Ahli: Iran Miliki Senjata Mampu Hancurkan Kapal Induk AS

Aa1x0obg
Aa1x0obg

Iran Memperkuat Kekuatan Militer dengan Kapal Selam Kelas Fateh

Iran baru saja mempromosikan kapal selam kelas Fateh sebagai senjata andalan dalam strategi pertahanannya. Kapal selam ini diyakini mampu menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat di perairan pesisir, yang menjadi ancaman serius bagi kekuatan laut AS. Pakar menyebut ancaman tersebut semakin besar karena Iran juga memiliki rudal balistik anti-kapal (ASBM) yang bisa digunakan untuk menyerang armada laut AS.

Di perairan pesisir yang sempit, keunggulan Angkatan Laut Amerika Serikat bisa berkurang karena faktor geografis. Sebaliknya, kapal selam kecil memiliki peluang untuk mengubah keadaan, menurut analisis 19FortyFive.com, sebuah media daring yang berfokus pada isu militer, pertahanan, keamanan nasional, serta politik. AS mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah, yaitu USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford. Kedua kapal induk ini membawa kekuatan udara dan daya tembak yang sangat besar, sehingga banyak pihak meyakini bahwa mereka akan melancarkan serangan berkelanjutan terhadap Iran.

Namun, Iran tampaknya tidak gentar dengan kehadiran raksasa-raksasa laut tersebut di wilayah mereka. Militer Iran justru terlihat siap dengan kemungkinan keberhasilan menyerang salah satu, atau bahkan kedua, kapal induk tersebut. Mengutip 19fortyfive.com, Iran telah bertahun-tahun mengembangkan kemampuan rudal balistik anti-kapal (ASBM) yang komprehensif. Pakar kebijakan keamanan dari AS, Brandon Weichert, menyebut kemampuan rudal Iran kemungkinan besar didukung oleh bantuan penargetan satelit canggih dari China.

Kini, Iran menyatakan bahwa jika Amerika benar-benar melaksanakan ancamannya, satu atau bahkan dua kapal induk mahal milik AS akan dinonaktifkan oleh ASBM Iran atau ditenggelamkan. Selain ancaman ASBM terhadap kapal induk AS, terdapat ancaman lain yang kurang diperhatikan, yakni kekuatan kapal selam Iran.

Angkatan Laut Iran bukanlah penantang sejati bagi Angkatan Laut AS di laut lepas. Namun, Iran tidak berniat berperang di perairan terbuka, menurut Weichert. Iran justru berupaya memanfaatkan geografi wilayah pesisirnya dan perairan sekitarnya sebagai keuntungan strategis. Lebih jauh, Iran berusaha mereplikasi dalam kondisi nyata apa yang telah ditunjukkan dalam berbagai simulasi perang Angkatan Laut AS, di mana kapal selam bertenaga Air Independent Propulsion (AIP) yang relatif murah, mampu “menenggelamkan” kapal induk Amerika yang sepenuhnya terlindungi.

Kapal Selam Kelas Fateh sebagai Andalan Iran

Iran memiliki setidaknya satu kapal selam bertenaga AIP yang beroperasi penuh, yakni kelas Fateh, yang telah aktif sejak 2019. Kapal selam ini berpotensi menenggelamkan kapal induk seperti USS Abraham Lincoln yang beroperasi di Laut Arab dekat Oman. Sebagian pihak mungkin meragukan klaim bahwa kapal selam Iran, yang jauh lebih sederhana dibandingkan kapal induk atau kapal selam AS, mampu mengancam kapal induk tersebut, apalagi hingga berada dalam jangkauan serangan.

Namun, taktik semacam itu telah berulang kali terbukti efektif, baik dalam latihan perang maupun di dunia nyata. Pada 2006, sebuah kapal selam diesel China berhasil mendekati jarak torpedo USS Kitty Hawk tanpa disadari awak kapal tersebut hingga setelah kejadian. Demikian pula insiden pada 2005 yang melibatkan kapal selam diesel-listrik Swiss bertenaga AIP, Gotland, yang berhasil “menenggelamkan” USS Ronald Reagan dalam latihan perang.

Sistem AIP memungkinkan kapal selam diesel-listrik tetap berada di bawah permukaan air selama sekitar satu minggu tanpa perlu naik ke permukaan untuk snorkeling. Kondisi ini membuat kapal selam tersebut hampir mustahil dideteksi oleh sensor kapal induk menggunakan sonar tradisional karena tingkat kebisingannya yang sangat rendah. Selain itu, terdapat faktor komplikasi tambahan berupa kondisi geografis.

Sejarah Menunjukkan Kapal Induk Cukup Rentan

Sejak insiden 2005, Angkatan Laut AS meningkatkan kemampuan pertahanannya. Pola pikir para pelaut diubah, tidak lagi hanya berfokus pada ancaman kapal selam laut dalam, tetapi juga pada ancaman kapal selam pesisir. Kini, pelatihan menghadapi ancaman tersebut menjadi bagian dari kurikulum rutin awak kapal induk. Angkatan Laut AS juga disebut mengembangkan kemampuan ASW, antara lain dengan meningkatkan peran helikopter, menambahkan drone pertahanan, serta memasukkan sensor berbasis kecerdasan buatan ke dalam sistem pertahanan ASW.

