Perjalanan Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Ayatollah Ali Khamenei adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah modern Iran. Ia pernah menjabat sebagai presiden negara tersebut antara tahun 1981 hingga 1989, di mana ia memimpin Iran selama masa perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun. Pengalaman perang ini membentuk pandangan Khamenei yang penuh kewaspadaan terhadap kekuatan Barat, terutama Amerika Serikat dan Israel.
Pada masa kepemimpinan Khamenei, Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang dari pasukan paramiliter menjadi institusi kuat yang menguasai bidang keamanan, politik, dan ekonomi. IRGC juga menjadi pusat pengaruh Iran di kawasan, serta menjaga stabilitas negara melawan ancaman eksternal dan internal.
Khamenei lahir pada tahun 1939 di kota suci Syiah Mashhad, Iran timur laut. Ia berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang agama yang kuat. Ayahnya adalah seorang pemimpin Muslim ternama, sementara ibunya dikenal sebagai pembaca Al-Qur’an yang tekun. Khamenei mulai belajar Al-Qur’an pada usia empat tahun dan menempuh pendidikan dasar di sekolah Islam pertama di Mashhad. Meski tidak menyelesaikan pendidikan menengah, ia kemudian melanjutkan studi teologi dan bergabung dengan lingkungan ulama ternama, termasuk ayahnya dan Sheikh Hashem Ghazvini. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Qom dan Najaf, tempat ia dekat dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Karier Politik dan Peran dalam Revolusi
Sebagai aktivis politik, Khamenei sering kali ditangkap oleh polisi rahasia Shah (SAVAK) dan diasingkan ke kota Iranshahr. Namun, ia tetap aktif dalam gerakan anti-Pahlavi dan berkontribusi dalam protes 1978 yang akhirnya menggulingkan monarki Pahlavi.
Setelah revolusi 1979, Khamenei menjadi tokoh penting dalam membangun Iran baru. Ia sempat menjabat menteri pertahanan pada tahun 1980 dan kemudian mengawasi IRGC setelah pecahnya perang Iran-Irak. Sebagai orator ulung, ia juga menjadi imam salat Jumat di Teheran.
Tahun 1981 menjadi titik penting dalam karier Khamenei: ia kehilangan fungsi lengan kanan akibat percobaan pembunuhan oleh kelompok oposisi MEK, dan di tahun yang sama terpilih sebagai presiden, menjadi presiden ulama pertama Iran. Pada 1989, wafatnya Khomeini menjadi titik balik. Dewan revisi konstitusi menunjuk Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, meskipun ia tidak memenuhi syarat ulama tinggi.
Pandangan dan Kebijakan Khamenei
Pandangan Khamenei tentang dunia dipengaruhi oleh pengalamannya selama perang Iran-Irak. Ia percaya bahwa Iran harus selalu siaga menghadapi ancaman eksternal maupun internal. Dalam visinya, IRGC berkembang menjadi institusi yang kuat, bukan hanya dalam bidang keamanan, tetapi juga politik dan ekonomi. Ia juga mendorong “ekonomi perlawanan” untuk meningkatkan kemandirian Iran dalam menghadapi sanksi Barat.
Namun, kebijakan Khamenei tidak selalu mendapat dukungan. Pada 2009, demonstran turun ke jalan menentang hasil pemilu presiden yang mereka klaim curang, dan pada 2022, isu hak-hak perempuan menjadi sorotan. Tantangan terbesar mungkin datang pada Januari lalu, ketika protes akibat kesulitan ekonomi berkembang menjadi gejolak nasional.
Para pengkritik menilai Khamenei terlalu jauh dari realitas generasi muda yang menginginkan reformasi dan perbaikan ekonomi. Mereka menganggap penekanan berlebihan pada kemandirian nasional telah membuat Iran kehilangan dukungan rakyat.
Pendidikan dan Awal Karier
Khamenei menggambarkan ibunya, Khadijeh Mirdamadi, sebagai pembaca Al-Qur’an dan buku yang tekun, yang menanamkan kecintaan pada sastra dan puisi. Ia mulai belajar Al-Qur’an pada usia empat tahun dan menempuh pendidikan dasar di sekolah Islam pertama di Mashhad. Ia tidak menyelesaikan sekolah menengah, melainkan masuk sekolah teologi dan belajar dari ulama ternama, termasuk ayahnya dan Sheikh Hashem Ghazvini. Kemudian ia melanjutkan studi di pusat pendidikan Syiah di Najaf dan Qom.
Di Qom, ia belajar dari dan dekat dengan sejumlah ulama terkenal, termasuk Ayatollah Khomeini, yang populer di kalangan mahasiswa muda karena sikap menentangnya terhadap shah. Khamenei mengajar kursus fikih dan tafsir teologi publik, yang memberinya akses ke audiens yang semakin besar, terutama mahasiswa muda yang mulai kecewa dengan monarki.
Pemimpin Tertinggi dan Pengaruhnya
Setelah monarki digulingkan, Khamenei menjadi tokoh penting dalam membangun Iran baru. Ia sempat menjabat menteri pertahanan pada 1980 dan kemudian mengawasi IRGC setelah pecahnya perang Iran-Irak. Sebagai orator ulung, ia juga menjadi imam salat Jumat di Teheran.
Masa awalnya sebagai ayatollah ditandai dengan upaya membangun kembali negara yang hancur akibat perang delapan tahun dengan Irak. Lebih dari satu juta orang tewas, ekonomi porak-poranda, dan rakyat marah atas sikap dunia internasional yang dianggap pasif terhadap penggunaan senjata kimia oleh Irak.
Sebagai presiden, Khamenei sering mengunjungi garis depan, mendapatkan loyalitas IRGC dan pemahaman langsung tentang realitas perang. Namun suasana mulai berubah pada 1990-an. Negara membutuhkan investasi, sementara semangat revolusi mulai mereda. Reformis Mohammad Khatami memenangkan pemilu 1997 dengan agenda keterbukaan terhadap Barat.
Meski begitu, skeptisisme Khamenei terhadap Barat tetap kuat. Ia melihat suara reformasi sebagai ancaman, sehingga membangun basis pendukung loyal untuk melawan reformis. Ia memberi IRGC keleluasaan membangun jaringan bisnis yang mendominasi ekonomi Iran dan memperkuat pelatihan paramiliter, khususnya bagi generasi muda Basij. Pasukan inilah yang kemudian dikerahkan untuk menekan protes besar pasca pemilu 2009 yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad.





