JAKARTA — Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) mengajukan langkah strategis untuk memperkuat struktur hilirisasi timah nasional. Salah satu rekomendasi utama adalah pembentukan industri offtaker domestik yang mampu menyerap produksi dalam negeri secara lebih besar. Langkah ini dianggap penting agar pengembangan sektor timah tidak terus bergantung pada pasar ekspor.
Menurut data AETI, konsumsi timah di dalam negeri hanya berkisar antara 5 hingga 7 persen dari total produksi nasional. Angka ini menunjukkan bahwa daya serap pasar domestik masih sangat terbatas, meskipun kapasitas produksi cukup besar dan reputasi produk Indonesia di pasar global sangat kuat.
Ketua Umum AETI Harwendro Adityo Dewanto menjelaskan bahwa kelemahan industri offtaker menjadi hambatan utama dalam membentuk rantai pasok hilir yang utuh. “Tanpa basis industri hilir yang kuat, pengembangan produk turunan timah di dalam negeri menjadi kurang kompetitif dibandingkan mengekspor bahan setengah jadi,” ujarnya di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa agenda hilirisasi mineral belum diikuti oleh pertumbuhan ekosistem industri hilir yang memadai. Sektor manufaktur yang menggunakan timah sebagai bahan baku utama masih belum berkembang optimal. Selain itu, minimnya investasi pada industri produk turunan juga berkaitan dengan belum tumbuhnya industri perantara seperti elektronik, kimia, solder, plating, serta berbagai komponen manufaktur yang membutuhkan timah secara konsisten.
Situasi ini menyebabkan nilai tambah lebih banyak tercipta di luar negeri. Meski demikian, Harwendro mengakui bahwa posisi timah Indonesia sangat kuat di pasar global. “Brand timah Indonesia itu nomor satu di dunia. Paling banyak dicari orang karena kita hampir paling murni,” katanya.
Tingkat kemurnian produk Indonesia mencapai 99,9 persen, menjadikannya salah satu timah paling dicari di pasar internasional. Reputasi ini telah mendukung ekspor nasional selama ini. Namun, ketergantungan tinggi terhadap pasar global tetap menyimpan risiko. Fluktuasi harga internasional dan dinamika geopolitik dapat langsung memengaruhi kinerja industri timah nasional ketika pasar domestik belum mampu menjadi penyangga.
Dalam konteks tersebut, AETI menyatakan komitmennya mendukung agenda hilirisasi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden. Organisasi ini menilai diperlukan desain kebijakan yang lebih komprehensif agar proses hilirisasi tidak berhenti pada produksi bahan antara atau tier kedua.
“Ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menciptakan industri-industri turunan baru dari timah maupun nikel agar hasilnya maksimal bagi negara. Harapannya tidak setop di tier kedua saja, tapi sampai menjadi barang jadi yang bisa langsung dikonsumsi,” ujar Harwendro.
Menurut dia, tantangan hilirisasi timah bukan terletak pada kapasitas produksi maupun kualitas bahan baku. Persoalan utama berada pada kesiapan ekosistem industri untuk menyerap komoditas tersebut secara berkelanjutan.
Penguatan offtaker domestik menjadi kunci agar nilai tambah tidak terus mengalir ke pasar global. Hilirisasi timah memerlukan strategi terintegrasi yang mendorong pertumbuhan industri turunan, memperluas permintaan dalam negeri, serta membangun rantai pasok nasional yang solid.





