Kredibilitas Dewan Perdamaian Diuji Akibat Serangan AS-Israel ke Iran
Ahmad Khoirul Umam, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Paramadina, memberikan tanggapan terhadap serangan yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran. Menurutnya, serangan tersebut menjadi ujian kredibilitas terhadap Board of Peace atau Dewan Perdamaian.
“Serangan terhadap Iran ini memperlihatkan kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan. Hal ini juga menguji kredibilitas narasi perdamaian melalui Board of Peace (BoP),” ujar Ahmad dalam keterangan yang dikonfirmasi.
Selain itu, ia menilai bahwa serangan terhadap Iran bisa memicu negara-negara Islam yang relatif independen, seperti Turki maupun Indonesia, untuk merefleksikan kembali kerja sama dengan BoP. Dalam konteks ini, peran BoP sebagai pelaku perdamaian semakin diperlukan agar situasi tidak semakin memburuk.
Kekuatan Dunia Perlu Dorong Deeskalasi
Ahmad juga menekankan bahwa semua elemen kekuatan dunia harus mendorong deeskalasi dalam konflik antara AS-Israel dan Iran. Ia menilai bahwa upaya AS dan Israel untuk menetralisasi Iran bukan hanya tentang menaklukkan satu negara, tetapi juga langkah proyek rekayasa ulang keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah.
Ia mengingatkan bahwa jika situasi di kawasan Timur Tengah dianggap sebagai hal biasa dan dunia berdiam diri, maka langkah AS secara mandiri atau bersama Israel berpotensi besar menyasar belahan dunia lain.
“Termasuk Greenland, Kanada, atau kawasan Eropa dan Amerika Latin lainnya akan menjadi sasaran selanjutnya,” katanya.
Serangan Terhadap Iran dan Respons Iran
Sebelumnya, Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Pada kesempatan yang berbeda, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Salah satu serangan AS bersama Israel adalah tujuh roket yang menghantam Teheran, dan dekat dengan kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan roket terhadap Israel, serta beberapa target lain di Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain. Respons ini menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan negara-negara Barat terus berlanjut dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.
Prabowo Siap Fasilitasi Dialog
Dalam konteks ini, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengungkapkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto siap bertolak ke Iran untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk menjaga stabilitas regional dan global, serta berperan aktif dalam proses diplomasi.
Kesimpulan
Serangan AS-Israel terhadap Iran telah memicu reaksi luas dari berbagai pihak, termasuk para ahli hubungan internasional. Ahmad Khoirul Umam menilai bahwa situasi ini tidak hanya menguji kredibilitas BoP, tetapi juga menunjukkan potensi risiko yang lebih luas bagi kawasan lain. Dengan adanya respons dari Iran dan upaya diplomasi oleh Indonesia, pentingnya dialog dan deeskalasi konflik semakin terasa. Masyarakat internasional harus tetap waspada dan aktif dalam menciptakan perdamaian di tengah ketegangan yang terjadi.





