Kehidupan dan Hukum yang Teratur
Kehidupan memiliki hukum dan ketentuan yang bila dilanggar, kehidupan itu terganggu atau kita gagal melakoninya. Segala sesuatu memiliki ukuran (qadar)nya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, yaitu QS. Al-Qamar: 49 dan Yasin: 38-40. Tidak ada yang acak, semua berada dalam sistem ukuran, hukum, dan ketentuan yang presisi, seperti yang dijelaskan dalam QS. Ar-Rahman: 5, 7 dan 9.
Tidak ada perubahan dalam sunnatullah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ahzab: 62 dan Yunus: 49. Sejarah dan sosial berlangsung menurut hukum dan ketetapannya. Melanggarnya pasti berkonsekuensi. Allah mengatur sejarah dan kegiatan sosial dari Langit ke Bumi, seperti disebutkan dalam QS. As-Sajdah: 5 dan Al-Ra’d: 11.
Maka, tidak salah jika para pakar melihat alam semesta seperti mesin raksasa yang bekerja dengan sistemnya. Teratur, tidak liar. Segala sesuatu “lemari”nya di sisi Allah dan dikeluarkan dari situ dalam ukurannya masing-masing, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hijr: 21.
Percaya kepada Takdir
Menurut pendapat saya, “percaya kepada takdir baik dan buruk” pada rukun keenam – versi rukun iman Sunni, maksudnya adalah percaya bahwa ada ketentuan, ketetapan Allah yang pasti berdampak baik atau buruk, bergantung pada cara manusia menyikapi ketentuan dan ketetapan Allah itu. Ilmu menjadi penting sebagai penuntun dalam melaksanakan rukun yang keenam itu (takdir).
Ringkasnya, semua ciptaan dan kejadian ada ukuran, takaran, ketentuan, qadar, dan ketetapannya dari Allah. Perang pun ada sunnatullahnya. Siapa yang kuat, pasti menang. Yang lemah, pasti kalah. Itu sunnatullah perang. Perang antara AS-Israel lawan Iran, tunduk pada sunnatullah itu.
Dalam konteks perang, kuat berarti unggul di semua segi (militer, pasukan, taktik, strategi, disiplin/dukungan rakyat, dst.). Tentu faktor penting dalam konteks hukum alam, sosial, sejarah dan moral seperti diurai di atas, ada ayat yang menarik untuk direnungkan.
Ayat-ayat Penting tentang Tipu Daya
Yaitu ayat pada QS. Ali Imran: 54, artinya: “Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya (perencana)”, dan ayat QS. Al-Anfal: 30, artinya: “Mereka merencanakan tipu daya, dan Allah membalas tipu daya itu. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
Kedua ayat itu menegaskan bahwa pihak mana yang merencanakan taktik dan strategi jahat, maka “Allah adalah sebaik-baik dalam bertaktik dan berstrategi!”.





