Ahli UI ungkap alasan produsen mobil listrik tahan harga

Aa1xls23 2
Aa1xls23 2

Penjelasan Pakar UI tentang Stabilitas Harga Mobil Listrik 2026



Harga jual mobil listrik (EV) pada tahun 2026 tercatat stabil dan tidak mengalami kenaikan. Meskipun insentif pajak yang selama ini diberikan masih dalam perdebatan, para produsen tetap mempertahankan harga jual mereka.

Menurut Dr. Riyanto, peneliti LPEM Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia, ada beberapa alasan mengapa produsen mobil listrik memilih untuk tidak menaikkan harga meski insentif pajak berpotensi berkurang. Salah satu faktor utamanya adalah risiko penurunan penjualan jika harga naik.

“Dengan asumsi semua faktor lain dianggap sama atau konstan. Untuk mobil listrik elastisitas price-nya -1,” jelas Dr. Riyanto. Artinya, jika harga mobil listrik meningkat sebesar 1 persen, maka permintaan akan turun sebesar 1 persen juga.

Jika semua insentif pajak dihapus, maka ada tiga konsekuensi yang mungkin terjadi:

  • Pertama, harga jual mobil listrik akan meningkat sesuai dengan penambahan pajak yang hilang, seperti PPN 12 persen dan PPnBM 15 persen, sehingga totalnya mencapai 27 persen.
  • Jika harga naik sebesar 27 persen, maka potensi kehilangan permintaan pasar bisa turun sebanyak 27 persen juga.
  • Kedua, produsen akan mencari cara untuk mengurangi biaya produksi agar harga unit tidak naik.
  • Ketiga, produsen akan mengurangi margin atau keuntungan.
  • Produsen akan menahan diri untuk tidak mengambil keuntungan besar agar tidak menyebabkan penurunan permintaan.

Namun, saat ini Dr. Riyanto belum mengetahui secara pasti pilihan yang diambil oleh produsen. Ia menilai bahwa untuk mobil CBU (Completely Built Up), kemungkinan besar harga akan naik karena aturan yang sudah berlaku sejak akhir tahun lalu.

Sementara itu, untuk mobil CKD (Completely Knocked Down) dengan syarat TKDN tertentu, produsen masih dapat menikmati fasilitas insentif, yaitu pengurangan PPN menjadi 2 persen dan PPNBM dihapuskan.

“Nah, kalau semua produk yang dulu diimpor sudah dirakit di sini dan memenuhi TKDN 40 persen, mestinya mereka aman dan harga masih bisa dikontrol,” tutupnya.

Perkembangan Pasar Mobil Listrik

Pasar mobil listrik terus berkembang, dan hal ini berdampak pada sektor-sektor terkait, seperti penjualan ban. Contohnya, penjualan ban Michelin ikut terdongkrak karena permintaan mobil listrik meningkat.

Selain itu, acara IIMS 2026 juga mencatat prestasi dari BYD sebagai produsen mobil listrik kelas dunia. Meski mobil listrik tertentu tidak dijual di Indonesia, mobil tersebut justru menjadi mobil patroli baru bagi polisi lalu lintas.

Pos terkait