Perkembangan Terbaru Pasca Kematian Ayatollah Ali Khamenei
Seorang dosen Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjadjaran (Unpad) dan pengamat kajian Timur Tengah, Dina Yulianti Sulaeman, memberikan analisis politik terkini mengenai situasi yang sedang berlangsung di Iran. Dalam wawancara yang dilakukan pada Minggu (1/3/2026), ia menyampaikan prediksi tentang bagaimana Iran akan merespons kematian Ayatollah Ali Khamenei, yang merupakan pemimpin tertinggi negara tersebut.
Dina menjelaskan bahwa Iran tidak akan menghentikan serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel meskipun kehilangan pemimpinnya. Menurutnya, kematian Khamenei justru akan memperkuat semangat perlawanan rakyat Iran, yang memiliki tradisi dukacita yang unik.
Tradisi Dukacita di Iran
Masyarakat Iran memiliki tradisi duka cita yang berbeda dibandingkan dengan budaya lain. Mereka biasanya mengadakan majelis duka cita, di mana syair-syair duka dibacakan, kemudian para peserta menangis bersama dan saling berbagi makanan. Dina menyatakan bahwa majelis duka cita untuk meninggalnya Ayatollah Khamenei akan dilakukan secara luas di seluruh wilayah Iran.
Ia menilai bahwa meskipun Iran memiliki tradisi dukacita, mereka tidak tenggelam dalam kesedihan. Justru, dukacita ini menjadi pemicu semangat perlawanan. Masyarakat Iran sadar bahwa pemimpin mereka gugur di jalan Tuhan, sehingga hal ini memperkuat rasa nasionalisme mereka.
Reaksi AS yang Tidak Sesuai Harapan
Amerika Serikat sebelumnya berharap bahwa kematian Ayatollah Khamenei akan membuat rakyat Iran ciut nyalinya dan membuka peluang bagi penggulingan rezim dari dalam. Namun, Dina menyatakan bahwa harapan tersebut tidak terwujud. Sebaliknya, situasi justru berbalik.
Berdasarkan jejak sejarah, setiap kali pemimpin Iran dibunuh atau terjadi ancaman eksternal, masyarakat Iran cenderung bangkit dan semakin bersatu. Hal ini menunjukkan bahwa semangat nasionalisme mereka sangat kuat.
Pernyataan IRGC yang Mengkhawatirkan
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), korps militer Iran, telah mengumumkan rencana serangan balasan terhadap AS dan Israel. Mereka berjanji akan meningkatkan serangan sebagai bentuk pembalasan atas kematian Ayatollah Khamenei. IRGC juga meminta rakyat Iran untuk bersatu dan mendukung upaya pembalasan tersebut.
Menurut laporan Middle East Eye, IRGC telah mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah Republik Islam Iran.” Serangan ini akan dilakukan “dalam beberapa saat” dan menargetkan “area pendudukan dan pangkalan teroris Amerika” di wilayah tersebut.
Prediksi dan Analisis
Dina menilai bahwa kematian Ayatollah Khamenei akan memicu respons keras dari Iran. Meski ada masa duka, rakyat Iran tidak akan menghentikan aksi mereka. Justru, mereka akan semakin giat dalam melawan AS dan Israel.
Dalam program Breaking News di kanal YouTube Official iNews, Dina memprediksi bahwa majelis duka cita akan dilakukan secara massal di berbagai kota dan desa. Namun, ia juga menekankan bahwa dukacita ini bukanlah akhir dari perlawanan, melainkan awal dari peningkatan serangan balasan.
Kesimpulan
Kematian Ayatollah Ali Khamenei tidak hanya menjadi duka bagi masyarakat Iran, tetapi juga menjadi momentum penting dalam dinamika politik regional. Dengan tradisi dukacita yang unik dan semangat nasionalisme yang kuat, Iran diprediksi akan semakin aktif dalam menentang ancaman dari luar, termasuk AS dan Israel. Reaksi dari IRGC dan pernyataan resmi mereka menunjukkan bahwa Iran siap melakukan tindakan tegas sebagai bentuk pembalasan.





