Analisis Prediksi Cak Nun: Serangan Iran, Dukungan Saudi untuk Israel, dan Sikap Indonesia

Aa1xktq8 2
Aa1xktq8 2

.CO.ID, JAKARTA — Prediksi yang diberikan oleh budayawan Emha Ainun Najib atau lebih dikenal dengan nama Cak Nun tentang serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran kembali menjadi perbincangan di media sosial. Prediksi ini telah dibuat pada 22 Februari 2012 dalam sebuah acara Tabligh Nusantara.

Dalam prediksinya, Cak Nun menyatakan bahwa suatu saat nanti AS dan Israel akan menyerang Iran. Ia juga menyebut bahwa Arab Saudi akan membela Israel dan AS. Selanjutnya ia mempertanyakan posisi Indonesia apakah akan membela Iran atau berada di sisi AS.

“Suatu hari Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika, dan nanti Arab Saudi bisa dipastikan akan membela Israel. Pertanyaannya untuk Indonesia, Indonesia membela mana? Bela Iran atau Israel?” tanya Cak Nun.

“Nah kene mesti kelingan dewe no pak, separoh bela Iran, separoh bela Israel, utowo ra belo siopo-siopo ? mboh aku ra mudeng.”

Video tersebut mendapat banyak komentar dari netizen dengan berbagai pandangan. Beberapa menyebut prediksi itu sebagai ‘cocokologi’ karena memang sudah banyak yang menganalisis. Namun ada juga yang menilai pertanyaan Cak Nun terhadap posisi Indonesia masih relevan.

“Perang benar-benar sudah terjadi, AS dan Israel telah menyerang Iran. Arab Saudi dan negara-negara Teluk membela AS dan Israel. Lalu bagaimana sikap Indonesia? Pertanyaan lama Cak Nun ini relevan, dan menurut Anda apa sudah terjawab?” tulis akun Henri Subiakto.

Menengok pernyataan dari Cak Nun, fakta bahwa AS-Israel menyerang Iran memang tidak dapat dipungkiri. Pejabat AS telah mengonfirmasi bergabung dengan Israel untuk menyingkirkan rezim Iran, Sabtu (28/2/2026). Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya secara terang benderang juga menegaskan ingin menggulingkan pemerintahan Iran. AS ingin menyingkirkan pemimpin-pemimpin Iran yang selama ini dianggap sebagai ancaman.

Namun apakah Saudi secara terang benderang benar membela Israel? Dari pernyataan yang disampaikan, Saudi menepis ikut secara langsung melobi Trump untuk menyerang Iran. Seperti dilansir Saudi Gazette, Arab Saudi membantah klaim bahwa mereka melobi Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran, dan menyebut laporan-laporan baru-baru ini yang menyatakan sebaliknya sebagai tidak benar.

Fahad Nazer, juru bicara Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington, mengatakan Kerajaan secara konsisten mendukung upaya diplomatik yang bertujuan mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Teheran. “Kerajaan Arab Saudi secara konsisten mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran,” kata Nazer dalam sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan terhadap laporan The Washington Post, yang mengutip empat orang yang mengetahui masalah tersebut dan mengatakan bahwa Presiden Trump melancarkan serangan terhadap Iran setelah upaya lobi selama berminggu-minggu oleh Israel dan Arab Saudi.

Hanya saja, Saudi dalam pernyataannya memang mengecam serangan Iran. Saudi marah dengan Teheran, tapi kecaman ini merupakan sebuah pembelaan atas serangan Iran ke Riyadh karena dinilai melanggar kedaulatan negara lain. Teheran menyebut serangan ke selatan Riyadh ditujukan ke pangkalan militer AS di Saudi.

Pangkalan Udara Prince Sultan (PSAB) yang terletak di selatan Riyadh, merupakan lokasi Ekspedisi Udara ke-378 AS, baterai rudal Patriot, dan sistem THAAD. Sekitar 2.300 tentara AS ditempatkan di sana untuk mendukung pertahanan udara dan keamanan regional. PSAB telah aktif sejak 2019. Iran telah berjanji akan menyerang semua pangkalan AS di Timur Tengah.

Kerajaan Arab Saudi menyatakan penolakan dan kecaman sekeras-kerasnya terhadap serangan Iran yang terang-terangan dan pengecut yang menargetkan wilayah Riyadh dan provinsi timur. Saudi mengeklaim telah mematahkan serangan tersebut. Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri, Arab Saudi menekankan bahwa serangan-serangan ini tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun atau dengan cara apa pun.

Serangan tersebut terjadi meskipun otoritas Iran mengetahui bahwa Kerajaan telah menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya atau wilayahnya digunakan untuk menargetkan Iran. Kerajaan menegaskan bahwa pihaknya akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan keamanannya dan melindungi wilayah, warga negara, dan penduduknya, termasuk opsi untuk membalas agresi tersebut. Hingga kini belum ada respons langsung Saudi untuk membalas Iran.

