Analisis Politik Dosen Paramadina: AS vs Iran dan Strategi Selat Hormuz

0749a720 4bfa 11f0 8c47 237c2e4015f5.png
0749a720 4bfa 11f0 8c47 237c2e4015f5.png

Analisis Perang Israel dan AS terhadap Iran

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pada tahun 2026 telah memicu perhatian besar dari kalangan akademisi dan ahli hubungan internasional. Konflik ini tidak hanya menjadi pertarungan bilateral, tetapi juga menjadi ujian bagi stabilitas kawasan Timur Tengah serta kredibilitas narasi perdamaian global.

Direktur Sekolah Pascasarjana Diplomasi Paramadina (PGSD), Ahmad Khoirul Umam, menyatakan bahwa serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran, yang berlangsung di bulan suci Ramadan, memperlihatkan kontradiksi antara retorika tentang stabilitas dengan tindakan militer yang nyata. Ia menilai serangan tersebut membuka pertanyaan mendasar mengenai komitmen Washington dalam menjaga perdamaian global.

Dalam perspektif Coercive Diplomacy, ketika kekuatan militer digunakan sebagai alat utama dalam geopolitik, norma multilateralisme dan hukum internasional berpotensi tereduksi menjadi simbol belaka. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam pendekatan diplomatik dunia saat ini.

Umam juga menyoroti kecenderungan unilateral AS yang selama dua bulan terakhir disebutnya menyerang negara-negara berdaulat, mulai dari Venezuela hingga Iran. Menurut dia, situasi ini menguji kredibilitas lembaga seperti Board of Peace (BOP). Momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi strategis bagi negara-negara Islam yang relatif independen seperti Indonesia dan Turki untuk meninjau kembali kerja sama BOP dalam arsitektur diplomasi kawasan.

Lebih jauh, Umam menganalisis bahwa target utama AS dan Israel bukan hanya menaklukkan Iran sebagai negara, tetapi juga menghapus poros jaringan kekuatan non-negara seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi yang selama ini menjadi penyeimbang dominasi AS-Israel di kawasan. Perubahan rezim di Teheran akan berdampak pada runtuhnya salah satu pilar resistensi regional di Timur Tengah serta menjadi bagian dari proyek rekayasa ulang keseimbangan kekuatan kawasan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa upaya tersebut tidak lepas dari risiko besar. Umam memperingatkan kemungkinan retaliasi Iran dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai kartu truf dapat memicu krisis energi global. Ia menekankan bahwa sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari, sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi mengguncang harga, rantai logistik, dan stabilitas ekonomi dunia. Ia juga menyebut situasi akan semakin sulit dikendalikan apabila Iran mampu bertahan lebih dari dua pekan.

Merujuk simulasi perang Millennium Challenge 2002 milik militer AS, ia menjelaskan bahwa jika Iran konsisten menyerang basis militer AS di negara-negara tetangga seperti Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi, konflik berpotensi meluas menjadi perang regional. Dalam kondisi tersebut, negara-negara Teluk disebutnya akan menghadapi dilema strategis antara menjaga hubungan keamanan dengan AS atau menghindari keterlibatan langsung sebagai medan tempur sehingga eskalasi berisiko tak terkendali.

Di sisi lain, Umam turut menyoroti rumor mengenai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Imam Ali Khamenei. Ia menyebut apabila kabar itu benar, Iran akan memasuki fase transisi kepemimpinan yang sensitif dengan arah kebijakan luar negeri sangat bergantung pada konsolidasi elite antara institusi keagamaan dan Garda Revolusi Iran. Menurut dia, sejarah menunjukkan masa transisi kerap meningkatkan risiko kebijakan eksternal yang lebih agresif demi menjaga legitimasi internal.

Lebih lanjut, Umam mendesak seluruh elemen kekuatan dunia segera mendorong de-eskalasi. Ia mengingatkan pembiaran terhadap aksi unilateral di Timur Tengah berpotensi menciptakan preseden buruk bagi tatanan dunia multipolar. Menurutnya, jika situasi tersebut dianggap normal dan dunia internasional berdiam diri, langkah unilateral serupa berpotensi menyasar kawasan lain termasuk Greenland, Kanada, serta wilayah Eropa dan Amerika Latin.


Pos terkait