Ali Larijani Kuasai Iran, Agen Khamenei Siap Hadapi Trump

Aa1xhwip 8
Aa1xhwip 8

Ali Larijani: Figur Kunci dalam Transisi Kekuasaan Pasca-Wafatnya Khamenei

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) telah mengguncang fondasi kekuasaan Republik Islam. Di tengah ketidakpastian suksesi, satu nama mencuat ke permukaan sebagai figur kunci yang diyakini memegang kendali transisi kekuasaan: Ali Larijani.

Media internasional, termasuk Al Jazeera, melaporkan bahwa Larijani disebut-sebut akan mengambil alih kendali negara dalam situasi genting pasca-wafatnya Khamenei. Meski demikian, hingga kini Iran belum secara resmi menetapkan sosok pengganti pemimpin tertinggi. Konstitusi Iran mengatur mekanisme khusus jika pemimpin tertinggi meninggal dunia, menjadikan proses suksesi sebagai pertaruhan politik yang sensitif dan menentukan arah masa depan negara tersebut.

Larijani dan Kedekatannya dengan Khamenei

Ali Larijani bukan sosok sembarangan dalam struktur kekuasaan Iran. Ia baru-baru ini dipercaya untuk menjalankan misi diplomatik penting, termasuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa serta menjalin komunikasi dengan sejumlah pejabat negara Teluk yang berperan sebagai mediator antara Teheran dan Washington.

Dikenal sebagai figur berkacamata dengan gaya bicara tenang dan terukur, Larijani diyakini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Khamenei. Rekam jejak panjangnya di militer, media, dan legislatif membuatnya memahami secara mendalam anatomi sistem politik Iran yang kompleks dan berlapis.

Ia kembali menjabat sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) tak lama setelah konflik Iran-Israel meletus pada 2025. Jabatan ini bukan hal baru baginya, karena hampir dua dekade lalu ia pernah menduduki posisi yang sama, yang berfungsi mengoordinasikan strategi pertahanan serta mengawasi secara penuh program nuklir Iran.

“Dia sekarang memainkan peran yang lebih menonjol daripada kebanyakan pendahulunya,” kata Ali Vaez, direktur proyek International Crisis Group untuk Iran.

“Larijani adalah orang dalam sejati, seorang operator yang cerdik, memahami cara kerja sistem dan memahami kecenderungan pemimpin tertinggi,” lanjutnya.

Lahir dari Lingkaran Elite Republik Islam

Larijani lahir di Najaf, Irak, pada 1957 dari keluarga ulama terkemuka yang memiliki kedekatan dengan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Selama puluhan tahun, keluarga Larijani dikenal memiliki pengaruh signifikan dalam lanskap politik Iran.

Meski beberapa kerabatnya sempat diterpa tuduhan korupsi, semua tudingan tersebut dibantah. Dari sisi akademik, Larijani memiliki latar belakang kuat dengan gelar doktor filsafat Barat dari Universitas Teheran—sebuah kombinasi langka antara pendidikan modern dan akar ideologis Republik Islam.

Sebagai veteran Korps Garda Revolusi Islam dalam perang Iran-Irak, ia kemudian memimpin lembaga penyiaran negara IRIB selama satu dekade sejak 1994. Karier politiknya berlanjut sebagai Ketua Parlemen Iran selama tiga periode, dari 2008 hingga 2020.

Pada 1996, ia ditunjuk langsung sebagai perwakilan Khamenei di SNSC, mempertegas statusnya sebagai orang kepercayaan inti lingkaran kekuasaan. Meski sempat kalah dalam pemilihan presiden 2005 dari Mahmoud Ahmadinejad dan didiskualifikasi dalam pencalonan 2021 serta 2024, kembalinya Larijani ke jantung keamanan nasional dipandang sebagai sinyal kembalinya manajemen keamanan yang lebih pragmatis.

Antara Negosiasi dan Ancaman Konfrontasi

Dalam isu paling krusial bagi Iran, yaitu program nuklir, Larijani dikenal konsisten membela hak kedaulatan negaranya untuk melakukan pengayaan uranium. Namun, ia juga menekankan pentingnya penyelesaian cepat melalui jalur diplomasi.

Ia bahkan memperingatkan bahwa tekanan eksternal berlebihan justru bisa mendorong perubahan arah kebijakan nuklir Iran.

“Kami tidak bergerak menuju senjata (nuklir), tetapi jika Anda melakukan kesalahan dalam masalah nuklir Iran, Anda akan memaksa Iran untuk bergerak ke arah itu karena mereka harus membela diri,” katanya kepada televisi pemerintah.

Pasca-konflik dengan Israel, Larijani menyebut kekhawatiran Barat terhadap program nuklir Iran sebagai dalih untuk konfrontasi yang lebih luas. Ia berulang kali menegaskan bahwa pembicaraan dengan Washington harus tetap dibatasi pada isu nuklir dan tidak melebar ke agenda lain.

“Kami menginginkan penyelesaian yang cepat untuk masalah ini,” katanya dalam wawancara terbaru dengan Al Jazeera, merujuk pada pembicaraan dengan AS.

Menurut Larijani, kemungkinan perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat relatif kecil. Ia menilai Washington pada akhirnya akan menyadari bahwa risiko konflik bersenjata jauh lebih besar dibandingkan potensi keuntungannya.

Menjaga Sistem, Menjaga Masa Depan

Di balik sikapnya yang tampak moderat dan kalkulatif, para analis melihat ambisi politik jangka panjang yang membentuk langkah-langkah Larijani. Ali Vaez menilai, kehati-hatian Larijani berakar pada target yang lebih besar.

“Dia adalah pria ambisius yang mengincar jabatan yang lebih tinggi. Larijani jelas ingin menjadi presiden,” kata Vaez.

“Hal itu menciptakan dua insentif, pertama untuk menjaga sistem dan kedua untuk tidak membakar kartunya.”

Di tengah kekosongan kepemimpinan pasca-Khamenei, Ali Larijani kini berdiri di persimpangan sejarah: antara stabilisator sistem yang terancam runtuh, atau figur transisi yang dapat menentukan arah baru Republik Islam Iran.

Pos terkait