Amvesindo: Industri Modal Ventura Lebih Selektif dan Fokus pada Sektor Defensif

Aa1qi2uh 3
Aa1qi2uh 3



Di tengah situasi ketidakpastian global yang memengaruhi kinerja berbagai sektor industri, khususnya di bidang modal ventura, Asosiasi Modal Ventura Indonesia untuk Startup Indonesia (Amvesindo) menekankan bahwa keberlanjutan menjadi hal utama dalam menjaga ekosistem pendanaan dan inovasi di Indonesia.

Even Alex Chandra, Kepala Bidang Regulasi dan Logistech Amvesindo, menyampaikan bahwa saat ini perusahaan modal ventura lebih fokus pada selektivitas investasi. Hal ini dilakukan karena kondisi pasar yang tidak stabil memaksa para pelaku bisnis untuk lebih hati-hati dalam mengambil langkah strategis.

Dalam proses pengambilan keputusan investasi, perusahaan tidak lagi mencari pertumbuhan yang agresif, tetapi lebih mengutamakan ketahanan model bisnis, kejelasan jalur menuju profitabilitas, serta disiplin keuangan yang terstruktur. Dari segi alokasi modal, industri ini cenderung mengalihkan dana ke sektor-sektor yang relatif defensif dan memiliki kebutuhan struktural jangka panjang, seperti agritech, B2B SaaS, dan AI.

Selain itu, pengelolaan risiko nilai tukar juga menjadi semakin penting, terutama bagi investasi yang melibatkan struktur lintas mata uang. Volatilitas pasar global dapat memengaruhi kinerja investasi, sehingga perlu adanya strategi yang tepat untuk mengurangi dampak negatif tersebut.

Bagi startup, Even menekankan bahwa adaptasi menjadi prasyarat utama untuk bertahan dan berkembang secara berkelanjutan. Perusahaan perlu memperpanjang runway dengan mengendalikan biaya dan meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, penguatan tata kelola perusahaan dan kepatuhan regulasi juga sangat penting. Kondisi ketidakpastian global membuat investor lebih sensitif terhadap risiko non keuangan, seperti aspek hukum, reputasi, dan kepatuhan.

Dari sudut pandang kebijakan publik, Even menyoroti tiga area krusial yang perlu diperhatikan untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif. Pertama adalah stabilitas makroekonomi dan nilai tukar. Volatilitas yang berlebihan dapat memengaruhi persepsi risiko dan biaya modal. Kedua, insentif fiskal yang kompetitif, termasuk dukungan terhadap investasi riset dan pengembangan serta kebijakan pajak yang mendorong reinvestasi. Ketiga, kepastian regulasi dan kemudahan struktur investasi lintas batas.

Mengenai konflik perang Timur Tengah yang sedang berlangsung, Even menilai wajar bagi investor untuk bersikap hati-hati. Namun, sampai saat ini belum ada reaksi signifikan dari para investor. Menurutnya, Indonesia masih memiliki basis konsumen domestik yang kuat dan penetrasi digital yang terus berkembang. Hal ini membuat Indonesia tetap menjadi target perhatian bagi investor regional maupun global.

Pos terkait