Meski demikian, persoalan yang lebih mendasar tetap terletak pada desain kapal induk itu sendiri. Kapal-kapal ini tidak dirancang untuk beroperasi di lingkungan sempit. Mereka merupakan mesin perang besar yang dimaksudkan untuk perairan terbuka. Satu serangan terkoordinasi dapat mengubah segalanya. Seperti ditunjukkan dalam latihan Gotland 2005, hanya dibutuhkan satu kapal selam bertenaga AIP untuk menerobos, bertahan cukup lama dalam jangkauan torpedo, lalu meluncurkan beberapa serangan yang beruntung.

Latihan tersebut, bersama pertemuan kapal selam kelas Song milik China dengan USS Kitty Hawk, bukan satu-satunya insiden di mana kapal selam diesel-listrik murah berada dalam jarak serang kapal induk AS. Hal serupa juga terjadi dalam berbagai latihan NATO lainnya, termasuk yang melibatkan Angkatan Laut Prancis. Pola ini berulang. Seberapa pun meningkatnya kemampuan pelatihan dan sistem anti-kapal selam Angkatan Laut, hampir mustahil membuat kapal induk sepenuhnya kebal terhadap ancaman kapal selam pesisir bertenaga AIP, mengingat perbedaan karakteristik kapal induk dan kapal selam AIP.

Trump: Keputusan Ada pada Saya

Di tengah ketegangan dengan Iran, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa keputusan akhir mengenai apakah militer AS akan melancarkan serangan terhadap Iran berada di tangannya. Dalam unggahan panjang di Truth Social pada Senin (23/2/2026) waktu setempat, Trump mengecam “media berita palsu” atas pemberitaan mereka mengenai ketegangan AS-Iran. Trump mengkritik laporan yang menyebut Jenderal Daniel Caine menentang gagasan AS berperang dengan Iran.

“Berita tersebut tidak menyebutkan siapa pun yang memiliki pengetahuan luas ini dan 100 persen salah. Jenderal Caine, seperti kita semua, tidak ingin melihat perang, tetapi jika keputusan dibuat untuk melawan Iran di tingkat militer, menurutnya itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan,” tulis Trump. Trump menambahkan bahwa Caine, yang merupakan Ketua Kepala Staf Gabungan AS, memimpin Operasi Midnight Hammer dan mengenal Iran dengan baik.

Laporan ini muncul sepekan setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran untuk menekan negara itu agar menandatangani kesepakatan nuklir. Menegaskan kembali pernyataannya dalam unggahan tersebut, Trump menyebut keputusan akhir apakah AS akan berperang dengan Iran berada di tangannya.

“Saya yang membuat keputusan,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia lebih memilih AS dan Iran mencapai kesepakatan di Jenewa. “Jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan, sangat disayangkan, bagi rakyatnya, karena mereka hebat dan luar biasa, dan hal seperti ini seharusnya tidak pernah terjadi pada mereka,” tambahnya.

Mengutip Hindustan Times, para pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu untuk putaran ketiga pembicaraan tidak langsung mengenai program nuklir Iran di Jenewa, Swiss. Menurut laporan, para pejabat menyatakan kedua negara telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan tersebut. Namun, pejabat AS seperti Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus Steve Witkoff menegaskan bahwa Iran harus mematuhi “garis merah” Trump, yakni tidak boleh memiliki senjata nuklir. Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga menyerukan Teheran untuk “melakukan hal yang bijaksana” dan mencapai kesepakatan.

“Iran harus membuat kesepakatan. Iran memiliki kesempatan untuk membuat kesepakatan. Itulah hasil yang diinginkan Presiden. Tugas kami adalah memberikan pilihan, semuanya ada di meja perundingan. Itu adalah keputusan Presiden,” katanya kepada FOX News.

Apa yang Terjadi antara AS dan Iran Sekarang?

Meski putaran ketiga pembicaraan dijadwalkan berlangsung pada Kamis (26/2/2026), ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat. Di Iran, protes mahasiswa masih melanda Teheran. Menurut Iran International, mahasiswa dari Universitas Teheran, Universitas Teknologi Amirkabir, dan Universitas Teknologi Isfahan menyerukan pemerintahan sekuler, pemilihan umum yang bebas, serta menyatakan dukungan kepada putra mahkota yang diasingkan, Reza Pahlavi.

Sementara itu, militer AS terus memperluas kehadirannya di kawasan tersebut. Menurut laporan Bloomberg, peralatan militer yang dikerahkan AS mencakup dua kapal induk, jet tempur, dan pesawat tanker pengisian bahan bakar. Di tengah ketegangan, AS juga meminta para diplomat non-esensialnya di Lebanon untuk meninggalkan negara itu dan kembali ke AS sesegera mungkin. India juga bergabung dalam daftar negara yang meminta warganya meninggalkan Iran karena meningkatnya ancaman potensi serangan AS. Dalam imbauan yang dikeluarkan pada Senin, India meminta warga negaranya di Teheran untuk segera meninggalkan wilayah tersebut seiring berkembangnya situasi keamanan.

Pos terkait