Ancaman Iran yang Mengancam AS dan Dunia

110455168  110440212 Trump 1 4
110455168 110440212 Trump 1 4

Pernyataan Iran tentang Penutupan Selat Hormuz

Seorang penasihat senior untuk panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan kembali bahwa Selat Hormuz akan ditutup. Ia bahkan memperingatkan bahwa kapal apa pun yang mencoba melewatinya akan diserang, menurut laporan media pemerintah Iran.

“Selat (Hormuz) itu tertutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan menembak kapal-kapal itu,” kata Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima tertinggi IRGC, dalam sebuah pernyataan.

Teheran telah menargetkan infrastruktur penting bagi produksi energi dunia sebagai bagian dari pembalasan atas serangan Israel dan AS yang dimulai pada hari Sabtu lalu. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior lainnya. Iran juga melontarkan ancaman besar terhadap AS yang akan berdampak kepada seluruh negara di dunia.

“Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai 200 dolar AS dalam beberapa hari mendatang,” kata Jabbari dalam unggahan di saluran Telegram IRGC.

“Amerika Serikat, dengan utang miliaran dolar, bergantung pada minyak di wilayah ini, tetapi mereka harus tahu bahwa bahkan setetes minyak pun tidak akan sampai kepada mereka,” demikian kutipan pernyataannya.

Jalur Minyak Terpenting di Dunia

Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, adalah salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewatinya. Gangguan apa pun di sana akan semakin mendorong harga minyak mentah melonjak dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi regional.

Harga energi sudah naik tajam pada Senin pagi karena gangguan lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut dan kerusakan pada fasilitas produksi, meningkatkan ketidakpastian tentang bagaimana serangan AS-Israel terhadap Iran akan memengaruhi pasokan ke perekonomian dunia.

Guncangan terbesar terjadi pada harga gas alam, yang naik hampir 50 persen di Eropa dan hampir 40 persen di Asia setelah QatarEnergy, pemasok utama, menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah fasilitas LNG-nya diserang.

Sebelumnya, seorang juru bicara militer kepada kantor berita pemerintah Saudi Press Agency mengatakan, kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi juga diserang oleh pesawat tak berawak, dan sistem pertahanannya berhasil menembak jatuh pesawat-pesawat yang datang. Kilang tersebut memiliki kapasitas lebih dari setengah juta barel minyak mentah per hari.

Balasan AS

Sebagai tanggapan, AS mengatakan akan mengambil tindakan untuk mengurangi kenaikan harga energi akibat perang dengan Iran. Menurut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, serangan terhadap Iran belum akan berakhir, tetapi ia enggan memberikan detail upaya taktis mereka.

“Mulai besok, Anda akan melihat kami meluncurkan fase-fase tersebut untuk mencoba mengurangi dampaknya… Kami mengantisipasi ini bisa menjadi masalah,” kata Rubio.

Hal ini menyusul pernyataan Donald Trump bahwa ia mengambil keputusan untuk melancarkan perang terhadap negara tersebut karena itu adalah kesempatan terakhir dan terbaik untuk menghentikan rezimnya.

Berbicara di Gedung Putih untuk pertama kalinya sejak menyerang Iran, presiden mengatakan AS terus melakukan operasi tempur skala besar, di mana lebih dari 1.250 target telah dihantam. AS dan Israel menyerang Iran pada hari Sabtu, menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Militer Israel kemudian melancarkan serangan baru terhadap Teheran. Israel juga telah melancarkan beberapa serangan terhadap target yang mereka sebut sebagai target Hizbullah di Lebanon. Mereka juga memperingatkan bahwa operasi militer tidak akan berakhir sampai ancaman tersebut sepenuhnya dihilangkan.

Para pejabat kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel telah menewaskan 52 orang. Sementara itu, ratusan warga Beirut terpaksa mengungsi ke tempat penampungan akibat pemboman tersebut.

PM Keir Starmer mengatakan keputusan Inggris untuk tidak bergabung dengan serangan AS-Israel terhadap Iran adalah disengaja. Pasalnya, mereka tidak percaya pada perubahan rezim dari udara alias lewat jalur pertempuran.

