Akibat konflik Timur Tengah, Umrah Terancam Kerugian Miliaran Rupiah

Dampak Konflik Timur Tengah pada Bisnis Umrah

Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat telah berdampak luas, tidak hanya memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah tetapi juga mengganggu bisnis umrah. Banyak biro perjalanan kini sedang menghitung kerugian yang bisa mencapai miliaran rupiah akibat ancaman pembatalan keberangkatan jemaah.

Banyak persiapan telah selesai, termasuk pengajuan visa, tiket pesawat yang sudah dikonfirmasi, dan pembayaran hotel di Makkah. Namun situasi penerbangan di kawasan tersebut terus berubah cepat, sehingga menimbulkan ketidakpastian.

Biaya Terbesar Terserap pada Akomodasi

Menurut Direktur PT Dago Wisata Internasional, Dodi Sudrajat, biaya terbesar dalam paket umrah adalah akomodasi. Dengan paket keberangkatan seharga sekitar Rp50 juta, sekitar 60 persen dana dialokasikan untuk penginapan, sementara 40 persen untuk tiket pesawat.

Masalahnya, tiket pesawat masih bisa direfund sesuai kebijakan maskapai, namun hotel di Makkah tidak bisa dijadwal ulang. Dana yang sudah masuk praktis hangus jika pembatalan terjadi.

“Kalau satu bus saja, dengan rata-rata biaya akomodasi Rp20–30 juta per orang, potensi kerugian bisa tembus Rp1 miliar,” ujarnya.

Ramadan tahun ini, Dago Wisata menyiapkan hingga 10 bus keberangkatan, tersebar dari awal hingga akhir bulan. Jika gangguan penerbangan meluas dan pembatalan terjadi di lebih dari satu kloter, akumulasi kerugian berpotensi berlipat.

Tantangan bagi Agen Travel

Dodi mengakui bahwa para agen travel kini berada dalam posisi sulit. Membatalkan perjalanan berarti menanggung kerugian besar di sisi hotel dan operasional. Namun tetap memaksakan keberangkatan juga berisiko jika situasi keamanan memburuk.

“Sampai saat ini kami belum batalkan,” ujarnya.

Dodi berharap pemerintah mengambil langkah sigap dengan pertimbangan yang ada, dan tidak melewatkan momentum istimewa ini.

Mitigasi yang Dilakukan Pemerintah

Dago Wisata sendiri telah memberangkatkan Jemaah umrah pada awal Ramadan sebanyak tujuh bis. Mereka pun, kata Dodi, telah kembali ke Indonesia.

“Ya, harapan pemerintah dengan mitigasi ini selalu update karena mitigasi kemarin tentunya beda dengan kondisi sekarang.”

“Nah, mitigasi yang dilakukan oleh Kementerian Haji, dengan database yang sudah kita siapkan, sehingga menjadi analisa. Tidak di universalkan semuanya ini rawan, tapi lihat airline-nya mana yang kira-kira ada risiko, tidak melintas daerah konflik,” katanya.

Kepercayaan dan Persiapan Jemaah

Menghadapi berbagai dinamika perjalanan ibadah ke Tanah Suci, para jemaah diimbau untuk tetap menjaga semangat dan keyakinan. Keberangkatan disebut sebagai bagian dari takdir Allah, yang harus disertai dengan ikhtiar dan persiapan sebaik mungkin.

“Semuanya adalah takdir. Kalau memang takdirnya berangkat, dengan upaya yang sudah kita siapkan, maka Allah yang akan memanggil. Labaik Allahumma labaik,” ujarnya.

Ia menegaskan ketika merasa terpanggil, jemaah harus memantaskan diri agar layak menjadi tamu Allah dan diberangkatkan sesuai jadwal.

“Pastikan niat kita semakin kencang lagi untuk bisa sampai ke Baitullah dengan tuntunan semata-mata mencari rida Allah untuk kemabruran insya Allah,” kata Dodi.


Pos terkait