Pemantauan Aktivitas Gunung Merapi pada 3 Maret 2026
BPPTKG Yogyakarta merilis hasil pemantauan aktivitas Gunung Merapi selama periode pengamatan hari ini, Selasa (3/3/2026), dari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Data yang diperoleh menunjukkan beberapa kejadian penting terkait aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Guguran Lava dan Gempa Guguran
Selama periode pengamatan, tercatat lima kali guguran lava yang mengarah ke Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2000 meter. Selain itu, terdapat 29 kali gempa guguran dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 16 mm dan durasi gempa antara 67,12 hingga 160,46 detik.
Gempa Hybrid/Fase Banyak
BPPTKG juga mencatat 22 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo antara 2 hingga 32 mm. Pada kejadian ini, S-P tidak teramati dan durasi gempa berkisar antara 10,18 hingga 37,77 detik.
Status Level Siaga
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan level III (Siaga) untuk Gunung Merapi, yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih tinggi dan potensi bahaya tetap ada.
Kondisi Visual dan Cuaca
Dalam pengamatan visual, Gunung Merapi terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan kategori 0-I. Asap kawah tidak teramati. Dari sisi klimatologi, cuaca di sekitar puncak Merapi mendung dengan angin tenang yang bergerak ke arah timur. Suhu udara berkisar antara 18,7 hingga 20°C. Kelembaban udara mencapai 93,6 hingga 99 persen, sedangkan tekanan udara berada pada kisaran 871,2 hingga 914 mmHg.
Rekomendasi BPPTKG Yogyakarta
Berdasarkan data pemantauan, BPPTKG Yogyakarta memberikan rekomendasi terkait potensi bahaya yang saat ini masih ada. Bahaya guguran lava dan awan panas guguran (APG) terjadi pada sektor selatan-barat daya, termasuk Sungai Boyong hingga jarak maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga jarak maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara, bahaya APG meliputi Sungai Woro hingga jarak maksimal 3 km dan Sungai Gendol hingga jarak maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Potensi Awan Panas Guguran
Data pemantauan menunjukkan bahwa suplai magma masih berlangsung, sehingga potensi terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya tetap ada. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah yang dianggap berbahaya. Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
Perubahan Aktivitas
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat dan menjaga kesiapan mitigasi bencana.





