Anggota DPRD Garut Temukan Emak Ocih Tinggal di Rumah Tidak Layak

Lansia
Lansia

Kehadiran Anggota DPRD Kabupaten Garut untuk Emak Ocih

Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, melakukan kunjungan ke rumah Emak Ocih di Kampung Cipondok, RT 01 RW 05, Desa Lebakagung, Kecamatan Karangpawitan, pada Kamis (26/02/2026). Di lokasi tersebut, Emak Ocih menjalani hidupnya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Lantai tanah yang lembap, dinding yang rapuh, dan atap yang tidak lagi kokoh menjadi saksi bisu perjuangan seorang ibu yang kini hidup dalam kategori miskin ekstrem.

Kunjungan ini tidak hanya sekadar seremonial, tetapi bentuk empati dan ikhtiar mencari solusi nyata. Yudha didampingi oleh Camat Karangpawitan Anas Aulia Malik dan Kepala Desa Lebakagung, Oman. Dalam kunjungannya, ia menyerahkan bantuan sembako sebagai langkah awal untuk meringankan beban kebutuhan harian Emak Ocih. Namun bagi Yudha, bantuan sesaat tidak cukup, karena yang dibutuhkan adalah solusi berkelanjutan.

“Pemerintah desa sebenarnya ingin mengalokasikan bantuan rutilahu, namun terkendala karena rumah ini berdiri di atas tanah milik orang lain,” ungkap Yudha di sela kunjungan.

Meskipun demikian, pengurus RW bersama Kepala Desa tengah berikhtiar mencarikan lahan alternatif yang nantinya akan dimusyawarahkan bersama warga. Semangat gotong royong di Kampung Cipondok diharapkan menjadi kekuatan utama untuk membangun kembali tempat tinggal yang layak bagi Emak Ocih.

Secara administratif, Emak Ocih tercatat dalam desil 1 berdasarkan keterangan Pendamping Linjamsos. Ia telah menerima bantuan BPNT, BLT Ketahanan Pangan (Ketara), serta BLT Dana Desa. Namun realitas di lapangan menunjukkan bantuan tersebut belum mampu mengangkatnya dari jurang kemiskinan ekstrem.

Kisah hidup Emak Ocih pun sarat ujian. Suaminya telah wafat hampir dua tahun lalu. Dari beberapa anaknya, hanya satu yang tinggal bersamanya, yakni Hikmat, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh menjahit sarung tangan kulit dengan upah Rp 35.000 per hari, dan penghasilan yang tentu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup layak.

“Sedangkan anak-anak lainnya telah berumah tangga dan tinggal terpisah di berbagai daerah, sementara satu anaknya, Agus Nurjaman, telah lebih dahulu meninggal dunia,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, Yudha menegaskan perlunya kolaborasi pendanaan lintas sektor. Ia mendorong Pemerintah Kecamatan hingga Pemerintah Kabupaten Garut untuk menghadirkan skema bantuan terpadu, termasuk menggandeng dana CSR perusahaan serta dukungan dari Baznas.

Menurutnya, program seperti “Garut Makmur” dari Baznas dapat menjadi pintu masuk pemberdayaan ekonomi. Selain pembangunan rumah, juga harus memikirkan kewirausahaan. Emak Ocih perlu didorong agar bisa berjualan keliling atau memiliki usaha kecil, sehingga ada penghasilan tambahan yang berkelanjutan.

Yudha menekankan pentingnya peran dunia usaha di Kabupaten Garut untuk turut serta membantu warga miskin ekstrem melalui dana CSR, termasuk perbankan daerah dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Garut. Kolaborasi inilah yang diyakini mampu mempercepat penanganan kemiskinan secara konkret.

“Selaku wakil rakyat, harapan saya budaya gotong royong bisa diperkokoh. Tidak perlu saling menyalahkan. Hari ini kita ikhtiar bersama-sama. Pemerintah Desa Lebakagung pun siap mengalokasikan Dana Desa ketika status tanah sudah jelas,” tegasnya.

Kisah Emak Ocih adalah potret kecil dari pekerjaan besar yang masih menanti. Namun dari rumah sederhana di Kampung Cipondok itu, pesan kuat menggema, kemiskinan ekstrem bukan hanya soal angka statistik, melainkan tentang kemanusiaan. Dan ketika empati, gotong royong, serta kolaborasi pendanaan berpadu, harapan selalu menemukan jalannya.


Pos terkait