Sejatinya hubungan Iran-Saudi jauh lebih cair dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Komunikasi diplomatik di antara keduanya berjalan hingga di level atas. Saudi bahkan berulangkali mengecam Israel atas apa yang dilakukan Zionis di Jalur Gaza.

Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammad bin Salman menerima Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, di kantornya di Istana Al-Yamamah, lapor media pemerintah Saudi pada Selasa (16/9/2025). Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan penasihat senior Pemimpin Revolusi Islam Iran, tiba di negeri teluk tersebut sebelumnya untuk berunding dengan para pejabat Saudi.

Perundingan tingkat tinggi tersebut, yang juga dihadiri oleh Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman Al Saud, berfokus pada hubungan bilateral dan perkembangan regional terkini.

Bagaimana dengan Indonesia?

Lantas bagaimana sikap Indonesia terkait dengan perang ini. Pemerintah RI sepertinya jauh lebih hati-hati untuk merespons. Saat AS-Israel menyerang Iran, Pemerintah RI tidak menggunakan klausul mengecam dalam pernyataan yang disampaikan Kementerian Luar Negeri lewat akun X.

Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.

Pemerintah RI dalam hal ini Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog untuk terciptanya kondisi kemanan yang kondusif. Presiden RI Prabowo bahkan bersedia bertolak ke Iran untuk melakukan mediasi. Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia serta kesiapan Presiden RI Prabowo Subianto untuk memediasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Ahad (1/3), Kedubes Iran juga meminta para pejabat Indonesia bersikap tegas dalam mengutuk apa yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Indonesia Dino Patti Djalal mengkritisi realisasi wacana tersebut dengan mengatakan bakal menjadi bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di luar maupun di dalam negeri.

Dino menilai wacana tersebut tak masuk di akal. “Sebagai political scientist yang independen, dan sebagai mantan diplomat Indonesia, saya heran kenapa ide ini (menjadikan Prabowo sebagai penengah perang), tidak difilter dulu sebelum diumumkan. Karena ide tersebut sangat tidak realistis,” ujar Dino.

Dino menerangkan beberapa analisa mengapa wacana mendorong Presiden Prabowo menjadi penengah dalam perang AS-Zionis dengan Iran itu sebagai ide yang tak masuk akal. Kata Dino, dalam catatan krisis geopolitik berujung perang terbuka yang selama ini dilakoni oleh AS, sulit menghadirkan pihak ketiga sebagai mediator. “Dalam setiap melakukan serangan militer, Amerika Serikat itu jarang sekali mau ditengahi atau dimediasikan oleh (negara) pihak ke tiga,” ujar Dino.

Dino mengatakan, watak politik AS dalam kiprah globalnya sebagai negara adi daya selalu merasa lebih tinggi dari negara manapun. Sehingga, kata Dino, AS dalam setiap konflik, maupun perangnya merasa tak membutuhkan mediator sebagai pihak ketiga. “Ego Amerika Serikat sebagai negara super power, terlalu tinggi untuk menerima itu (mediator atau juru perundingan),” ujar Dino.

Apalagi saat ini, kata Dino, AS dipimpin oleh Presiden Donald Trump yang merasa diri sebagai pemimpin negara penguasa global. “Saya juga meyakini Presiden Trump ini tidak mau Indonesia ikut campur, karena moodnya (Trump) pada saat ini sedang gelap mata untuk menumbangkan pemerintahan di Iran,” ujar Dino.

Wakil Presiden RI di era SBY dan Jokowi, Jusuf Kalla memandang sulit bagi Presiden RI Prabowo Subianto untuk menjadi mediator konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. JK menilai hal tersebut setelah terjadinya perjanjian dagang resiprokal antara Indonesia dengan AS.

“Sayangnya, Indonesia telah mengadakan perjanjian yang tidak seimbang, dan sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini?” ujar JK.

Lebih lanjut dia memandang rencana Prabowo merupakan hal baik, tetapi menjadi mediator tetap sulit. “Rencana itu baik saja, tetapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya,” katanya. Ia melanjutkan, “Ya, Israel dengan Palestina saja tidak bisa, sulit didamaikan, karena dunia ini sangat ditentukan oleh sikap Amerika.”

Sikap Indonesia terhadap serangan AS-Israel ke Iran ini dibayangi oleh keputusan pemerintah yang bergabung ke dalam Board of Peace buat Amerika. Indonesia bahkan sudah siap mengirimkan pasukannya ke Jalur Gaza pada April ini. Jadi ketika ditanya bagaimana sikap Indonesia soal serangan Israel-AS ke Iran seperti ditanyakan Cak Nun? Maka boleh dibilang pemerintah RI lebih hati-hati dan tak ingin dianggap membela Iran. RI juga memilih hati-hati untuk tak ingin menyalahkan AS-Israel, meskipun keduanya telah melanggar kedaulutan negara lain.

Pos terkait