Pelangi di Mars: Film Anak Lokal yang Dibuat dengan Kepedulian dan Teknologi
Film Pelangi di Mars kini menjadi salah satu proyek film Indonesia yang menarik perhatian publik. Di bawah arahan sutradara Upie Guava dan produser Dendi Reynando, film ini telah melalui proses penggarapan yang cukup panjang. Tidak hanya itu, film ini juga memiliki pesan penting tentang literasi anak dan pentingnya membentuk generasi muda yang lebih baik.
Kekecewaan terhadap Kurangnya Film Anak Lokal di Bioskop
Dendi Reynando mengungkapkan bahwa alasan utama ia memproduseri film Pelangi di Mars adalah karena kekhawatirannya terhadap kurangnya film lokal yang ramah anak dan keluarga. Ia merasa bahwa saat ini, banyak orang tua yang kesulitan menemukan film yang cocok untuk anak-anak mereka di bioskop. Sebagian besar pilihan yang tersedia cenderung berasal dari luar negeri, seperti Hollywood.
“Film ini kita sudah inisiasi dari 2020. Kita berangkat dari kegelisahan secara personal bahwa kids and family movie itu under supply di Indonesia. Setiap kita ajak anak-anak ke bioskop, pilihannya gak selalu ada. Kalau pun ada biasanya Hollywood, (film) Indonesia itu mungkin jarang,” ujar Dendi dalam konferensi pers di Jakarta.
Upie Guava dan Kekhawatiran Literasi Anak
Selain Dendi, sutradara Upie Guava juga merasakan kekhawatiran serupa. Sebagai seorang ayah dan penggemar industri hiburan, ia merasa bahwa saat ini literasi anak sangat minim. Selain itu, ia juga khawatir dengan munculnya konsep dewasa yang tidak tepat pada anak-anak masa kini.
Upie menjelaskan bahwa ia ingin menghadirkan film yang bisa memberikan inspirasi bagi anak Indonesia. Ia ingin menunjukkan bahwa menjadi dewasa bukan sekadar soal uang atau kesenangan, tetapi lebih pada kontribusi dan manfaat bagi orang lain.
“Mungkin pendapat saya sangat subjektif, ya. Saya punya anak, dan melihat sepertinya Indonesia kurang banget literasi yang memantik seorang anak tuh pengin berguna, pengin bermanfaat. Buat mereka (anak-anak) menjadi dewasa itu artinya duit banyak, gak banyak kerja. Mereka gak paham konsep menjadi dewasa itu soal mengabdi, fungsi, bermanfaat. Nah, itu yang saya pribadi sebagai orangtua, sangat saya khawatirkan,” kata Upie.

Proses Penggarapan yang Panjang dan Penuh Tantangan
Proses pembuatan film Pelangi di Mars membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar lima tahun. Upie mengatakan bahwa sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk membangun studio dan teknologi canggih. Tiga tahun pertama digunakan untuk riset dan pengembangan teknologi animasi dan CGI, sementara dua tahun terakhir digunakan untuk produksi film itu sendiri.
“Bisa dibilang ini film dibuat cukup lama, 5 tahun. Tiga tahunnya kita habiskan untuk membuat pabriknya karena kami merasa teknologi CGI, animation, dan lain-lain, ya kami bikin dulu. Tiga tahun kami R&D, kami melakukan banyak hal yang mungkin tidak semua orang mau melakukannya, dan dua tahun terakhir kita buat film ini,” jelas Upie.

Selama proses produksi, Upie dan Dendi didukung oleh sekitar 300 animator dari berbagai animation house. Meskipun prosesnya penuh tantangan, mereka tetap berkomitmen untuk menyelesaikan film ini.
Persiapan Film Pelangi di Mars Sudah Hampir Rampung
Saat ini, persiapan film Pelangi di Mars sudah hampir rampung. Film ini akan tayang di bioskop Indonesia pada momen Lebaran 2026. Bagi para penonton yang antusias, masih harus menunggu beberapa waktu lagi sebelum film ini resmi dirilis.
Dengan pesan yang kuat dan kualitas produksi yang tinggi, Pelangi di Mars diharapkan dapat menjadi contoh film lokal yang mampu menarik minat anak-anak dan keluarga.





