vulkanik yang menuju atau mengarah ke Bandara.
Decky menekankan pentingnya pemantauan abu vulkanik karena partikel abu di ketinggian tertentu berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan. “Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Informasi dari VAAC Darwin menjadi acuan dalam melihat potensi dampak terhadap ruang udara,” jelasnya.
Sebelumnya, Gunung Marapi yang berada di wilayah Kabupaten Agam dan Tanah Datar mengalami erupsi pada pukul 15.11 WIB. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Bukittinggi, erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 29.8 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 8 detik.
Tinggi kolom abu saat kejadian teramati secara visual di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas puncak. Hingga kini, status aktivitas Gunung Marapi masih berada pada Level II (Waspada). Masyarakat di sekitar gunung diimbau tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas di Kawah Verbeek.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan hujan abu, khususnya di wilayah yang berada di arah sebaran. Jika terjadi hujan abu, warga disarankan menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan guna mencegah gangguan pernapasan.
Decky menambahkan, pihaknya akan terus memberikan pembaruan informasi sesuai perkembangan terbaru aktivitas Gunung Marapi dan dinamika atmosfer di wilayah Sumatera Barat. “Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas sumbernya, serta mengikuti perkembangan resmi dari BMKG dan PVMBG,” tutupnya.
Perkembangan Terkini Aktivitas Gunung Marapi
- Status Gunung Marapi masih berada pada Level II (Waspada).
- Radius aman untuk masyarakat adalah 3 kilometer dari pusat aktivitas di Kawah Verbeek.
- Pemantauan intensif dilakukan oleh BMKG terhadap sebaran abu vulkanik.
- Pergerakan abu tercatat hingga ketinggian 15.000 feet dan bergerak ke arah Tenggara.
- Koordinasi dengan otoritas penerbangan dilakukan untuk memastikan keselamatan jalur udara.
- Peringatan kepada masyarakat untuk waspada terhadap hujan abu dan menggunakan masker jika diperlukan.





