Altcoin memasuki pasar bear, sektor kripto ini tetap menarik

Aa1vybok 2
Aa1vybok 2



Tren Bearish Masih Menghiasi Pasar Kripto Global

Tren bearish masih terasa di seluruh industri kripto global, tidak hanya pada aset kripto utama seperti Bitcoin, tetapi juga pada kelompok altcoin. Menurut analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, prospek altcoin sepanjang 2026 kemungkinan tidak akan mengalami reli serentak seperti siklus euforia sebelumnya. Sebaliknya, pasar token non-bitcoin akan bergerak lebih selektif.

Fyqieh menilai bahwa pasar token non-bitcoin telah memasuki fase altcoin bear market sejak puncak akhir 2024. Riset institusional mencatat bahwa kapitalisasi pasar kripto di luar Bitcoin, Ethereum, dan stablecoin turun sekitar 44% hingga akhir 2025. Meski begitu, ia menekankan bahwa peluang tetap ada, tetapi lebih banyak mengalir ke altcoin yang memiliki use case jelas, likuiditas tebal, dan akses institusi.

Faktor Struktural yang Mempengaruhi Altcoin Bear Market

Kondisi bearish altcoin saat ini bukan sekadar koreksi normal. Ada beberapa faktor struktural yang masih menekan pasar, antara lain:

  • Masalah value capture token yang belum kuat.
  • Aktivitas on-chain yang melemah.
  • Arus spekulatif yang menyusut.

Fyqieh menambahkan bahwa jika likuiditas global tidak benar-benar longgar, maka altcoin mid hingga small cap dengan fundamental dan tokenomics yang lemah berpotensi sulit pulih sepanjang 2026.

Katalis yang Bisa Menopang Sentimen Pasar Kripto

Meski situasi bearish sedang terjadi, Fyqieh melihat adanya katalis yang bisa menopang sentimen pasar kripto tahun ini, terutama dari tema yang memiliki adopsi dunia nyata. Beberapa di antaranya adalah:

  • Stablecoin, yang tetap menjadi utilitas penting dalam ekosistem blockchain meski harga token berfluktuasi.
  • Sistem pembayaran berbasis blockchain, yang semakin diminati karena efisiensinya.
  • Tokenisasi aset dunia nyata (RWA), seperti obligasi pemerintah dan private credit, yang diperkirakan menjadi area pertumbuhan yang lebih cepat pada 2026.

Menurut Fyqieh, pasar stablecoin memasuki 2026 di kisaran US$ 310 miliar, yang menunjukkan bahwa utilitas blockchain masih berkembang meskipun fluktuasi harga terjadi.

Altcoin yang Masih Menarik Perhatian

Dari sisi aset, Fyqieh menilai altcoin berkapitalisasi besar masih relatif menarik untuk dicermati. Contohnya adalah Ethereum (ETH), yang tetap menjadi favorit karena perannya sebagai fondasi ekosistem DeFi dan smart contract.

Selain itu, jaringan layer-2 seperti Arbitrum, Optimism, Polygon, StarkNet, dan zkSync juga dipandang prospektif. Infrastruktur ini membantu meningkatkan skalabilitas Ethereum melalui biaya transaksi yang lebih rendah dan throughput lebih tinggi. Sektor ini berpotensi menarik lebih banyak pengguna aktif dan aktivitas DApps.

Tema AI-Crypto dan DeFi Tetap Relevan

Tema lain yang mulai mendapat perhatian pada 2026 adalah AI-crypto. Fyqieh mencontohkan Chainlink (LINK) sebagai penyedia oracle yang menjadi infrastruktur penting Web3, serta Bittensor (TAO) yang mengusung jaringan pembelajaran mesin terdesentralisasi. Meski menjanjikan, ia mengingatkan bahwa proyek AI-crypto umumnya masih membawa risiko lebih tinggi karena teknologinya relatif baru.

Sementara itu, sektor DeFi dinilai tetap relevan karena masih menjadi use case utama blockchain. Platform yang fokus pada lending, decentralized exchange (DEX), serta model yield yang berkelanjutan berpotensi mempertahankan minat pasar apabila pertumbuhan jaringan berlanjut dan risiko keamanan dapat ditekan.

Proyeksi Harga Altcoin pada 2026

Fyqieh menegaskan bahwa proyeksi harga altcoin sepanjang 2026 tetap sangat spekulatif. Pergerakan harga akan sangat bergantung pada adopsi pengguna, likuiditas global, regulasi, serta perkembangan teknologi masing-masing proyek.

“Altcoin dengan fundamental kuat dan utilitas nyata berpeluang menunjukkan kenaikan signifikan jika narasi tersebut benar-benar diterima pasar,” katanya.

Sebaliknya, altcoin yang utilitasnya kurang jelas berpotensi tetap tertekan. Karena itu, investor disarankan tetap berhati-hati, melakukan riset mandiri, serta menerapkan diversifikasi risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Pos terkait