Kecemasan Pelaku Pariwisata Bali Akibat Perang di Timur Tengah
MANGUPURA – Sejumlah pelaku pariwisata di Bali kini mulai merasa cemas terhadap kondisi industri pariwisata mereka, terutama setelah adanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di wilayah Timur Tengah. Dampak dari perang tersebut dikhawatirkan akan memengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali, khususnya di wilayah Badung.
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, mengakui bahwa situasi ini sangat berdampak pada sektor pariwisata. Menurutnya, penundaan penerbangan dari kawasan Timur Tengah menjadi salah satu indikator yang menunjukkan ketidakstabilan tersebut.
“Perang ini sangat berpengaruh dengan pariwisata kita di Bali. Apalagi penerbangan internasional ada yang tertunda khususnya untuk di Middle East,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Meskipun belum bisa memastikan besaran dampaknya, ia menyatakan bahwa penurunan jumlah wisatawan pasti akan terjadi. Hal ini disebabkan oleh gangguan keamanan global yang membuat masyarakat waspada dalam melakukan perjalanan luar negeri.
“Sebenarnya kunjungan wisatawan dari Middle East ke Bali tidak begitu banyak. Namun karena keamanan global terganggu, semua terdampak. Tidak hanya di Indonesia, negara-negara lain mungkin mengingatkan masyarakatnya untuk antisipasi jika berlibur keluar negeri,” jelasnya.
Saat ini, Bali belum memasuki musim liburan. Namun biasanya, wisatawan mancanegara ramai datang karena adanya acara Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE). Saat hari normal, tingkat kunjungan wisatawan mencapai 60 persen. Namun dengan situasi saat ini, ada kekhawatiran penurunan drastis akan terjadi.
“Kalau berbicara masalah domestik, biasanya meningkat saat momen lebaran yang akan datang. Bahkan peningkatan diangka 10-15 persen. Tapi untuk tahun ini kita belum memastikan akan meningkat atau tidak, dengan situasi saat ini,” tambahnya.
Dampak Terlihat Jelas
Dampak dari perang tersebut sudah terlihat secara langsung. Banyak penerbangan dari Bali ke sejumlah kawasan di Timur Tengah seperti Doha, Qatar, Dubai, dan Abu Dhabi dibatalkan. Tiga kota tersebut juga menjadi transit bagi wisatawan dari Eropa.
Penerbangan dari Inggris, Jerman, dan negara Eropa lainnya dengan tujuan Bali sering kali melalui bandara di tiga kota tersebut. Dengan pembatalan penerbangan, hal ini tentu berdampak pada jumlah wisatawan yang datang ke Bali.
Tingkat Hunian Hotel Menurun
Menurut data yang diperoleh, tingkat hunian hotel di Bali saat ini berada di angka 55 persen. Angka ini lebih rendah dari biasanya yang berkisar di 60 persen.
Rai Suryawijaya mengimbau kepada para pelaku pariwisata untuk tetap waspada terhadap pengaruh global akibat perang di Timur Tengah. Ia menekankan bahwa situasi bisa berubah kapan saja, sehingga diperlukan persiapan yang matang.





