Ali Khamenei Meninggal, Ahlulbait: Kerugian bagi Umat Islam

Aa1i2bdr 2
Aa1i2bdr 2

Kematian Ayatollah Ali Khamenei dianggap sebagai kehilangan besar bagi umat Islam

Kemunculan berita kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menjadi peristiwa yang mengejutkan dan menyedihkan bagi banyak pihak. Dikabarkan bahwa ia tewas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap ibukota negara tersebut, Teheran, pada hari Sabtu, 28 Februari 2026. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang dunia, tetapi juga menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan, termasuk organisasi seperti AHLULBAIT Indonesia (ABI).

Peran Ayatollah Ali Khamenei dalam Perlawanan terhadap Hegemoni Global

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat ABI, Zahir Yahya, menyampaikan bahwa Khamenei bukan hanya seorang pemimpin politik, tetapi juga simbol keteguhan prinsip dan keberanian dalam menghadapi dominasi kekuatan global. Menurutnya, kepemimpinan Khamenei merepresentasikan garis perlawanan yang mempertahankan kemandirian dan martabat bangsa Iran.

ABI memandang kematian Khamenei sebagai kejahatan politik yang mencederai prinsip kedaulatan negara serta norma dasar kemanusiaan dan agama. Zahir menilai bahwa serangan terhadap pemimpin negara berdaulat sekaligus rujukan keagamaan bagi puluhan juta umat merupakan preseden berbahaya yang menggerus fondasi hukum internasional. Hal ini menunjukkan praktik imperialisme modern dalam bentuk nyata.

Serangan AS-Israel terhadap Iran

Serangan yang dilakukan oleh Israel tanpa provokasi sebelumnya terhadap Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, disebut sebagai operasi militer gabungan antara AS dan Israel. Media pemerintah Iran, Fars, melaporkan kematian Ayatollah Ali Khamenei. Sementara itu, Sky News mencatat bahwa Iran mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah dia dibunuh di kantornya pada dini hari Sabtu.

Selain Khamenei, sejumlah anggota keluarganya disebut tewas dalam serangan tersebut. Al Arabiya melaporkan, mengutip sumber-sumber terpercaya dalam keluarga pemimpin tertinggi, bahwa seorang putri, seorang menantu laki-laki, seorang cucu, dan seorang menantu perempuan Khamenei termasuk di antara korban tewas.

Empat Pernyataan Sikap AHLULBAIT Indonesia

Menanggapi dinamika ini, Ahlulbait Indonesia mengeluarkan empat pernyataan sikap:

  1. Penghormatan tertinggi kepada Ali Khamenei

    ABI menyatakan penghormatan tertinggi kepada Ali Khamenei. “Kesyahidan Imam Ali Khamenei merupakan kemuliaan dalam jalan perjuangan. Amanah kepemimpinan telah ditunaikan dengan konsistensi, keberanian, dan keteguhan hingga akhir hayat,” kata Zahir.

  2. Sikap anti-penjajahan

    ABI menegaskan sikap anti-penjajahan. Menurut Zahir, ABI dengan tegas menolak segala bentuk penjajahan, dominasi, dan intervensi asing terhadap bangsa mana pun. Kata Zahir, perlawanan terhadap kezaliman adalah mandat moral yang tidak bergantung pada situasi.

  3. Konsolidasi solidaritas umat

    ABI menyerukan kepada umat Islam, khususnya pengikut Ahlulbait di Indonesia, untuk memperkuat persatuan, meningkatkan literasi politik, dan memperkokoh barisan dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

  4. Seruan spiritualitas dan keteguhan

    ABI mengajak penyelenggaraan majelis doa dan tilawah Al-Quran selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan dan penguatan rohani. “Semoga Allah SWT menerima seluruh amal dan jihad beliau, menempatkannya bersama para syuhada dan shalihin, serta meneguhkan hati umat dalam melanjutkan perjuangan menegakkan keadilan dan martabat kemanusiaan,” kata Zahir.

Pos terkait