Apindo: Sektor Ini Paling Rentan Hadapi Tarif AS

Aa1xiczr
Aa1xiczr



Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyatakan bahwa sektor industri padat karya menjadi yang paling rentan terhadap dampak dari tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). Hal ini disebabkan oleh tingginya eksposur sektor tersebut terhadap pasar AS.

Menurut Shinta, berdasarkan data ekspor, beberapa komoditas menunjukkan ketergantungan yang signifikan terhadap pasar AS. Contohnya adalah pakaian dan aksesori pakaian rajutan yang mencatat sekitar 61 persen ekspor ke AS, furnitur dan lampu sekitar 59 persen, olahan daging/ikan/krustasea sekitar 56 persen, serta produk kulit sekitar 56 persen. Sementara itu, untuk pakaian non-rajutan, proporsinya sekitar 49 persen, mainan dan perlengkapan olahraga sekitar 45 persen, dan alas kaki sekitar 33 persen.

Shinta menjelaskan bahwa angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan tarif akan langsung berdampak pada pemesanan, utilisasi kapasitas produksi, dan arus kas perusahaan. Dampaknya, kata Shinta, bisa memengaruhi penyerapan tenaga kerja.

Selain itu, Shinta menilai penting untuk memperhatikan posisi negara-negara lain di kawasan dalam menghadapi kesepakatan tarif. Dengan tarif resiprokal sebesar 19 persen, Indonesia saat ini setara dengan Thailand, Malaysia, dan Filipina yang juga memiliki kisaran tarif serupa. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa India kini memiliki tarif yang lebih rendah, sekitar 18 persen, sehingga secara umum, India sedikit lebih kompetitif dari sisi tarif.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump telah menandatangani dokumen kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington D.C, Jumat pagi, 20 Februari 2026 waktu Indonesia. Dalam dokumen ART ini, ada 1.819 produk pertanian dan industri yang mendapat tarif nol persen atau dibebaskan dari tarif masuk ke AS. Di antaranya adalah minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang.

Amerika juga akan memberikan tarif nol persen bagi produk tekstil dan pakaian, dengan mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ). “Khusus untuk produk tekstil dan apparel Indonesia, Amerika juga akan memberikan tarif nol persen dengan mekanisme tariff rate quota atau TRQ,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melalui konferensi pers daring pada Jumat pagi, 20 Februari 2026.

Beberapa poin penting dalam kesepakatan ini antara lain:

Penurunan tarif untuk produk-produk strategis yang selama ini menghadapi hambatan ekspor ke AS.

Peningkatan akses pasar bagi sektor-sektor unggulan Indonesia seperti tekstil, pertanian, dan elektronik.

* Mekanisme TRQ yang dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen lokal dan akses pasar internasional.

Kesepakatan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, terutama di AS. Namun, para pelaku usaha tetap memantau dampak jangka panjang terhadap sektor padat karya yang sangat bergantung pada ekspor.

Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pos terkait