Aparat Tembak Mati Anggota OPM di Mile 69 Freeport Mimika, Amankan Enam Orang

Aa1xp4ti 1
Aa1xp4ti 1

Kontak Tembak di Area Tambang Freeport

Pada Senin (2/3/2026) sekitar pukul 18:00 WIT, terjadi kontak tembak antara aparat TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Rajawali 4 dengan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dipimpin oleh Jeki Murib. Peristiwa tersebut berlangsung di Mile 69, Area Tambang PT Freeport Indonesia, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

Dalam insiden ini, satu anggota OPM tewas ditembak oleh aparat. Selain itu, enam orang lainnya yang diduga sebagai anggota OPM berhasil ditangkap. Mereka memiliki inisial DY, NM, YA, MK, YK, dan NK. Identitas korban tewas masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.

Barang Bukti yang Disita

Dari aksi baku tembak tersebut, aparat berhasil menyita berbagai barang bukti yang menunjukkan aktivitas ilegal kelompok OPM. Barang bukti yang disita meliputi:

  • Uang tunai sebesar Rp4,7 juta
  • Busur panah
  • Senapan angin
  • Bendera Bintang Kejora
  • Pistol rakitan
  • Magazen
  • 3 butir amunisi kaliber 9,9 mm

Barang bukti ini menjadi bukti nyata adanya kegiatan yang tidak sah oleh kelompok OPM di kawasan tambang PT Freeport Indonesia.

Proses Penyelidikan Lebih Lanjut

Enam terduga anggota OPM yang ditangkap dibawa ke Komando Rayon Militer (Koramil) 1710-04/Tembagapura untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Dalam waktu dekat, para terduga akan dibawa ke Komando Distrik Militer (Kodim) 1710/Mimika guna proses hukum yang lebih lanjut.

Hingga berita ini dirilis, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai insiden ini. Aparat masih berupaya melakukan konfirmasi dan memastikan bahwa semua prosedur hukum telah dijalankan secara benar dan transparan.

Situasi Terkini

Insiden kontak tembak ini menunjukkan bahwa situasi di wilayah Papua masih rentan terhadap aktivitas kelompok yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia. Kehadiran aparat TNI di kawasan tambang seperti Freeport sangat penting untuk menjaga stabilitas dan keamanan wilayah.

Selain itu, perlu adanya koordinasi yang lebih baik antara pihak militer dan lembaga pemerintahan setempat agar dapat mencegah terulangnya kejadian serupa. Pemantauan dan pengawasan terhadap aktivitas kelompok OPM harus terus dilakukan guna memastikan keamanan masyarakat dan keberlanjutan operasi bisnis di area tambang.

Sampai saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai kondisi terkini para terduga OPM atau rencana tindakan selanjutnya dari pihak berwenang. Masyarakat dan media tetap menantikan keterangan resmi dari pihak terkait.

Pos terkait