Pakar kesehatan dan akademisi di Indonesia mengungkapkan kekhawatiran terhadap buruknya tata kelola lingkungan yang berdampak langsung pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat. Mereka menilai bahwa perubahan iklim, polusi, serta pengelolaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan telah menciptakan kondisi yang memperburuk kesehatan masyarakat.
Hermawan Saputra, seorang pakar kesehatan, menyoroti perubahan gaya hidup masyarakat modern yang semakin sedentary atau tidak aktif. Ia menyebut gaya hidup ini sebagai “ibu dari segala penyakit modern” seperti hipertensi dan diabetes. Namun, masalah ini semakin kompleks karena lingkungan yang juga terganggu akibat perubahan iklim.
“Dalam webinar nasional IDE Lestari 2026 dengan tema ‘Pendidikan Inklusif dan Reformasi Tata Kelola Lingkungan untuk Peningkatan Taraf Kesehatan Bangsa’, saya menyampaikan bahwa perubahan lingkungan memiliki dampak luas. Mulai dari meningkatnya suhu bumi hingga potensi migrasi vektor penyakit dan ancaman terhadap ketahanan pangan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa lingkungan hidup yang baik adalah hak asasi setiap orang, sama pentingnya dengan hak mendapatkan pelayanan kesehatan. Negara harus memastikan bahwa hak ini terpenuhi.
Dari sudut pandang lain, Asrul Raman, Direktur Eksekutif Lakpesdam PBNU, mengkritik kebijakan lingkungan yang dinilai tidak konsisten dan cenderung mengabaikan aspek keberlanjutan. Menurutnya, kebijakan lingkungan sering kali paradoks. Misalnya, meskipun bicara tentang green economy, eksploitasi nikel untuk baterai kendaraan listrik justru merusak ekosistem di daerah tambang.
“Aspek keberlanjutan sering kali diabaikan dalam beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek ini dinilai memicu konflik agraria dan mengesampingkan kepentingan masyarakat lokal,” katanya.
Asrul juga menyebut bahwa penurunan kualitas demokrasi berdampak pada kebijakan yang tidak inklusif. Negara sering kali tidak hadir membela kelompok rentan di daerah terpencil, seperti kasus di Ngada dan Lembata, di mana kemiskinan struktural menghambat akses pendidikan dan kesehatan.
Dari sisi lingkungan, Tubagus Soleh Ahmadi, perwakilan Walhi Nasional, menyebut Indonesia telah mengalami kebangkrutan ekologis sejak 2010. Ia menjelaskan bahwa bencana ekologis bukan sekadar kejadian alam, tetapi hasil dari sistem politik dan ekonomi yang ekstraktif.
“Beban kerusakan lingkungan didistribusikan secara tidak adil. Keuntungan dinikmati segelintir elite, sementara dampak penyakit dan bencana dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Forum tersebut menekankan pentingnya pendidikan inklusif, tidak hanya melalui jalur formal, tetapi juga edukasi lingkungan kepada masyarakat luas. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil dinilai menjadi kunci dalam mencegah krisis kesehatan sekaligus memulihkan keseimbangan ekologis di Indonesia.
Tantangan Utama dalam Pengelolaan Lingkungan
- Perubahan iklim yang semakin parah
- Polusi udara dan air yang merusak kesehatan masyarakat
- Eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan
- Kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan lingkungan
- Kebijakan lingkungan yang tidak konsisten dan sering bertentangan dengan keberlanjutan
Solusi yang Diperlukan
- Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan
- Penegakan regulasi lingkungan yang lebih ketat
- Penguatan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan
- Kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan solusi berkelanjutan
- Pendidikan lingkungan yang lebih luas dan inklusif





