Ancaman siber Asia Pasifik menurun, tetapi semakin rumit dengan modus baru



Lanskap Ancaman Siber yang Semakin Kompleks dan Terarah

Penurunan jumlah serangan siber di sejumlah kawasan tidak serta-merta menandakan ancaman digital mereda. Justru, para pakar menilai lanskap serangan kini semakin kompleks dan terarah. Hal ini memaksa organisasi untuk meningkatkan kesiapan respons serta ketahanan sistem secara menyeluruh.

Jake Paulson, Deputi Head IBM X-Force Cyber Range menjelaskan bagaimana pelaku kejahatan siber beroperasi, serta bagaimana tim pertahanan mendeteksi, merespons, dan melawan serangan di balik layar—menghadirkan realitas ancaman siber modern secara lebih nyata. Menurutnya, kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mentransformasi cara berinovasi, tetapi juga secara fundamental mengubah cara kita memperkuat pertahanan.

“Dengan meningkatkan visibilitas, kecepatan, dan presisi di seluruh siklus keamanan, AI memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi ancaman, merespons secara real time, dan tetap selangkah lebih maju di tengah lanskap ancaman yang semakin kompleks dan terus berkembang,” ujar Jake pada Kamis (26/2).

Tren Serangan di Asia Pasifik

Pada 2024, Asia Pasifik berada di peringkat pertama dalam jumlah insiden siber, namun turun ke peringkat kedua pada 2025. Kawasan ini menyumbang 27% dari total insiden yang ditangani X-Force secara global. Di Asia Pasifik, pelaku serangan kerap menggunakan malware (45%), spam (15%), tool yang terlegitimasi (15%), dan akses server (10%) sebagai tindakan utama mereka dalam mencapai tujuan serangan.

Dampak utama dari serangan tersebut meliputi pencurian data (14%), reputasi merek (14%), dan pengumpulan kredensial (7%). Hal ini mencerminkan kerentanan sektor ini terhadap serangan yang menargetkan data sensitif dan gangguan operasional.

Kawasan Asia Pasifik terus menjadi episentrum insiden yang berkaitan dengan sektor manufaktur, menyumbang 68% dari total serangan. Di Asia Pasifik, sektor manufaktur tetap menjadi industri yang paling banyak menjadi sasaran, mewakili 65% insiden, diikuti oleh sektor keuangan dan asuransi (17%), serta transportasi (7%).

Pertumbuhan Pasar Cloud dan Kedaulatan Digital

Pasca-pandemi, pasar cloud yang berdaulat diproyeksikan tumbuh 4,5 kali lipat pada tahun 2028. Sementara itu, 80% perusahaan multinasional akan mengadopsi strategi data yang berdaulat pada 2027. Perusahaan yang menunda langkah tersebut berisiko kehilangan akses pasar, kepercayaan, dan daya saing pada momentum krusial.

Dalam konteks perusahaan, kedaulatan menggambarkan tingkat kendali organisasi atas aset digital. Termasuk data, perangkat lunak, konten, dan infrastruktur digital di seluruh operasionalnya. Perusahaan yang berdaulat melampaui sekadar kepatuhan terhadap regulasi serta membangun kepercayaan melalui transparansi dan kebijakan yang bertanggung jawab terkait data dan teknologi.

Kedaulatan digital dimulai dari tanggung jawab atas data. Siapa yang mengendalikannya, di mana data tersebut disimpan, dan bagaimana data itu dilindungi. Perusahaan harus bermitra dengan penyedia teknologi terpercaya yang mematuhi perkembangan regulasi data lokal dan standar tata kelola, serta memastikan kepemilikan data tetap berada pada pihak pembuatnya.

Kedaulatan Teknologi dan Keamanan Siber

Kedaulatan teknologi memperkuat ketahanan melalui ekosistem terbuka: Membangun ekosistem digital yang tangguh membutuhkan kemitraan teknologi yang memanfaatkan platform cloud yang terbuka, model AI terbuka, model AI yang lebih kecil dan sesuai kebutuhan, serta kerangka kerja keamanan siber di kelas perusahaan atau enterprise yang berbasis transparansi dan tata kelola bersama.

Kedaulatan digital menjadi suatu keharusan dalam keamanan siber di seluruh Asia Tenggara. Saat organisasi mengembangkan AI di tengah regulasi dan persyaratan data yang kompleks, kendali atas bagaimana data sensitif dan beban kerja AI diakses serta dijalankan tidak lagi bersifat opsional.

“Infrastruktur berdaulat yang siap AI memberikan tingkat keamanan, kepatuhan, dan kepastian yang dibutuhkan pelaku usaha untuk berinovasi dalam skala besar,” ujar Catherine Lian, General Manager dan Technology Leader IBM ASEAN.

Pos terkait