AMPG Menyesali Serangan AS-Israel terhadap Iran, Indonesia Harus Bersuara

Aa1xm63f 1
Aa1xm63f 1

Pemimpin Pusat Angkatan Muda Partai Golkar Mengecam Serangan Militer Gabungan AS-Israel ke Teheran

Pemimpin Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG) menyampaikan pernyataan tegas terkait serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Dalam pernyataannya, PP AMPG menilai tindakan tersebut sebagai langkah yang tidak hanya melanggar kedaulatan negara, tetapi juga mengancam perdamaian dunia.

Cederai Kemanusiaan dan Ramadan

Serangan militer ini dinilai oleh Ketua Umum PP AMPG, Said Aldi Al Idrus, sebagai tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal. Ia menyoroti bahwa waktu serangan jatuh pada bulan suci Ramadan 1447 H, yang menjadi momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia.

“Serangan ini bukan sekadar operasi militer. Ini tindakan yang mencederai kemanusiaan dan mengancam perdamaian dunia, apalagi dilakukan di bulan yang disucikan umat Islam,” ujar Said Aldi.

Ia turut menyinggung peran mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam operasi tersebut. Menurutnya, tindakan militer terbuka yang menewaskan pemimpin negara berdaulat berpotensi memicu eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Tidak hanya itu, Said Aldi menyebut laporan media internasional menunjukkan dampak serangan meluas hingga kawasan strategis di Teheran. Korban sipil dilaporkan berjatuhan dan ribuan warga terpaksa mengungsi.

“Ketika bom dijatuhkan, rakyat sipil yang paling menderita. Anak-anak, perempuan, dan orang tua menjadi korban tragedi kemanusiaan,” tegasnya.

Dianggap Langgar Kedaulatan dan Hukum Internasional

PP AMPG juga menegaskan sikapnya sejalan dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia bahwa setiap negara memiliki kedaulatan yang wajib dihormati. Menurut Said Aldi, tindakan militer sepihak merupakan bentuk pengingkaran terhadap prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Apapun dalihnya, pendekatan bersenjata yang menghilangkan nyawa dan menghancurkan infrastruktur sipil adalah kemunduran peradaban. Dunia harus bergerak ke arah dialog, bukan dominasi militer,” katanya.

Ia mengingatkan, pembunuhan terhadap pemimpin negara melalui serangan terbuka dapat menyeret kekuatan global ke pusaran konflik yang lebih besar, dengan dampak bukan hanya regional, tetapi juga global—termasuk terhadap stabilitas ekonomi dan energi dunia.

Serukan Peran Aktif Indonesia

Dalam pernyataannya yang didampingi jajaran pengurus, Said Aldi mendorong pemerintah Indonesia mengambil posisi tegas di forum internasional untuk menyerukan penghentian kekerasan dan mendorong gencatan senjata.

“Indonesia, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, punya tanggung jawab moral untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi. Kita tidak boleh diam,” ujarnya.

Ia meminta jalur diplomasi diintensifkan, termasuk melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan PBB, guna mencegah konflik meluas.

Namun demikian, Said Aldi menekankan bahwa kecaman tidak boleh berhenti pada pernyataan moral semata. Dunia, kata dia, harus kembali pada kesadaran bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan membangun perdamaian.

“Jika kekerasan terus dijadikan solusi, maka dunia sedang berjalan mundur,” ujarnya.

Pos terkait