Ancaman Penutupan Selat Hormuz Mengancam APBN

Aa1xltp3 9
Aa1xltp3 9

Dampak Konflik Timur Tengah pada Pasar Energi Global

Kemacetan di kawasan Timur Tengah telah memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas pasokan energi global. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah risiko penutupan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Pemerintah Indonesia melihat potensi dampak langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika situasi ini berlangsung.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Surjantoro, eskalasi konflik dapat menyebabkan kenaikan harga komoditas seperti minyak mentah Indonesia (ICP), batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan nikel. “Konflik di kawasan ini berpotensi berdampak pada peningkatan harga komoditas, tekanan inflasi, nilai tukar, suku bunga, serta aktivitas ekonomi secara parsial,” ujar Deni dalam pesan singkatnya.

Jika Selat Hormuz terganggu, harga minyak dunia bisa meningkat drastis. Hal ini tidak hanya akan memengaruhi pasar global, tetapi juga berdampak langsung pada dalam negeri, khususnya beban subsidi energi. Kenaikan harga minyak berisiko menambah tekanan belanja negara untuk menjaga harga BBM dan listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.

Meski demikian, pemerintah melihat sisi positif dari kenaikan harga komoditas ekspor utama. Batu bara, CPO, dan nikel yang harganya naik berpotensi memberi tambahan penerimaan negara atau windfall. Namun, tambahan tersebut harus seimbang dengan potensi lonjakan belanja energi.

Dari sisi perdagangan, dampak langsung konflik dinilai relatif terbatas. Nilai ekspor Indonesia ke negara-negara Teluk mencapai sekitar 8,7 miliar dolar AS, jauh lebih kecil dibandingkan total ekspor nasional yang mendekati 300 miliar dolar AS. “Dampak terhadap ekspor relatif terbatas, namun risiko penutupan Selat Hormuz tetap perlu diwaspadai,” kata Deni.

Pemerintah menegaskan komitmen menjaga defisit APBN tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Stabilitas fiskal penting agar program prioritas tetap berjalan dan daya beli masyarakat tidak terganggu.

Ke depan, pemerintah akan terus berkoordinasi dengan otoritas moneter dan sektor keuangan untuk meredam berbagai potensi risiko. Bagi masyarakat, yang paling terasa adalah bagaimana negara menjaga harga energi dan stabilitas ekonomi tetap aman di tengah gejolak global yang belum mereda.

Gangguan Pelayaran di Selat Hormuz

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mulai berdampak pada pasar energi dan distribusi barang global. Sejumlah kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan menghentikan perjalanan atau berbalik arah dari jalur strategis tersebut.

Perairan Selat Hormuz disebut “praktis tertutup” oleh media Iran, meskipun belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Teheran. Awak kapal mengaku menerima siaran radio yang memperingatkan pelayaran di wilayah tersebut tidak aman.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintas setiap hari. Gangguan pada jalur ini langsung memicu kekhawatiran pasar energi.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate sempat melonjak lebih dari 8 persen pada Sabtu malam waktu London. Pasar kini menunggu pembukaan perdagangan awal pekan untuk melihat respons lebih luas. Tak hanya minyak, kapal kontainer yang membawa barang konsumsi juga terdampak.

Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd AG dalam keterangan resminya menyatakan bahwa mereka menghentikan sementara pelayaran melalui Hormuz. Sementara itu, Nippon Yusen KK meminta armadanya menghindari jalur tersebut. Penumpukan kapal terlihat di kedua sisi selat. Beberapa pemilik kapal mempertimbangkan membatalkan kontrak dengan memanfaatkan klausul perang dalam perjanjian pelayaran.

Jika kondisi ini berlangsung lama, pasokan kapal di kawasan bisa menyusut dan tarif angkut melonjak. Kenaikan freight rate berpotensi merembet pada harga barang impor, mulai dari bahan baku industri hingga produk rumah tangga. Sementara itu, tertahannya pengiriman LNG dari Qatar juga menambah tekanan di pasar energi global.

Pos terkait