Ancaman Kekuasaan di Iran Pasca-Kematian Ali Khamenei, Maryam Rajavi dan Reza Pahlavi Muncul

Aa1xizka
Aa1xizka

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran dan Kekosongan Kekuasaan

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran memicu situasi yang penuh ketidakpastian. Kejadian ini membuka babak baru persaingan politik yang berpotensi menimbulkan ketegangan serius di dalam dan luar negeri Iran.

Pemimpin tertinggi baru tidak dipilih melalui pemilu langsung, melainkan melalui keputusan Majelis Pakar, sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama senior. Majelis ini memiliki kewenangan penuh untuk menunjuk pemimpin tertinggi baru yang akan menggantikan Khamenei. Di tengah kekosongan kekuasaan, berbagai faksi mulai bersaing merebut pengaruh, termasuk para ulama garis keras hingga tokoh oposisi yang tinggal di luar negeri.

Oposisi Iran Ikut Berebut Pengaruh

Situasi politik Iran semakin kompleks dengan munculnya tokoh-tokoh oposisi yang mencoba memanfaatkan situasi tersebut. Salah satu tokoh yang muncul adalah Maryam Rajavi, pemimpin Dewan Perlawanan Nasional Iran (NCRI) yang berbasis di Paris. Rajavi menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan rezim ulama dan membangun pemerintahan demokratis. “Tanah air kita terus mengalami penderitaan dan kehancuran yang lebih besar di bawah pemerintahan fasisme agama,” ujarnya.

Di sisi lain, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup dalam pengasingan, juga menyerukan perubahan politik di Iran. Dalam pernyataannya di media sosial, Pahlavi menyebut rakyat Iran harus mengambil peran dalam menentukan masa depan negara mereka. “Kemenangan akhir tetap akan kita raih. Kitalah rakyat Iran yang akan menyelesaikan perjuangan ini,” tulisnya.

Ancaman Perebutan Kekuasaan

Para analis memperingatkan bahwa tanpa sosok Khamenei, Iran berpotensi menghadapi perebutan kekuasaan internal. Beberapa pengamat menilai IRGC dapat memainkan peran besar dalam menentukan arah politik negara ke depan. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim sudah mengetahui siapa kandidat yang mungkin memimpin Iran berikutnya. Dalam wawancara dengan CBS News, Trump mengatakan ada sejumlah kandidat kuat untuk memimpin negara tersebut. “Saya tahu persis siapa orangnya, tetapi saya tidak bisa memberi tahu Anda,” kata Trump.

Dua Skenario Suksesi

Para pengamat menilai ada dua skenario yang mungkin terjadi setelah kematian Khamenei. Pertama, Majelis Pakar akan segera berkumpul untuk memilih pemimpin tertinggi baru dari sejumlah kandidat yang dianggap memenuhi syarat. Kedua, Iran kemungkinan akan dipimpin sementara oleh dewan transisi sampai pemimpin baru ditetapkan.

Melansir kantor berita IRNA, selama masa transisi negara akan dijalankan oleh dewan kepemimpinan yang terdiri dari presiden Iran, kepala lembaga peradilan, dan seorang anggota Dewan Penjaga Konstitusi. Dewan ini akan menjalankan tugas kepemimpinan sampai Majelis Pakar memilih pemimpin baru.

Kandidat yang Disebut Berpotensi Menggantikan Khamenei

Beberapa nama mulai disebut sebagai kandidat yang berpotensi menggantikan Khamenei. Jika skenario itu terjadi, kebijakan Iran terhadap Barat dan Israel diperkirakan akan menjadi jauh lebih keras.

  1. Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei

    Mojtaba Khamenei dikenal memiliki pengaruh kuat di balik layar pemerintahan Iran. Ia juga disebut memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Namun, suksesi dari ayah ke anak dinilai tidak populer di kalangan ulama Syiah Iran karena dianggap mirip sistem monarki yang pernah digulingkan pada Revolusi Iran 1979.

  2. Hassan Khomeini, cucu dari pendiri Republik Islam Iran Ruhollah Khomeini

    Hassan Khomeini dinilai memiliki legitimasi historis karena berasal dari keluarga revolusioner Iran, meskipun pengaruh politiknya tidak sekuat kandidat lain.

  3. Alireza Arafi, Wakil Ketua Majelis Pakar dan anggota Dewan Penjaga

    Arafi muncul sebagai kandidat “jalan tengah” yang paling dihormati secara intelektual. Sebagai Wakil Ketua Majelis Pakar sekaligus pemimpin sistem seminaris (Hawza) di seluruh Iran, Arafi memiliki kredibilitas keagamaan yang tak tertandingi.

  4. Mohammad Mehdi Mirbagheri, Ulama senior garis keras dan anggota Majelis Pakar

    Mirbagheri menjadi magnet utama bagi faksi yang menginginkan garis politik yang lebih agresif. Sebagai ideolog radikal yang sangat anti-Barat, Mirbagheri adalah representasi dari kelompok konservatif murni yang memandang konfrontasi dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai kewajiban ideologis.

  5. Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, Kepala Lembaga Peradilan Iran

    Eje’i adalah figur “tangan besi” yang selama ini menjadi orang kepercayaan Ali Khamenei untuk menjaga kepatuhan hukum di dalam negeri. Perannya semakin krusial karena ia menjabat sebagai anggota Dewan Transisi yang menjalankan roda pemerintahan sementara.

Pos terkait