Aplikasi Pakar Informatika Deteksi 3 Hotspot Karhutla di Kampar

Deteksi Tiga Titik Panas di Kampar oleh Aplikasi Riau Karhutla Watch

Aplikasi Riau Karhutla Watch (RKW) berhasil mendeteksi tiga titik panas (hotspot) di wilayah Kampar pada hari Minggu, 1 Maret 2026. Pemantauan ini dilakukan melalui sistem teknologi canggih yang dikembangkan oleh Assoc. Prof. Dr. Rahmad Kurniawan, seorang ahli informatika yang juga menjadi penemu aplikasi tersebut.

Dari ketiga titik panas yang terdeteksi, dua di antaranya memiliki tingkat kepercayaan kuat bahwa terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut Prof. Rahmad, salah satu titik panas terletak dekat Simpang Kubu, sedangkan yang lainnya berada di kawasan Gunung Malelo.

Hotspot terkuat tercatat di dekat Simpang Kubu Kecamatan Kampar. Tingkat kepercayaan untuk titik ini cukup tinggi, dengan nilai Fire Radiative Power (FRP) sebesar 16,97. “Confidence nominal, saya anggap masih cukup valid,” ujarnya.

Sementara itu, hotspot di Gunung Malelo memiliki FRP yang lebih rendah, yaitu sebesar 7,4. Meskipun demikian, kondisi cuaca di lokasi tersebut tetap memperhatikan potensi risiko kebakaran. Suhu di area ini mencapai 33 derajat Celsius dengan kelembapan relatif (Relative Humidity/ RH) sebesar 44 persen.

Teknologi Pendukung Pemantauan Hotspot

Hotspot yang terdeteksi berasal dari data satelit NOAA-20/VIIRS. Menurut Prof. Rahmad, VIIRS memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan MODIS, serta resolusi gambar yang lebih baik. VIIRS adalah singkatan dari Visible Infrared Imaging Radiometer Suite, sebuah alat pemantau yang digunakan oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

MODIS, singkatan dari Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer, merupakan satelit yang dikelola sepenuhnya oleh NASA. Dengan penggunaan teknologi ini, deteksi hotspot dapat dilakukan secara akurat dan cepat, membantu pihak terkait dalam mengambil tindakan preventif.

Kondisi Cuaca yang Mendorong Risiko Karhutla

Kondisi cuaca di lokasi hotspot sangat memengaruhi potensi terjadinya karhutla. Di dekat Simpang Kubu, suhu mencapai 34,4 derajat Celsius dengan RH sebesar 40 persen. Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan rendah ini cenderung mempercepat proses pengeringan tanah dan vegetasi, sehingga meningkatkan risiko kebakaran.

Sementara itu, di daerah Gunung Malelo, meskipun suhu dan FRP lebih rendah, RH yang mencapai 44 persen menunjukkan bahwa kondisi lingkungan tetap rentan terhadap kebakaran. Hal ini menunjukkan bahwa meski tidak semua hotspot langsung berubah menjadi api, potensi bahaya tetap ada.

Langkah Preventif yang Dilakukan

Prof. Rahmad telah memberitahu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kampar tentang adanya hotspot tersebut. Ia menegaskan bahwa BPBD atau aparat kepolisian adalah pihak yang bisa langsung melakukan verifikasi di lapangan.

Selain itu, ia juga telah memberikan peringatan dini terkait cuaca panas pada hari Minggu, 3 Januari 2026. “Ternyata benar terjadi,” ujarnya.

Kesimpulan

Pemantauan melalui aplikasi Riau Karhutla Watch (RKW) menjadi langkah penting dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Dengan dukungan teknologi satelit seperti VIIRS dan MODIS, serta analisis kondisi cuaca, upaya pencegahan dapat dilakukan lebih dini. Namun, kolaborasi antara pihak teknis dan pemerintah setempat tetap menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi ancaman karhutla.


Pos terkait