Ajudan Presiden Ke-6 Dipanggil Prabowo Subianto, Satgultor 81

Pasukan Satgultor 81 Bentukan Prabowo Subianto 1
Pasukan Satgultor 81 Bentukan Prabowo Subianto 1

Presiden Prabowo Subianto Mengapresiasi Ajudan Almarhum Try Sutrisno

Pada upacara pemakaman almarhum Wakil Presiden ke-6, Try Sutrisno di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta pada Senin (2/3/2026), Presiden Prabowo Subianto menunjukkan apresiasi terhadap salah satu ajudannya. Peristiwa ini menjadi sorotan dan viral di media sosial.

Pertemuan yang Tidak Terduga

Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Sarmili, ajudan almarhum Try Sutrisno, saat prosesi pemakaman berlangsung. Saat sedang berjalan menuju tempat upacara, Presiden tiba-tiba menghentikan langkahnya dan memanggil Sarmili.

“Sarmili,” kata Presiden.

“Siap,” jawab suara dari luar kamera.

Sementara itu, Sarmili yang mengenakan baju koko putih, celana panjang hitam, dan kopiah senada segera mendekati Presiden. Presiden kemudian menjelaskan kepada Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin bahwa Sarmili adalah mantan ajudan dirinya.

“Ajudan pak Try. Dari ajudan saya jadi ajudan pak Try,” ujar Presiden.

Setelah itu, Sarmili bersalaman dengan Presiden. Presiden bertanya, “Berapa tahun ikut pak Try?”

“16,” jawab Sarmili.

“16 tahun yah. Luar biasa,” kata Presiden Prabowo.

Latar Belakang Sarmili

Setelah peristiwa tersebut, diketahui bahwa Sarmili adalah mantan anggota Satuan Penanggulangan Teror 81 atau Satgultor-81. Satgultor merupakan satuan elite milik Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Selama 16 tahun bekerja sebagai ajudan, ia menunjukkan dedikasi tinggi terhadap almarhum Try Sutrisno.

Profil Singkat Try Sutrisno

Try Sutrisno lahir pada tahun 1936 dan diterima sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Ia juga memiliki hubungan dekat dengan Presiden Soeharto sejak masa Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962.

Pada 1974, Try Sutrisno terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto. Pada Agustus 1985, ia naik pangkat menjadi Letnan Jenderal TNI dan diangkat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) mendampingi Kasad saat itu, Jenderal TNI Rudhini.

Beberapa bulan kemudian, pada Juni 1986, ia diangkat menjadi Kasad menggantikan Rudhini. Setelah itu, pada periode 1992-1997, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memilih Try Sutrisno menjadi Wakil Presiden mendampingi Soeharto melalui Sidang Umumnya pada 1993.

Tugasnya sebagai Wakil Presiden berakhir pada 1998, setelah digantikan oleh BJ. Habibie dalam Sidang Umum MPR.

Upacara Pemakaman Militer

Almarhum Try Sutrisno wafat pada pukul 06.58 WIB, Senin (2/3/2026), di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Ia meninggal dunia di usia 90 tahun. Presiden Prabowo Subianto memimpin upacara pemakaman secara militer.

Upacara tersebut mencerminkan penghargaan terhadap jasa-jasa besar almarhum dalam sejarah bangsa Indonesia. Dengan kehadiran Presiden dan para pejabat negara, upacara ini menjadi simbol penghormatan bagi seorang tokoh penting yang telah memberikan kontribusi besar bagi tanah air.


Pos terkait