Apa Itu Selat Hormuz?

Selat Hormuz adalah satu-satunya jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia yang kaya minyak (barat) dengan Teluk Oman dan Laut Arab (tenggara), menurut Britannica. Lebih dari 20 persen minyak dunia dan ekspor gas alam cair melewati selat ini, yang berfungsi sebagai jalur utama untuk ekspor minyak bumi dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (meskipun Uni Emirat Arab memiliki kemampuan untuk mengalihkan sebagian besar ekspornya melalui emirat Fujairah di Teluk Oman).

Ekspor tersebut berfokus secara geografis, di mana sekitar empat perlima dikirim ke negara-negara pengimpor di Asia, terutama Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, tetapi volume pasokan memiliki dampak yang besar pada harga di seluruh dunia karena elastisitas harga produk minyak bumi yang rendah.

Bersama dengan Selat Malaka yang menghubungkan Samudra Hindia ke Samudra Pasifik, Selat Hormuz adalah salah satu titik hambatan minyak paling vital dalam ekonomi global.

Geografi dan Pelayaran

Selat ini memiliki lebar 35 hingga 60 mil (55 hingga 95 km) dan memisahkan Iran (utara) dari eksklave Musandam milik Oman di Semenanjung Arab (selatan). Bandar Abbas, sebuah pelabuhan Iran yang penting secara ekonomi dan militer, terletak di garis pantai utaranya, di dekatnya terdapat pulau-pulau Iran seperti Qeshm (Qishm), Hormuz, Hengām (Henjām), dan Lārak.

Uni Emirat Arab juga terletak di dekat selat ini, sekitar 40 hingga 50 mil (65 hingga 80 km) dari titik tersempit selat di kedua sisi Semenanjung Musandam. Meskipun berbasis agak jauh dari selat, Armada Kelima Angkatan Laut AS telah bermarkas di Bahrain sejak 1995 dan berperan dalam menjamin jalur aman di selat tersebut.

Kapal tanker minyak melewati selat tersebut melalui jalur pelayaran masuk dan keluar yang lebarnya 3 km dan dipisahkan oleh zona penyangga selebar dua mil. Jalur pelayaran tersebut sebagian besar berada di perairan teritorial Oman, dan sebagian di perairan teritorial Iran, tetapi diatur oleh hukum maritim internasional dan sesuai dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS).

Iran mengendalikan selat di utara jalur pelayaran dan Oman mengendalikan selat di selatan. Meskipun Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu pelayaran, sebagian besar selat tersebut cukup dalam 60-100 meter untuk menampung kapal tanker minyak dan Iran tidak memiliki kemampuan untuk memblokir seluruh lebar selat untuk jangka waktu yang lama.

Pada tahun 1984, selama Perang Iran-Irak, negara-negara Teluk Persia yang berseteru mulai saling menyerang kapal tanker minyak masing-masing, dan Iran juga menyerang kapal tanker yang menuju dan dari Kuwait serta negara-negara Teluk lainnya. Perang Tanker, yang mencakup serangan terhadap lebih dari 100 kapal tanker minyak, mendorong keterlibatan Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa Barat untuk memastikan jalur aman kapal tanker minyak masuk dan keluar dari Teluk.

Pada abad ke-21, angkatan laut Iran dan AS telah terlibat dalam beberapa konfrontasi di selat tersebut. Setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir di Iran selama Konflik Israel-Iran pada Juni 2025, parlemen Iran, yang didominasi oleh kelompok garis keras sejak pemilihan umum tahun 2020, memberi wewenang kepada angkatan bersenjata Iran untuk menutup selat tersebut.

Meskipun upaya untuk menutup selat tidak akan dilakukan tanpa persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, langkah parlemen tersebut memicu kekhawatiran akan kenaikan harga minyak secara global dan meningkatnya ketegangan menyebabkan beberapa kapal tanker berbalik arah untuk menghindari selat tersebut. Serangan baru oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 juga menyebabkan penurunan drastis lalu lintas melalui selat tersebut.


Pos terkait