
Seorang ibu dengan akun Instagram @angelinngel.hc membagikan pengalaman yang menimbulkan kekhawatiran. Dalam video yang diunggah, ia menunjukkan kondisi anaknya sebelum dan setelah menjalani terapi inhalasi atau nebulizer (nebu).
Sebelum prosedur dilakukan, balita tersebut tampak ceria, aktif, dan makan dengan baik. Tidak ada demam, hanya flu dan batuk berdahak yang tidak terlalu parah. Namun, setelah menjalani nebu, kondisinya justru memburuk. Anak mengalami demam, pusing, sulit tidur, tidak mau makan atau minum, serta terlihat lemas.
Keadaan ini membuat orang tua bertanya-tanya apakah keluhan tersebut disebabkan oleh efek samping dari terapi inhalasi.
Dokter Spesialis Anak, dr. Nitish Basant Adnani, Sp.A, menjelaskan bahwa perubahan kondisi tersebut belum tentu disebabkan oleh terapi inhalasi. Masih banyak kemungkinan penyebab lain yang bisa menyebabkan anak merasa tidak nyaman setelah pengobatan.
“Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan tindakan inhalasi,” ucap dr. Nitish kepada MOM, Kamis (26/2).
Terkait efek samping, dr. Nitish menjelaskan bahwa jenis obat inhalasi sangat beragam dan masing-masing memiliki indikasi berbeda. Salah satu obat yang sering digunakan adalah golongan salbutamol, yang biasanya diberikan pada anak dengan serangan asma atau penyempitan saluran napas.

Beberapa efek samping salbutamol yang bisa dialami anak antara lain:
– Jantung berdebar
– Tremor halus
– Pusing
– Lemas
– Gelisah
– Mual
“Biasanya efek ini terjadi 15-30 menit setelah inhalasi, bertahan selama 1-2 jam, lalu mereda,” imbuhnya.

Meski demikian, orang tua tidak dianjurkan memberikan nebu pada anak tanpa konsultasi dokter. Penggunaan yang salah justru berisiko menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.
Jika anak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan saat atau setelah terapi inhalasi, seperti kondisi memburuk, demam tinggi, atau keluhan lain yang tidak biasa, orang tua disarankan segera membawa anak kembali ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut.




