Analisis Politik Global dan Dampak di Indonesia
Dosen Ilmu Politik Universap Jambi, Mohammad Arief Rakhman, memberikan analisis politik terkait konflik antara Iran dan Amerika-Israel. Menurutnya, dampak dari konflik negara-negara besar ini tidak hanya berdampak di tingkat global, tetapi juga bisa mencapai daerah seperti Jambi.
Pada Minggu (1/3/2026), Mohammad Arief Rakhman menyampaikan bahwa memanasnya konflik Iran dan Amerika Serikat saat ini tidak lagi dapat dipahami sebagai eskalasi diplomatik atau ancaman konflik. Faktanya, dunia sekarang sudah masuk fase konfrontasi militer langsung antaraktor negara.
Dampak Politik Global Negara-Negara
Serangan yang terjadi ke infrastruktur strategis dan kepemimpinan Iran, serta dibalas oleh Iran melalui serangan rudal dan drone terhadap kepentingan Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah, menandai perubahan penting dalam politik internasional. Konflik Timur Tengah kembali naik dari level proxy conflict menuju direct interstate confrontation.
Itu membuktikan, sebenarnya Israel pun bisa menjadikan negara sebesar USA berada di proxy-nya. Dampak politik global bukan hanya ketegangan keamanan, namun juga munculnya risiko sistem internasional jadi tidak stabil. Karena konflik itu terjadi di pusat geopolitik energi dunia dan melibatkan aktor dengan kapasitas eskalasi tinggi.
Dalam perspektif hubungan internasional, yang menarik justru bukan hanya fakta saling serang tersebut. Tetapi, bagaimana konflik ini tampak tetap berada dalam batas tertentu, seolah ada mekanisme tidak tertulis untuk menjaga eskalasi agar tidak berubah menjadi perang besar. Di situlah secara geopolitik juga menarik. Kadang politik global sering berjalan sebagai strategic buffering, distribusi tidak formal. Peran stabilisasi kepada negara tertentu agar konflik tidak meluas ke aktor yang paling berbahaya.
Contohnya konflik Afganistan dan Pakistan. Konflik itu menunjukkan Pakistan selama bertahun-tahun berfungsi sebagai penyangga konflik regional, sehingga negara dengan kemampuan nuklir tidak langsung masuk ke perang terbuka. Sementara dalam isu Gaza dan dinamika dunia Muslim, terkadang Indonesia sering berada pada posisi unik. Bukan aktor militer, tetapi penyalur tekanan politik dan moral internasional, melalui berbagai macam gerakan masyarakat sipil, dari donasi sampai demonstrasi.
Dampak di Indonesia
Babak baru konflik Iran dan Amerika Serikat justru menghadirkan dinamika menarik bagi posisi Indonesia dalam politik internasional. Jika sebelumnya Indonesia cenderung tampil sebagai pengamat yang menyerukan de-eskalasi, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan menjadi mediator. Hal itu menunjukkan adanya upaya reposisi peran Indonesia di tengah krisis global, walau tentu saja dengan perkembangan diplomasi Indonesia belakangan, ini akan lebih terlihat naif.
Dalam perspektif hubungan internasional, langkah itu tidak bisa dibaca sekadar sebagai respons moral atau solidaritas politik. Tetapi sebagai sinyal, bahwa Indonesia ingin memainkan fungsi yang lebih strategis sebagai middle power. Negara yang tidak memiliki kekuatan militer dominan, tetapi berupaya memperoleh pengaruh melalui diplomasi dan legitimasi politik internasional.
Momentum konflik seringkali membuka ruang bagi negara, seperti Indonesia untuk tampil sebagai penengah, karena itu relatif diterima oleh berbagai pihak dan tidak dipersepsikan sebagai ancaman keamanan. Jika pemerintah mampu memanfaatkan keadaan ini, bisa jadi suatu hal yang baik bagi Indonesia.
Dampak Turunan ke Level Daerah di Jambi
Meski konflik Iran dan Amerika Serikat terlihat sangat jauh dari Jambi secara geografis, hal tersebut akan berdampak disektor ekonomi. Dalam sistem ekonomi dunia saling terhubung, konflik di Timur Tengah hampir selalu pertama kali mempengaruhi harga energi dan biaya logistik internasional. Hal itu kemudian merambat ke daerah-daerah berbasis komoditas seperti Jambi. Ketika ketegangan militer meningkat dan risiko terhadap jalur energi global naik, harga minyak dunia cenderung terdorong naik. Pada akhirnya meningkatkan biaya transportasi, distribusi, dan produksi termasuk bagi aktivitas ekspor dan impor di daerah.
Bagi Jambi, yang sangat ‘ekstraktif,’ dampak paling realistis bukan gangguan perdagangan langsung dari konflik, tapi perubahan pada struktur keuntungan komoditas ekspor. Ekonomi Jambi sangat bergantung pada komoditas global. Seperti crude palm oil (CPO), karet, batu bara, dan produk turunan perkebunan yang harganya ditentukan oleh dinamika pasar internasional.
Dalam situasi konflik global, biasanya terjadi dua kemungkinan sekaligus. Di satu sisi, pelemahan nilai rupiah dapat membuat ekspor terlihat lebih kompetitif, tetapi di sisi lain kenaikan biaya energi dan freight internasional justru menekan margin pelaku usaha di daerah. Artinya, konflik geopolitik global sering menghasilkan situasi paradoks bagi daerah. Nilai ekspor bisa naik secara nominal, tetapi keuntungan riil belum tentu meningkat.





