Anak-anak Sutrisno Bawa Peti Jenazah, Penuhi Amanat Ayah

Untitled Design 2021 09 08t165959.723
Untitled Design 2021 09 08t165959.723

Tradisi Keluarga dalam Pemakaman Mantan Wakil Presiden RI

Pemakaman mantan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, Try Sutrisno, diwarnai dengan tradisi keluarga yang sangat kental. Salah satu amanah terpenting dari almarhum adalah bahwa peti jenazahnya harus diangkat oleh anak-anaknya sebelum diserahkan kepada negara. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan kepatuhan terhadap keinginan sang ayah.

Setelah shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Agung Sunda Kelapa, salah seorang anggota keluarga menyampaikan pesan tersebut melalui pengeras suara. “Ada amanah dari almarhum. Mohon putranya yang mengangkat (peti jenazah). Ini amanah almarhum,” ujar pria tersebut. Dengan demikian, para buah hati Try Sutrisno langsung memenuhi permintaan ayah mereka.

Mereka tampak berdiri di samping peti jenazah, sambil ditemani oleh pasukan Paspampres yang berpakaian seragam merah. Prosesi ini menunjukkan perhatian besar dari pihak kepresidenan terhadap pemakaman almarhum. Anak-anak Try Sutrisno terlihat menangis sambil menggotong peti jenazah, sebelum akhirnya jenazah diserahkan kepada negara melalui upacara resmi.

Riwayat Kesehatan dan Masa Perawatan

Try Sutrisno meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto pada Senin pagi. Jenazahnya saat ini berada di rumah duka di kawasan Menteng, Jakarta, untuk disemayamkan. Menurut informasi dari pihak keluarga, tidak ada riwayat penyakit tertentu yang menjadi penyebab kematian almarhum. Namun, usia yang sudah mencapai 90 tahun menjadi faktor utama penurunan kondisi kesehatannya.

Taufik Dwi Cahyono, salah satu anak Try Sutrisno, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan ayahnya menurun karena faktor usia. “Bapak sih karena memang sudah usia, semuanya kan menurun, umur segitu, enggak ada yang spesial sakit khusus ya karena memang sudah usia ya, menurun dari kemampuan napasnya, atau semacamnya,” kata Taufik.

Sebelum wafat, Try Sutrisno sempat dirawat di RSPAD sejak tanggal 16 Februari 2026 lalu. Penurunan selera makan menjadi salah satu indikasi awal ketidakstabilan kesehatannya. “(Dirawat sejak) 16 Februari. Jadi cuman tiba-tiba selera makan turun, dibawa ke sini, naik turun lah, dikasih obat, dikasih makan,” tambah Taufik.

Tim dokter RSPAD dan kepresidenan telah melakukan upaya maksimal dalam memberikan pengobatan terbaik bagi almarhum. Meski begitu, kondisi kesehatan yang menurun akibat usia membuat almarhum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.

Shalat Jenazah oleh Anak Kandung

Salah satu anak Try Sutrisno, yaitu Taufik Dwi Cahyono, juga bertindak sebagai imam dalam shalat jenazah yang digelar di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Shalat ini dilaksanakan setelah ibadah Zuhur pada pukul 12.27 WIB.

“Assalamualaikum. Hadirin yang terhormat. Kita akan melaksanakan shalat jenazah atas orangtua kami,” ujar Taufik sebelum memulai prosesi shalat. Ia juga mengingatkan jemaah tentang tata cara shalat jenazah agar berjalan dengan baik dan khusyuk.

Setelah shalat selesai, perwakilan keluarga lainnya menyampaikan ucapan terima kasih kepada hadirin yang telah hadir dalam acara pemakaman. “Kami atas nama keluarga, mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak ibu semua yang sudah mengantarkan,” jelas dia.


Pos terkait