Situasi di Kawasan Teluk Membara
Memasuki hari keempat, Selasa (3/3/2026), situasi di kawasan Teluk semakin membara antara Iran vs Israel dan Amerika Serikat (AS). Pada Senin (2/3/2026), asap hitam terlihat mengepul dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait, dibarengi dengan insiden jatuhnya beberapa jet tempur Washington di negara tersebut.
Pihak Kedutaan Besar AS di Kuwait belum memberikan pengumuman resmi mengenai adanya serangan langsung ke gedung mereka. Namun, pihak kedutaan mengeluarkan peringatan keamanan yang mendesak warga untuk menjauh dari lokasi. “Terdapat ancaman berkelanjutan dari serangan rudal dan drone di atas Kuwait. Jangan datang ke kedutaan,” bunyi pernyataan resmi tersebut. Pihak kedutaan juga menambahkan bahwa saat ini, personel kedutaan AS sedang berlindung di tempat.
Di saat yang bersamaan, Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa beberapa jet tempur milik AS jatuh dalam insiden terpisah. “Otoritas segera memulai operasi pencarian dan penyelamatan, mengevakuasi kru, dan membawa mereka ke rumah sakit untuk evaluasi medis dan perawatan,” jelas pihak kementerian. Saat ini, penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab jatuhnya pesawat-pesawat tersebut tengah dilakukan.
Serangan tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil. Di bagian utara Kuwait, saksi mata melaporkan kepulan asap di sebuah stasiun pembangkit listrik. Juru bicara Kementerian Energi Kuwait menjelaskan bahwa sebuah kontainer bahan bakar di stasiun tersebut terkena serpihan rudal saat pertahanan udara sedang mencegat drone, yang kemudian memicu kebakaran terbatas.
Selain itu, Iran mengeklaim telah menargetkan pangkalan udara Ali Al Salem yang menampung pasukan AS, serta kapal-kapal di Samudra Hindia dengan menembakkan 15 rudal jelajah. Di lokasi lain, serpihan rudal jatuh di kilang minyak Mina Al Ahmadi, salah satu yang terbesar di Kuwait, dan melukai dua pekerja, meskipun produksi dilaporkan tetap berjalan normal. Ledakan juga terdengar di berbagai kota besar di Teluk, termasuk Abu Dhabi, Dubai, Doha, dan Manama.
Di Uni Emirat Arab (UEA), puing-puing ledakan menghantam fasad Etihad Towers yang menampung beberapa kedutaan asing, termasuk kedutaan Israel, dan melukai seorang wanita serta seorang anak. Hingga saat ini, otoritas setempat melaporkan total lima orang tewas di seluruh kawasan Teluk akibat serangan ini, termasuk satu korban jiwa di Kuwait. Kondisi ini memicu kepanikan di kalangan warga sipil.
Dana Abbas, seorang insinyur yang tinggal di Kuwait City, mengaku segera bergegas mengisi bahan bakar dan menimbun kebutuhan pokok. “Saya sangat khawatir dengan eskalasi ini,” ungkapnya setelah sirene peringatan udara berbunyi di penjuru kota sejak subuh.
Amerika Ketar-ketir Kehabisan Rudal
Memasuki hari keempat, Selasa (3/3/2026), militer Amerika Serikat (AS) berpacu dengan waktu untuk melumpuhkan kekuatan rudal dan drone Iran. Langkah agresif ini diambil di tengah kekhawatiran bahwa Washington akan kehabisan stok rudal pencegat untuk menangkis serangan balasan dari Teheran.
Sejumlah pejabat, mantan pejabat, dan analis menyebutkan intensitas konflik di Timur Tengah telah menguji kapasitas stok pertahanan udara AS, yang dikenal dengan istilah magazine depth. Meskipun jumlah pasti persediaan rudal pencegat AS bersifat rahasia, rentetan konflik dengan Iran dan proksi-proksinya di kawasan tersebut dilaporkan telah menguras stok sistem pertahanan udara secara signifikan.
“Salah satu tantangannya adalah Anda dapat menghabiskan (stok) ini dengan sangat cepat,” ujar Kelly Grieco, peneliti senior di think tank Stimson Center. “Kita menggunakannya lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menggantinya,” tambah mantan pengajar di Air Command and Staff College tersebut.
Sejak Sabtu pagi waktu Teheran, AS dan sekutu regionalnya telah membombardir berbagai target di Iran, termasuk peluncur rudal dan lapangan udara. Seorang pejabat senior menyatakan, serangan tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam membalas serangan. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kampanye udara ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Melalui media sosial, Trump menyatakan tekadnya untuk mencapai stabilitas di kawasan.
“Pengeboman besar-besaran dan tepat sasaran akan terus berlanjut tanpa henti sepanjang minggu, atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan perdamaian di seluruh Timur Tengah dan dunia,” tulis Trump pada Sabtu.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam sebuah serangan udara. Israel memprediksi, tewasnya Khamenei tersebut diprediksi dapat mempercepat berakhirnya konflik, meski ketidakpastian mengenai sosok penggantinya masih menyelimuti situasi politik Iran.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon kini menghadapi dilema. Selain rudal Patriot dan SM-3, sistem pertahanan antirudal Thaad telah dikerahkan ke Israel dan Yordania. Namun, AS juga harus mempertahankan stok yang cukup untuk sistem Thaad di Korea Selatan dan Guam guna menangkal ancaman dari Korea Utara dan China.
Becca Wasser, peneliti senior di Center for a New American Security, menyoroti tingginya tingkat penggunaan rudal jelajah Tomahawk (TLAM) oleh AS, baik di Timur Tengah maupun dalam operasi lain seperti di Nigeria. “Dalam simulasi perang, TLAM adalah salah satu amunisi pertama yang habis dalam minggu pertama konflik AS-China,” kata Wasser. Menurutnya, Pentagon perlu melipatgandakan pengadaan dan produksi untuk menutupi kekurangan tersebut.
Meski keterlibatan militer Israel membantu meringankan beban serangan ofensif AS, negara tersebut juga menghadapi kendala logistik serupa. Israel dilaporkan masih kekurangan rudal pencegat Arrow 3 dan rudal balistik yang diluncurkan dari udara.
Jonathan Conricus, senior fellow di Foundation for Defense of Democracies, menilai bahwa sejauh ini volume serangan balasan Iran belum mencapai tingkat yang dikhawatirkan. Namun, dia menekankan bahwa pada akhirnya perang ini adalah masalah kalkulasi angka. “Ini berujung pada jumlah. Berapa banyak rudal pencegat yang kita miliki dibandingkan dengan berapa banyak peluncur yang mampu mereka (Iran) operasikan dan tembakkan,” jelas mantan juru bicara IDF tersebut.
Jika perang terus berlanjut dan kebutuhan akan rudal pencegat meningkat, Pentagon kemungkinan harus mengambil keputusan sulit untuk mengakses cadangan amunisi yang tersimpan di wilayah Pasifik.





