Dinamika Konflik di Timur Tengah: Persaingan Senjata dan Keterbatasan Stok
Konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah menunjukkan dinamika yang kompleks, terutama dalam hal perbandingan antara persediaan senjata Iran dengan amunisi pertahanan udara milik Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk. Para analis dan pejabat menganggap bahwa kunci dari konflik ini berada pada kemampuan masing-masing pihak untuk mempertahankan pasokan rudal dan drone serta kemampuan mereka dalam menangkal serangan musuh.
Persediaan senjata canggih buatan AS diketahui terbatas, sementara ukuran gudang senjata Iran masih menjadi teka-teki. Hal ini membuat para ahli memperkirakan bahwa hasil dan durasi perang akan ditentukan oleh siapa yang lebih dulu kehabisan persediaan rudal atau amunisi pertahanan udara.
Sejak Sabtu lalu, Iran dan kelompok proksinya telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan terhadap target di hampir selusin negara dalam radius hingga 1.200 mil. Dengan angkatan udara yang tidak sebanding dengan kekuatan Israel maupun AS, Teheran mengandalkan rudal dan drone sebagai senjata utama. Luasnya jangkauan serangan ini menjadikan konflik ini sebagai yang terluas di Timur Tengah sejak Perang Dunia II.
Di sisi lain, pesawat dan rudal Israel serta AS berhasil menghantam ratusan lokasi di Iran tanpa kehilangan satu pun pesawat akibat tembakan musuh. Saat ini, AS dan Israel berupaya keras untuk menghancurkan sebanyak mungkin stok rudal dan infrastruktur militer Iran dengan menargetkan peluncur, gudang penyimpanan, serta personel kunci.
Stacie Pettyjohn, Direktur Program Pertahanan di Center for a New American Security, menyebut konflik ini sebagai “kompetisi salvo”, yaitu konsep strategi militer yang menggambarkan pertukaran serangan besar secara simultan menggunakan senjata berpemandu presisi. Ia menyoroti pentingnya persediaan amunisi yang dalam untuk senjata-senjata kunci, terutama karena persediaan Iran masih menjadi tanda tanya.
Sirene kembali meraung di Yerusalem pada Selasa, disusul beberapa ledakan ketika rudal pencegat menghancurkan proyektil yang masuk. Namun, dalam 36 jam terakhir, serangan Iran ke Israel tampak semakin jarang. Analis menduga Iran mungkin tengah menghemat cadangan rudalnya atau sedang kesulitan meluncurkan serangan dalam jumlah besar.
Pettyjohn juga menyebut kemungkinan adanya kekacauan internal akibat serangan “pemenggalan komando” yang menewaskan sejumlah komandan senior Iran, sehingga koordinasi operasi menjadi terganggu. Strategi Teheran diduga bertujuan menguras lawan dengan melemahkan moral publik dan meningkatkan biaya finansial konflik.
Tal Inbar, peneliti senior di Missile Defence Advisory Alliance, Israel, menambahkan bahwa tidak ada sistem pertahanan yang 100 persen efektif. Ini adalah perang pengikisan (war of attrition). Jika satu rudal saja menghantam universitas, rumah sakit, atau pembangkit listrik, dampak biayanya bisa sangat besar.
Dalam perang 12 hari musim panas lalu, ketika Iran meluncurkan rentetan besar rudal ke Israel, sejumlah laporan menyebut stok amunisi penting Israel sempat menipis. Inbar menekankan bahwa durasi konflik sebagian ditentukan oleh jumlah rudal pertahanan udara yang dimiliki.
Negara-negara Teluk kini berada di bawah tekanan besar. Uni Emirat Arab membantah laporan bahwa mereka kehabisan rudal pencegat, dan menegaskan masih memiliki stok amunisi strategis yang kuat untuk jangka panjang. Mereka menyatakan telah menghancurkan 161 dari 174 rudal balistik yang diluncurkan ke wilayahnya. Sisanya jatuh ke laut.
Dari 689 drone Iran, 645 berhasil dicegat, sementara delapan rudal jelajah dihancurkan meski menyebabkan beberapa kerusakan tambahan. Serangan Iran juga menyasar fasilitas militer dan sipil AS di Qatar, Abu Dhabi, Kuwait, Irak, Bahrain, dan Oman.
Hotel-hotel internasional di Dubai dilaporkan terbakar akibat serangan. Infrastruktur minyak Arab Saudi mengalami kerusakan, sementara drone menargetkan pangkalan militer Inggris di Siprus. Qatar menyatakan berhasil mendeteksi sejumlah target udara dan rudal serta mencegat sebagian besar di antaranya.
Kelly Grieco, analis strategi dan militer di Stimson Center, Washington, mengatakan sulit mengetahui secara pasti tingkat persediaan senjata di kawasan Teluk. Ia menambahkan bahwa mereka menghabiskan banyak stok, dan pada akhirnya akan ada keputusan sulit tentang apa yang harus diprioritaskan untuk dilindungi.
Menurut Grieco, Iran tampaknya sengaja tidak meluncurkan salvo dalam jumlah sangat besar untuk menjaga keberlanjutan kampanye militernya. Ia menilai ini seperti “kematian oleh seribu luka” strategi yang lebih cocok bagi pihak yang lebih lemah dalam pertempuran.
Pettyjohn menilai, jika stok pertahanan udara benar-benar habis, hal itu bisa memaksa Israel dan AS menghentikan operasi ofensif dan mencari penyelesaian melalui negosiasi. Biaya juga menjadi faktor penting. Grieco memperkirakan biaya mencegat satu drone bisa lima kali lebih mahal dibanding biaya produksinya.
Sementara itu, stok senjata paling canggih buatan AS terbatas dan pengisiannya memerlukan waktu lama. Amunisi tersebut juga dibutuhkan di kawasan lain seperti Ukraina dan Taiwan.
Di tengah situasi yang terus berkembang, memahami dinamika konflik Timur Tengah menjadi semakin krusial. Media memiliki tanggung jawab untuk memantau dan menyajikan perkembangan secara akurat dan terverifikasi bagi pembaca global, agar publik dapat memahami setiap perubahan besar dalam konflik yang kian kompleks ini.





