Apakah Perang di Iran akan Naikkan Harga Minyak ke US$ 100?

Aa1hdjcf
Aa1hdjcf

Serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran dan Dampaknya terhadap Pasar Minyak Dunia

Serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang berdampak langsung pada pasar minyak dunia. Banyak analis mengkhawatirkan kemungkinan kenaikan besar-besaran harga minyak, dengan potensi harga mencapai hingga US$ 100 per barel.

Meskipun Iran hanya bertanggung jawab atas 3-4% produksi minyak global, posisinya yang dekat dengan Selat Hormuz, salah satu jalur paling penting dalam rantai pasokan minyak dunia, membuat para analis meningkatkan proyeksi harga minyak di masa depan. Gangguan jangka panjang terhadap lalu lintas di selat tersebut, yang menjadi jalur transportasi sekitar 25% produksi minyak dunia, dapat menyebabkan kenaikan harga minyak melebihi US$ 100 per barel. Kenaikan ini bisa berdampak buruk bagi ekonomi global dan memperparah inflasi yang sulit dikendalikan.

Harga minyak telah mengalami kenaikan tajam dalam beberapa bulan terakhir menjelang konflik terbaru di wilayah kaya minyak tersebut. Para pedagang khawatir akan dampak serangan militer potensial terhadap Iran. Harga minyak Brent naik menjadi sekitar US$ 73 per barel pada 27 Februari. Untuk menenangkan pasar, kelompok produsen minyak OPEC+ sepakat untuk meningkatkan produksi mulai April.

Iran dan Produksi Minyaknya

Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak per hari (bpd), menjadikannya produsen minyak terbesar keempat di OPEC. Negara ini juga merupakan salah satu produsen gas alam terbesar di dunia. Menurut data Badan Informasi Energi (EIA), Iran memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, yang mencakup sekitar 12% dari total cadangan minyak dunia. Namun, produksinya tetap terbatas karena kurangnya investasi dan sanksi internasional.

Iran berhasil menghindari sanksi Barat dan kini menjual 90% minyak ekspornya ke Cina. Berkat permintaan dari Cina, Iran meningkatkan produksi minyak mentahnya sekitar 1 juta barel per hari (bpd) dari 2020 hingga 2023. Meskipun ekonomi Iran lebih beragam dibandingkan banyak negara di Timur Tengah yang bergantung pada minyak, ekspor energi tetap menjadi sumber pendapatan utama. Pada 2023, perusahaan minyak Iran memperoleh sekitar US$ 53 miliar dari pendapatan ekspor minyak bersih, menurut perkiraan EIA.

Pentingnya Selat Hormuz

Selat Hormuz adalah rute pengiriman minyak utama yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini terletak antara Iran dan Oman. Volume besar minyak mentah yang diproduksi di wilayah tersebut oleh negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, serta dikonsumsi secara global, mengalir melalui selat ini.

Iran telah berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut, namun belum pernah menindaklanjuti ancaman tersebut karena risiko respons internasional yang cepat. Di tengah perang yang sedang berlangsung, lalu lintas melalui Selat Hormuz telah terhenti secara efektif. Beberapa pengangkut dan pedagang minyak menghentikan pengiriman energi melalui jalur air tersebut akibat kekhawatiran keamanan.

Hal ini berpotensi menghambat 15 juta barel per hari (bpd) minyak mentah — sekitar 30% dari perdagangan minyak mentah laut global — mencapai pasar. Rystad Energy memperkirakan dunia akan kehilangan pasokan minyak mentah sekitar 8-10 juta bpd jika infrastruktur alternatif digunakan untuk menghindari aliran melalui Selat Hormuz.

Penyesuaian Produksi oleh OPEC+

OPEC+, yang merupakan aliansi antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang dipimpin oleh Arab Saudi dan beberapa produsen minyak lainnya termasuk Rusia, mengumumkan peningkatan kuota produksi yang lebih besar dari perkiraan. Kelompok tersebut akhirnya menaikkan produksi melebihi perkiraan awal, namun tidak melakukan kenaikan yang lebih signifikan, menunjukkan dilema antara merespons risiko geopolitik jangka pendek dan menghindari kelebihan pasokan pada akhir tahun ini.

Jika aliran minyak melalui Teluk dibatasi, Leon memperkirakan produksi tambahan hanya akan memberikan bantuan sementara yang terbatas, sehingga akses ke rute ekspor menjadi jauh lebih penting daripada target produksi utama.

Dampak Kenaikan Harga Minyak terhadap Ekonomi Global

Dampak terhadap ekonomi global akan sangat bergantung pada seberapa tinggi harga minyak akan naik dari sini. Minyak mentah adalah unit ekonomi utama, sehingga kenaikan harga minyak akan mendorong kenaikan harga barang-barang lain. Sebagai pedoman umum, kenaikan harga minyak sebesar 5% secara tahunan biasanya menambah sekitar 0,1 poin persentase pada inflasi rata-rata di negara besar. Jadi, kenaikan harga Brent menjadi US$ 100 per barel bisa menambah 0,6-0,7 poin persentase pada inflasi global.

Inflasi yang lebih tinggi dapat menekan kepercayaan konsumen secara keseluruhan dan pengeluaran. Bank sentral juga mungkin menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

Pos terkait