Anggaran Rp 1,2 Triliun Dibutuhkan, Penggantian PIPA PDAM Ditunda

Img 20240622 Wa0019 300x168 1
Img 20240622 Wa0019 300x168 1

Penundaan Penggantian Pipa PDAM Denpasar

Penggantian pipa Perumda Air Minum Tirta Sewakadharma atau PDAM Denpasar yang sudah tua dengan sistem Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) ditunda. Penundaan ini dilakukan berdasarkan kajian yang dilakukan dalam pra Feasibility Study atau pra FS. Hal itu diungkapkan oleh Dirut Perumda Air Minum Tirta Sewakadharma, Putu Yasa.

“Masih ditunda karena secara teknis belum bisa diimplementasikan,” kata Putu Yasa. Ia menjelaskan bahwa penundaan ini terkait dengan hasil kajian terkait finansial yang cukup tinggi sehingga belum dapat diimplementasikan. Awalnya anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 2,4 triliun. Setelah dilakukan kajian kembali, anggaran menjadi Rp 1,2 triliun. Meski begitu, angka tersebut menurutnya masih cukup besar.

“Dari sisi finansial cukup tinggi. Sudah dikaji secara teknis, dengan nilai besar berat ke depannya untuk melaksanakan itu,” imbuhnya. Sebagai gantinya, pihaknya melakukan penggantian pipa secara bertahap. Dimana pipa yang disasar adalah pipa tersier yang berada di hilir.

Program tersebut pun telah berjalan dan salah satunya menyasar pipa tersier yang berada di kawasan Perumnas Monang Maning. “Kami ambil jalan-jalan yang tersier, di gang-gang. Kemarin juga yang ada di Jalan Gunung Lebah,” paparnya. Untuk sasaran penggantian pipa selanjutnya, pihaknya masih menunggu kajian terkait daerah yang memerlukan penggantian.

“Harus dikaji juga daerahnya. Mana daerah yang pipanya umurnya tua, airnya kecil, itu yang diutamakan,” imbuhnya. Untuk diketahui, banyak pipa di Denpasar yang sudah berusia 50 tahun. Seperti halnya pipa di kawasan Jalan Antasura, Jalan Nangka, Jalan Veteran hingga Jalan Gajah Mada.

Sehingga keberadaan pipa yang sudah tua tersebut rawan kebocoran terutama di setiap sambungannya. Sementara itu, tingkat kebocoran air atau non revenue water (NRW) di Denpasar masih berada di atas rata-rata nasional. Standar NRW untuk rata-rata nasional adalah 25 persen. Meski demikian, NRW di Denpasar mengalami penurunan.

Tercatat NRW tahun 2025 sebesar 33,92 persen atau turun 0,58 persen dari tahun 2024. Dimana di tahun 2024, tingkat NRW berada di angka 34,5 persen. Putu Yasa mengatakan, penurunan tersebut merupakan hasil dari berbagai upaya perbaikan jaringan distribusi. Namun, ia mengakui tingkat kebocoran air di Denpasar masih tergolong tinggi. Salah satu penyebab utama tingginya NRW adalah kondisi pipa distribusi yang telah melampaui umur teknis.

“Selain faktor usia pipa, pekerjaan proyek saluran drainase yang menggunakan alat berat juga kerap memicu kebocoran pada jaringan pipa air bersih,” katanya.

Pemasangan Distrik Meter Area (DMA)

Selain penggantian pipa tersier, untuk menekan kebocoran juga dipasang Distrik Meter Area (DMA) yang telah menyasar kawasan Denpasar Barat. Ada 6 DMA yang dipasang dan merupakan hibah dari Pemerintah Korea Selatan melalui K-Water. Pemasangan DMA ini dilakukan untuk optimalisasi pelayanan pengaliran air termasuk mencegah kebocoran air karena tekanan air bisa terpantau.

Dengan DMA ini akan lebih mudah memantau pengaliran dan tekanan secara real time melalui Scada System serta dapat memonitor NRW atau tingkat kebocoran air di masing-masing blok DMA. “Pembuatan DMA ini adalah upaya untuk optimalisasi pelayanan, terutama pengaliran air dari SPAM Penet ke wilayah Denpasar Barat,” katanya.

Wilayah yang disasar pemasangan DMA ini adalah beberapa wilayah dilayani melalui SPAM Penet. “Korea memilih Denpasar karena petunjuk dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” imbuhnya. Selain itu, dipilihnya Denpasar juga dilihat dari Non Revenue Water (NRW) atau tingkat kebocoran yang cukup tinggi.


Pos terkait